Aku baru saja memikirkanmu ketika kau muncul dalam pembaruan
Aku merasa jatuh cinta dengan cara yang terlalu kekinian
Cinta yang digital,
Semuanya menjadi sangat lucu cenderung gila
Hampir setiap saat aku memikirkanmu, selalu..
Apakah selamanya, tentang dirimu harus tetap maya?
Kenapa kau tinggalkan aku dalam kesulitan ini?
Bagaimana aku harus bersikap lagi?
Kau bungkam tak mau sedikit pun bergeming
Ini sangat menyakitkan bagiku, sungguh!
Menahan diri untuk tidak menghubungimu..
Lebih sulit daripada mempertahankan obrolan ketika bicara denganmu..
Sekarang bagaimana, masih bolehkah aku berharap padamu?
Kamis, 05 Mei 2016
Selasa, 26 April 2016
Suratku II: Teruntuk Pria Ambigu
Aku menulis ini dengan sadar bahwa aku hanya perempuan
Maafkan aku yang lancang
Perasaanku begitu egois hingga tak dapat kucegah..
Mencarimu kemana".. Memikirkanmu setiap saat.. Menghubungimu tiap waktu.. Bahkan mungkin telah mengganggumu..
Perasaanku begitu egois.. Tak berpikir apakah pantas, karena aku hanya perempuan..
Sejauh mana boleh aku berpikir, berkata", dan berbuat untuk mendapat perhatianmu saja..
Begitu egoisnya.. Sampai tak mampu kucegah untuk merasa girang bila kau bertanya saja.. Tak juga mampu kucegah untuk merasa kecewa jika suatu waktu kau acuh, menjadi pendiam, bahkan tak mau bicara padaku lagi.. Padahal, memangnya aku siapa? Lalu, takkan bisa kucegah air mata jatuh.. Aku tak tau, pada bagian mana aku telah salah bicara padamu.. Tapi aku tak pernah berhenti memikirkan itu.. Hingga kini, saat mungkin saja kau sudah bosan..
Maafkan perasaanku yang egois.. Tak kuasa kucegah untuk mencari tau tentangmu, berusaha untuk dapat bertemu denganmu, mencari alasan untuk bicara denganmu, dan menghabiskan waktuku untuk mengagumimu..
Maafkan perasaanku yang egois.. Tak dapat aku hentikan sampai saat ini.. Tak dapat aku hentikan untuk berharap padamu.. Meskipun aku tau sejak awal, harapan itu sangat jauh.. Tapi tetap saja aku berharap dan berusaha mendapat perhatianmu saja..
Maafkan perasaanku, ia sangat egois.. Hanya ingin memilih untuk mendapatkanmu, seolah tak ada pilihan lain dalam hidupku.. Sangat buntu, sangat kaku, tak mau mencari jalan lain, tak mau memilih cinta lain..
Aku akan biarkan keegoisan perasaanku ini, terbakar amarahnya sendiri.. Meski menyakitkan, dan tidak dapat dalam waktu yang singkat.. Perlahan saja.. Perasaan itu akan menjadi abu termakan keegoisannya.. Jika suatu ketika surat ini sampai padamu, maukah kau menanyakan kabar perasaanku yang egois ini? Karena mungkin saja, ia masih kuat bertahan bersama dengan keyakinan untuk mendapatkanmu..
Maafkan aku yang lancang
Perasaanku begitu egois hingga tak dapat kucegah..
Mencarimu kemana".. Memikirkanmu setiap saat.. Menghubungimu tiap waktu.. Bahkan mungkin telah mengganggumu..
Perasaanku begitu egois.. Tak berpikir apakah pantas, karena aku hanya perempuan..
Sejauh mana boleh aku berpikir, berkata", dan berbuat untuk mendapat perhatianmu saja..
Begitu egoisnya.. Sampai tak mampu kucegah untuk merasa girang bila kau bertanya saja.. Tak juga mampu kucegah untuk merasa kecewa jika suatu waktu kau acuh, menjadi pendiam, bahkan tak mau bicara padaku lagi.. Padahal, memangnya aku siapa? Lalu, takkan bisa kucegah air mata jatuh.. Aku tak tau, pada bagian mana aku telah salah bicara padamu.. Tapi aku tak pernah berhenti memikirkan itu.. Hingga kini, saat mungkin saja kau sudah bosan..
Maafkan perasaanku yang egois.. Tak kuasa kucegah untuk mencari tau tentangmu, berusaha untuk dapat bertemu denganmu, mencari alasan untuk bicara denganmu, dan menghabiskan waktuku untuk mengagumimu..
Maafkan perasaanku yang egois.. Tak dapat aku hentikan sampai saat ini.. Tak dapat aku hentikan untuk berharap padamu.. Meskipun aku tau sejak awal, harapan itu sangat jauh.. Tapi tetap saja aku berharap dan berusaha mendapat perhatianmu saja..
Maafkan perasaanku, ia sangat egois.. Hanya ingin memilih untuk mendapatkanmu, seolah tak ada pilihan lain dalam hidupku.. Sangat buntu, sangat kaku, tak mau mencari jalan lain, tak mau memilih cinta lain..
Aku akan biarkan keegoisan perasaanku ini, terbakar amarahnya sendiri.. Meski menyakitkan, dan tidak dapat dalam waktu yang singkat.. Perlahan saja.. Perasaan itu akan menjadi abu termakan keegoisannya.. Jika suatu ketika surat ini sampai padamu, maukah kau menanyakan kabar perasaanku yang egois ini? Karena mungkin saja, ia masih kuat bertahan bersama dengan keyakinan untuk mendapatkanmu..
By:
Anak Agung Sri Nandini
On 16.28
Suratku: Teruntuk Pria Ambigu
Aku menulis ini dengan sadar bahwa aku hanya perempuan..
kisah yang klasik
yang sudah berkali" aku alami
sayangnya tetap saja aku ulangi
yang berbeda kali ini hanyalah
bahwa aku tidak pernah bertemu denganmu
jika boleh aku ketahui
adakah hatimu sudah dimiliki?
siapa gadis yang kau tunggu?
apakah kau sedang..
bersungguh" menyukai seseorang
dan tidak bisa menoleh siapapun lagi?
begitu juga yang sudah kualami..
tapi disaat bersamaan, aku kehilangan org yang sungguh" padaku
dan org yang aku tunggu pun, akhirnya tidak bersamaku
aku hanya ingin memastikan..
apakah kau sungguh tidak ingin menoleh sama skali?
dan membiarkan dirimu kehilangan orang yang sungguh" padamu?
kata orang, jangan menunggu bulan jatuh
menunggu hal yang tak mungkin..
agar dapat kuputuskan utk tetap berjuang atau mundur..
dengan melepaskan segala perasaan canggung dan malu layaknya perempuan
yang hanya bisa menunggu
aku ingin mengatakan
harapanku jika masih mungkin, aku ingin kau memalingkan wajahmu, berhenti menunggu gadis pujaanmu itu, karena ada seseorang yang bersungguh" padamu
dan orang itu adalah aku
iya.. aku sudah menyukaimu
kisah yang klasik
yang sudah berkali" aku alami
sayangnya tetap saja aku ulangi
yang berbeda kali ini hanyalah
bahwa aku tidak pernah bertemu denganmu
jika boleh aku ketahui
adakah hatimu sudah dimiliki?
siapa gadis yang kau tunggu?
apakah kau sedang..
bersungguh" menyukai seseorang
dan tidak bisa menoleh siapapun lagi?
begitu juga yang sudah kualami..
tapi disaat bersamaan, aku kehilangan org yang sungguh" padaku
dan org yang aku tunggu pun, akhirnya tidak bersamaku
aku hanya ingin memastikan..
apakah kau sungguh tidak ingin menoleh sama skali?
dan membiarkan dirimu kehilangan orang yang sungguh" padamu?
kata orang, jangan menunggu bulan jatuh
menunggu hal yang tak mungkin..
agar dapat kuputuskan utk tetap berjuang atau mundur..
dengan melepaskan segala perasaan canggung dan malu layaknya perempuan
yang hanya bisa menunggu
aku ingin mengatakan
harapanku jika masih mungkin, aku ingin kau memalingkan wajahmu, berhenti menunggu gadis pujaanmu itu, karena ada seseorang yang bersungguh" padamu
dan orang itu adalah aku
iya.. aku sudah menyukaimu
By:
Anak Agung Sri Nandini
On 16.26
Selasa, 15 Maret 2016
Ambigu
Kau adalah ambigu
Bicaramu seakan tak mau
Tapi di sela waktu padatmu
Kau curikan secuil untukku
Kau adalah ambigu
Bahasamu seakan kesal akanku
Tapi diantara kalimatmu
Kau selipkan sepotong tawa bagiku
Sungguh.. Kau adalah ambigu
Kukira kau terganggu
Tidak, katamu
Kukira kau senang
Tidak kubertanya, tapi kuharap iya..
Bisakah aku bertanya?
Aku bisa.. Hanya takut
Meski hampir gila aku dibuat
Oleh ambigumu
By:
Anak Agung Sri Nandini
On 06.05
Minggu, 06 Maret 2016
Saling Menghargai : Konsep Umat Hindu di Bali
Jaman sudah modern. Tidak ada bedanya lagi anak keturunan raja, brahmana ataupun rakyat jelata. Yang berbeda kini orang kaya atau orang miskin. Dahulu bangsa Sudra harus "meletakkan" bangsa Ksatria dan Brahmana di atas kepala mereka. Keto kone.. tapi konsep yang diterapkan dahulu itupun sesungguhnya bukan begitu. Bicara soal "kasta" di Bali. Bukan, sesungguhnya bukan "kasta". Ajaran "kasta" tidak ada dalam sastra Hindu, sesungguhnya yang ada hanya wangsa dan warna. "Kasta" hanya salah tafsir masyarakat Hindu di Bali pada jaman dahulu. Kedudukan Brahmana, Raja, Weisya, dan rakyat jelata diurutkan secara vertikal, padahal sesungguhnya semuanya memiliki kedudukan yang horizontal. Tidak ada yang lebih tinggi, juga tidak ada yang lebih rendah atau lebih nista. Saat ini tidak berlaku lagi "kasta", iya memang seharusnya begitu dari dulu. Jika seseorang bekerja di bidang pendidikan dan seni maka ia Brahmana, yang bekerja di bidang pemerintahan ialah Ksatria, yang melakukan pekerjaan pedagang ialah Weisya, dan yang membantu pekerjaan-pekerjaan itu ialah Sudra. Demikian jika ada Anak Agung, Gusti, Ida Bagus, Cokorda, Dewa, hanya nama yang menunjukkan berasal dari keturunan mana, tetapi tetap saja kedudukan kita semua sama. Jadi.. dadi me-cang/cai? (bicara kasar/menggunakan basa kapara). Tidak, bukan begitu. Sebaliknya mereka dari wangsa Ksatria dan Brahmana bolehkah bicara kasar pada wangsa yang "dianggap" berkedudukan dibawahnya? tidak! lebih salah lagi.
Mungkin banyak orang *maaf* sudra yang menganggap tidak adil adanya kedudukan-kedudukan, lalu memilih melupakan dan menghapus konsep tersebut. Sekali lagi, jaman sudah modern, dan memang seharusnya tidak ada konsep "kasta", jangan gunakan lagi! Tetapi, ini bukan ajang balas dendam. Bukan berarti kita lupa diri, beberapa orang justru menjadi campah, mulai bicara dan berbuat asal-asalan. Jika kita bisa belajar lebih bijak, konsep itu memberi pelajaran bagi kita semua untuk saling menghargai dan menunjukkan bahwa kita semua saling membutuhkan satu sama lain.
Sebaliknya tidak sedikit juga orang dari keturunan Brahmana dan Ksatria yang merasa berkedudukan tinggi, dan tak mau meninggalkan konsep yang "keliru" itu. Tidak seharusnya kita menunjukkan nama dan kedudukan kita, apalagi yang di era ini sudah tidak berlaku. Jika ingin maka tunjukkanlah sikap yang menggambarkan kebijaksanaan, wibawa sehingga kita dapat dihargai, dan tentunya kita harus selalu menghargai orang lain tanpa melihat orang berasal dari keturunan mana. Justru jika merasa sebagai orang yang "berkulit" harusnya kita lebih menjaga nilai, karena apabila kita melakukan kesalahan kecil saja, nilai yang berkurang dalam diri akan jauh lebih besar.
Sebagai orang Bali, saudara seumat Hindu, kita harus menyatukan persepsi. Mari berbuat saling menghargai, dengan bijak menerima ajaran leluhur yang telah diturunkan sampai kini, jangan justru saling menjelekkan, sama saja mencoret muka sendiri. Tulisan ini hanya sebagai klarifikasi apabila ada yang salah tafsir tentang konsep warna dan wangsa. Terima kasih sudah berkunjung ^^
Mungkin banyak orang *maaf* sudra yang menganggap tidak adil adanya kedudukan-kedudukan, lalu memilih melupakan dan menghapus konsep tersebut. Sekali lagi, jaman sudah modern, dan memang seharusnya tidak ada konsep "kasta", jangan gunakan lagi! Tetapi, ini bukan ajang balas dendam. Bukan berarti kita lupa diri, beberapa orang justru menjadi campah, mulai bicara dan berbuat asal-asalan. Jika kita bisa belajar lebih bijak, konsep itu memberi pelajaran bagi kita semua untuk saling menghargai dan menunjukkan bahwa kita semua saling membutuhkan satu sama lain.
Sebaliknya tidak sedikit juga orang dari keturunan Brahmana dan Ksatria yang merasa berkedudukan tinggi, dan tak mau meninggalkan konsep yang "keliru" itu. Tidak seharusnya kita menunjukkan nama dan kedudukan kita, apalagi yang di era ini sudah tidak berlaku. Jika ingin maka tunjukkanlah sikap yang menggambarkan kebijaksanaan, wibawa sehingga kita dapat dihargai, dan tentunya kita harus selalu menghargai orang lain tanpa melihat orang berasal dari keturunan mana. Justru jika merasa sebagai orang yang "berkulit" harusnya kita lebih menjaga nilai, karena apabila kita melakukan kesalahan kecil saja, nilai yang berkurang dalam diri akan jauh lebih besar.
Sebagai orang Bali, saudara seumat Hindu, kita harus menyatukan persepsi. Mari berbuat saling menghargai, dengan bijak menerima ajaran leluhur yang telah diturunkan sampai kini, jangan justru saling menjelekkan, sama saja mencoret muka sendiri. Tulisan ini hanya sebagai klarifikasi apabila ada yang salah tafsir tentang konsep warna dan wangsa. Terima kasih sudah berkunjung ^^
By:
Anak Agung Sri Nandini
On 22.04
Perempuan Menanti Pagi
Selamat datang mentari
Pagi telah kembali
Aku belum pernah semangat ini
Beranjak dari mimpi, lalu...
Mengingatmu sepanjang hari
Selamat pagi kekasih
Hari telah berganti
Baru saja kau hadir dalam mimpi
Kini dalam hidup
Pun aku selalu merindu
Sudahkah kau jatuh cinta padaku pagi ini?
Pada suatu pagi yang selalu kunanti
Kau kan katakan tanpa kutanyakan lagi
Hingga kini ku masih hanya bermimpi
Aku, perempuan menanti pagi
Pagi telah kembali
Aku belum pernah semangat ini
Beranjak dari mimpi, lalu...
Mengingatmu sepanjang hari
Selamat pagi kekasih
Hari telah berganti
Baru saja kau hadir dalam mimpi
Kini dalam hidup
Pun aku selalu merindu
Sudahkah kau jatuh cinta padaku pagi ini?
Pada suatu pagi yang selalu kunanti
Kau kan katakan tanpa kutanyakan lagi
Hingga kini ku masih hanya bermimpi
Aku, perempuan menanti pagi
By:
Anak Agung Sri Nandini
On 21.13
Rabu, 03 Februari 2016
Monolog Kisah Bung Karno
oke.. sebenernya monolog ini gua tulis udah lama banget gengs.. waktu itu gua dipanggil sama guru Bahasa Indonesia gua, jadi ceritanya gua diminta buat tampil teater monolog di acara peringatan kelahiran Bung Karno. Saat itu gua gak langsung nyanggupin, alnya sebenernya gue ikut paduan suara di acara yang sama juga. 2 hari sebelum acara gua dipanggil lagi, dan ternyata guru padus gua juga yang nyaranin gua buat ikutan teater monolog itu, so gua mesti nulis monolog Bung Karno. semaleman gua streaming youtube nyari kisah Bung Karno buat refrensi nulis.. dan akhirnya jengjeengg... ini dia monolog tentang kisah Bung Karno, semoga kalian suka yeah...
Syukur: Bangun
Saudaraku
Halo, saudaraku semua!
Hayyy….. Oiiiiiyyy, saudaraku..!! Hay kamu semua, tidak ada hendak menyahut
aku? Bah aduhh, gawat! Kemana kamu semua saudaraku, sudah bangun kamu sudah
bangun? Hehehehe… aku cuma hendak cerita, eee mau dengar? Mau? Aduh dari mana
ya? (bertingkah seperti orang gila)
Eeee,,, sssttt,
sekarang dengar! Saya serius… Semalam, hihi(sok malu) saya mimpi
(mesem-mesem)... Ayah belikan aku sepeda baru, (hihihiihi).. Ada belnya,
kring-kring, kring-kring.... (langsung muka sedih) tapii.. aku baru kendarai
sampai timur sana, aduuuhh.. aku bangun, kepalaku… tidak sakit, aduuhh
pinggang.. tidak juga… Oh, mimpi rupanya.
Ahhh, syukur aku… tidak
sungguh-sungguh jatuh. Tidak pinggangku, tidak kepalaku, hahaha, tidak ada yang
sakit! Kamu ada mimpi semalam? Jatuh juga? Sakit? Ahhh… syukur kamu! Setidaknya
kamu bangun, lagi dalam kamar.. Coba kamu bayangkan, kalau bangun di bui?
Bagaimana? Aaaahhh, aduuhhh… anak muda!
Kalau sudah begini..
aku ingat pada Bapak Proklamasiku.. Bung Karno.. Dulu,.. waktu beliau dibui, di
Suka Miskin, di Bandung.
"Rambutku dipotong
hampir gundul, dimilimeter dalam bahasa Belandanya. Hampir segala apa yang saya
bawa dari rumah tahanan (penjara Banceuy, Kota Bandung)--semuanya diambil
(petugas)," Aku Bung Karno.
"Mandi yang
lamanya ditentukan enam menit. Makan, makan nasi merah dengan sambal yang
sederhana," "Pukul sembilan (malam) cahaya (kamar) mesti digelapkan
dengan tidak dapat disangkal lagi. Hari ini sudah bekerja dan besoknya bekerja
keras lagi, saya mesti lekas tidur."
Aduuhh, coba kamu, aku
begitu.. tak tahan sakit pinggang itu…. Tapi.. Bung Karno tidak pernah lepas
dari prinsipnya. Yang ia tau, selepas Suka Miskin, perjuangan berlanjut! Itu…
Kepada isteriku..dia
boleh datang melihat dan berbicara dengan saya dua kali dalam sebulan serta
tidak boleh membawa 'oleh-oleh' untukku. Berapakah lamanya (membesuk), cuma
sepuluh menit," melalui sepucuk surat pada istrinya, Bung Karno
mengabarkan telah dipindahkan dari rumah tahanan Banceui ke Suka Miskin.
Aku gelisah. Sebelahku,
tetangga bilik ketjil ini para koruptor, oknum pejabat bule semua, mereka
bicara cuma masalah makan, cuaca, semua yang tidak penting. Tidak ada lawan aku
bicara perjuangkan merdeka. Aku tidak dapat membaca berita Koran, tak tau kabar
kawan-kawan berjuangku disana.
Ah istriku, Nggitku
datang, Nggitku datang.. dia bawa telur? Ya itu dia!
Asin, iya asin, oh
tidak apa yang sedang terjadi. Sepuluh menit punyaku yang selalu berharga,
rasanya sia-sia saja. Tidak ada gunanya, setauku kabar buruk. 10 menit menjadi
tidak ada gunanya. Para polisi Belanda ini, sial! Aku tidak dapat kesempatan..
Aku habiskan sepuluh
menit untuk mendengar suara matanya. Matanya yang sayu itu, oh sudah lama aku
tidak mengecupnya.. mata itu bicara padaku. Setauku bukan berita baik,
sebagaimana kabar dari telur asin itu. Oh aku ingin tau apa yang terjadi.
Kamu tau? Telur asin!
Ahahaha… Iya telur asin, sekarang kamu sudah punya telepon. Kamu merdeka
tentang mau bilang apa, tidak Bung Karno tempo itu. Sudah aku bilang, kan?
Bersyukurlah kamu…
Lagi 10 hari Nggitku
datang lagi, aku tidak tahan melihat wajahnya yang lesu itu, badannya kering
kerontang “Mas, ingatlah hari ini tanggal 24 April”. Begitu ujarnya padaku,
lalu al-Qur’an ia gapai dari balik kain sarinya, untukku hari itu. 10 menit itu
lagi memikirkan, tentang apa yang diungkap istriku ini. Ya.. Surat keempat di
halaman 24. Huruf apa yang dibawakan istriku hari ini.
Aahh… aku hampir putus
asa, sampai istriku bisa berkabar, aku sudah berjanji. Dan satu-satunya yang
aku tau.. Setalah aku bebas, perjuangan berlanjut!
Kamuu,. Saudaraku
semua. Bangunlah bangun, kamu ini sudah merdeka kok ya begini? Ingatlah, apa
yang dipesankan Bung Karno “Kita bangsa besar, kita bukan bangsa tempe. Kita
tidak akan mengemis, kita tidak akan minta-minta apalagi jika bantuan-bantuan
itu diembel-embeli dengan syarat ini syarat itu ! Lebih baik makan gaplek
tetapi merdeka, dari pada makan bestik tetapi budak.”
Kamu, anak muda,
kawanku semua.. kamu punya kekuatan besar, Bung Karno pernah mengatakan, bahwa
ia percaya kemampuan kita pemuda. “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan
kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan
dunia”
Aku, kamu semua
kawanku.. harus memiliki kita sebagai Bangsa Indonesia. Penerus yang
berkualitas, itu kita.. karena Bung Karno pernah berkata “Perjuanganku lebih
mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena
melawan bangsamu sendiri.”
Artinya kawan, di
pundak kita punya tanggung jawab lebih besar, jadi bergegaslah. Loncat dari
tempat tidurmu, dahului Sang Surya, Goncang dunia, tunjukkan kita, Bangsa
Indonesia!
***
jadi gimana menurut kalian guys? kebayang ga, waktu gua tampil ini, gua akting kayak orang gila, ngomong sendiri ga jelas. Anak-anak pada ketawa nontonin gua, tapi guys.. buat elo-elo yang suka nulis, jangan cuma nulis, ayo ekspresiin. Lo wajib tau sensasinya, xixixixi
By:
Anak Agung Sri Nandini
On 03.06
Dialog Berbentuk Teks “Anekdot Hukum Peradilan”
Keluarga Pemilik: “Yang Mulia
hakim, saya tidak terima keluarga saya kehilangan pedati beserta kuda dan
dagangan di dalamnya karena jembatan yang dilalui roboh. Pembuat jembatan itu
harus dihukum.”
Yang Mulia Hakim: “ya, benar.
Baiklah kalau begitu, aku akan memanggil si tukang pembuat jembatan itu untuk
datang ke persidangan ini sekarang!” (yang mulia hakim menoleh ke para
pengawal) “hai pengawal, panggil si tukang pembuat jembatan kemari!”
Pembuat Jembatan: “Yang Mulia
Hakim, apa kesalahan saya sehingga saya dipanggil ke persidangan?”
Yang Mulia Hakim: “Kesalahanmu
sangat besar, karena kamu telah membuat jembatan dengan kayu yang jelek dan
rapuh sehingga seseorang harus kehilangan kuda, pedati, dan dagangannya karena
jembatan yang kau buat telah roboh.
Pembuat Jembatan: “Jika itu
permasalahannya, tidak seharusnya Yang Mulia menyalahkan saya. Yang salah
adalah si tukang kayu. Dialah yang membawakan kayu untuk saya buat menjadi
jembatan.
Yang Mulia Hakim: “Benar juga apa
yang pembuat jembatan katakan.” (memanggil pengawal) “hai pengawal, bawa si
tukang kayu kemari untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya!”
Tukang Kayu: “Yang Mulia Hakim, apa
kesalahan saya sehingga saya dipanggil ke persidangan?”
Yang Mulia Hakim: “Kesalahanmu
sangat besar, karena kamu telah membawa kayu yang jelek dan rapuh untuk
digunakan sebagai bahan jembatan oleh pembuat jembatan. Seseorang telah
kehilangan pedati, kuda, dan dagangannya karena jembatan itu roboh.”
Tukang Kayu: “Kalau itu
permasalahannya, Yang Mulia tidak sepantasnya menyalahkan saya. Yang salah
adalah penjual kayu. Dialah yang menjual kayu jelek dan rapuh itu kepada saya.”
Yang Mulia Hakim: “benar juga yang
dikatakan penjual kayu” (memanggil pengawal) “Hai pengawal, bawa penjual kayu
kemari untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya!”
Penjual Kayu: “Yang Mulia Hakim,
apa kesalahan saya sehingga saya dipanggil ke persidangan ini?”
Yang Mulia Hakim: “Kesalahanmu
sangat besar, karena kamu telah menjual kayu yang jelek dan rapuh kepada tukang
kayu, seseorang harus kehilangan kuda, pedati, dan dagangannya akibat jembatan
yang roboh.
Penjual Kayu: “Kalau itu
permasalahannya, tidak seharusnya Yang Mulia menyalahkan saya. Yang salah
adalah pembantu saya. Dialah yang menyediakan beragam jenis kayu untuk dijual.
Dialah yang memberi kayu jelek dan rapuh kepada si tukang kayu itu.”
Yang Mulia Hakim: “Benar juga yang
dikatakan penjual kayu” (memanggil pengawal) “hai pengawal, bawa pembantu
penjual kayu ini kemari, dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.”
Pembantu Tinggi dan Besar: “Yang
Mulia Hakim, apa kesalahan saya sehingga saya dipanggil ke persidangan ini?”
Yang Mulia Hakim: “Kesalahanmu
sangat besar, karena kamu telah menyediakan kayu yang rapuh dan jelek untuk
dijual kepada tukang kayu yang kemudian digunakan untuk membuat jembatan.
Sekarang jembatan itu roboh dan menyebabkan seseorang kehilangan kuda, pedati,
dan dagangannya yang jatuh ke sungai.”
Pembantu Tinggi dan Besar: “Tapi
yang mulia..” (kehabisan kata-kata untuk mencari alasan)
Yang Mulia Hakim: “Hai pengawal,
penjarakan orang ini dan sita uangnya!”
Pengawal: “Ampun Yang Mulia, sangat
sulit memenjarakan pembantu penjual kayu itu. Badannya terlalu tinggi dan
besar, penjara yang kita punya terlalu sempit untuk orang ini. Dia juga tidak
punya uang untuk disita, Yang Mulia.”
Yang Mulia Hakim: “Kamu bego amat!
Gunakan dong akalmu, cari pembantu si penjual kayu yang pendek kurus dan punya
uang!”
Pembantu Pendek dan Kurus: “Yang
Mulia Hakim, apa kesalahan saya sehingga saya harus dipenjarakan?”
Yang Mulia Hakim: “Kesalahanmu
adalah pendek, kurus, dan punya uang!” (berpaling memandang seluruh masyarakat
dan bertanya) “Saudara-saudara, apakah hukuman penjara untuk pembantu pendek,
kurus, dan punya uang tadi adil?”
Masyarakat: “Sangat Adil, Yang
Mulia Hakim.”
Narasi Teks “Anekdot
Hukum Peradilan”
Seorang
kerabat si Tukang Pedati mengadukan seorang pembuat jembatan kepada Yang Mulia
Hakim karena jembatan yang dibuatnya runtuh dan menyebabkan si Tukang Pedati
terjatuh ke sungai dan kehilangan kuda, pedati beserta barang dagangannya. Si
Pembuat Jembatan disalahkan karena kayu untuk bahan jembatan itu tidak kuat dan
menyebabkan jembatan runtuh.
Si
Pembuat jembatan tidak terima atas tuduhan yang ditujukan kepadanya. Ia membela
diri dengan menimpakan kesalahannya kepada Tukang Kayu yang telah membawa kayu
yang jelek dan rapuh untuknya.
Si
Tukang Kayu dipanggil ke persidangan. Seperti halnya si Pembuat Jembatan,
Tukang Kayu pun tidak terima atas tuduhan yang ditujukan kepadanya. Dia
menimpakan kesalahannya pada Penjual Kayu yang telah menjual kayu rapuh dan
jelek itu pada dirinya.
Penjual
Kayu pun dipanggil ke persidangan. Dengan cepat penjual kayu menolak tuduhan
yang ditujukan padanya. Penjual kayu punya alasan, bahwa yang salah adalah
pembantunya yang menyediakan kayu rapuh dan jelek itu untuk dijual kepada
Tukang Kayu.
Yang
Mulia Hakim pun memanggil seorang pembantu si Penjual Kayu. Pembantu Penjual
Kayu tidak dapat memberikan alasan apapun, akhirnya hakim memutuskan untuk
menghukumnya dengan memenjarakan dan menyita semua uang yang dimiliki oleh si
Pembantu.
Berselang
beberapa menit, pengawal kembali menghadap Yang Mulia Hakim. Ternyata pengawal
itu ingin mengadukan kepada Yang Mulia Hakim bahwa mereka kesulitan memenjarakan
pembantu itu. Yang Mulia Hakim menanyakan kenapa pengawal tidak bisa
memenjarakan pembantu itu, para pengawal pun memberikan alasan. Badan pembantu
itu tinggi dan besar sementara penjaranya sangat sempit dan tidak cukup untuk
pembantu itu, selain itu tidak ada yang bisa disita dari pembantu itu karena ia
tidak punya uang sepeserpun.
Yang
Mulia Hakim marah besar, ia pun memerintahkan pengawal untuk mencari pembantu
penjual kayu yang pendek, kurus, dan punya uang. Para Pengawal pun beranjak
mencari pembantu penjual kayu yang pendek, kurus, dan punya uang. Sungguh
malang nasib pembantu kurus, pendek dan punya uang, ia harus dipenjarakan dan
semua uangnya disita oleh kerajaan.
Setelah
keputusan persidangan itu ditetapkan bahwa hukuman penjara dijatuhkan pada
pembantu penjual kayu yang kurus, pendek dan punya uang. Yang Mulia Hakim
menanyakan pada seluruh masyarakat yang hadir apakah keputusan yang telah
diambil itu adil, dan seluruh masyarakat sepakat bahwa keputusan itu sangat
adil.
By:
Anak Agung Sri Nandini
On 02.34
Monolog Rintih Hati Saraswati
Aku
benar-benar iba saudaraku. Kepada siapa lagi, kalau bukan padaku sendiri. Aku
marah, aku terluka pada siapa lagi? Pada takdirku sendiri, saudaraku. Aku tidak
marah padamu, dan engkau semua yang berbicara tanpa bisa kumengerti. Aku tidak
benci padamu dan engkau semua yang hidup dalam irama dan nada. Tapi aku harus
mengakui, aku iri. Ia aku iri padamu saudaraku, mengapa kau bisa mendengar apa
yang tidak kudengar? Mengapa kau bisa ungkapkan dengan cara yang aku tak bisa?
Tapi
ibu bilang, aku harus mensyukurinya saudaraku. Dalam isyaratnya ibu bilang, aku
beruntung, ibu bilang aku punya segalanya. Aku bahagia, ia aku bahagia. Aku
punya ayah, 2 kakak, 2 adik yang semuanya menyayangiku. Ia aku mensyukurinya, dan
aku bahagia. Aku bahagia sampai aku menyadari semua kebohongan itu. Ibu berbohong,
aku sendiri, aku sebatang kara.
Sejak
paman pulang ke rumah kamis sore, aku selalu ingin itu hanya mimpi dan berherap
akan segera bangun. Tapi iya.. aku tidak pernah tidur dan bermimpi akan hal
itu, memang demikian adanya. Aku tidak pernah mengerti apa yang dibicarakan
pamanku itu. Sementara aku benar-benar ingin tau kemana perginya ayah, ibu,
kakak, dan adikku. Aku menunggu paman bicara, dan memasang mata baik-baik. Raut
mukanya pucat pasi, tetapi nampak ia tidak sedang sakit. Lalu bibi yang selama
ini menemaniku di rumah duduk dekatku, air matanya tumpah ruah tak keruan, aku
menatapnya penuh heran. Paman datang bersama istrinya, merekapun merangkulku
mesra, tak biasanya kali ini seperti menjaga berlian yang rapuh. Paman lalu
memulai bicara setelah sekian lama bungkam. Mulutnya bergerak-gerak mantap,
tangannya terus mengisyaratkan kata-kata. Tetapi sama sekali aku tak pahami.
Lalu…
Sebuah potret kami
sekeluarga. Ayah menggendong adikku terkecil. Si kecil menangis. Ibu sedang
membujuknya untuk menghadap ke depan, kakakku tertua duduk di spatbor mobil
sambil mengacungkan kedua tangan, kakakku yang muda menjulurkan kepala dari
jendela mobil seraya melambai. Adikku tertua berpegangan dengan ibu, aku
berdiri di tengah ayah dan ibu seraya mengagumi kebahagiaan kami saat itu.
Peragaan
paman menerangkan kejadian…
Peragaan Saraswati menangis..
Kenyataannya,
kini aku merasa sebatang kara. Iya memang.. Saudaraku, jika semua yang indah
hanya dalam mimpi, aku selalu berharap tidur selamanya.
Ketika
paman membawaku ke Bandung, tinggal bersama keluarganya. Mereka punya dua
putra. Setelah kukenali merekalah Busra dan Bisri. Busra terlihat lebih pendiam
namun sesungguhnya ramah, sebaliknya Bisri adiknya lebih lincah dan jahil.
Bisri seumuran denganku. Hidupku semakin sunyi lagi, meskipun aku sesungguhnya
tak sebatang kara lagi di tempat baru ini. Kini keluargaku pun baru. Namun tak
merubah hidupku yang semakin hari semakin tersiksa. Aku terperangkap dalam
amarah yang tak bisa aku ungkapkan. Mengapa harus juga bisu. Setidaknya buatlah
aku bisa bicara, Tuhan…
Peragaan
adegan Busra membawakan kambing untuk Saraswati
Aku menerimanya. Tak
ada pilihan lain. Tiap kali aku membawa kambingku mencari rumput, aku sangat
tersiksa, aku bisa gila. Aku harus menahan diri, bersabar menghadapi tawa
anak-anak sekampung yang sepertinya mengataiku dengan segala sebutan. Tak
jarang melempari dengan kerikil-kerikil yang meskipun tak tajam menumbuk
permukaan kulitku. Tetapi cukup tajam untuk menyayat hati. Kau tau, saudaraku.
Aku tak tinggal seatap dengan mereka meski serumah. Mereka memberiku tempat di
kamar kecil di belakang rumah utama. Aku sendirian. Malam hari aku memikirkan
nasibku yang sungguh malang. Siapakah aku bagi mereka ini, begitu tega
menjadikan aku penggembala kambing, membiarkanku terhina setiap hari, merasa
terpuruk dan diasingkan di tempat tua belakang rumah. Apa yang mereka pikirkan.
Aku benar dalam amarah yang membara.
Harusnya aku tidak ikut
kemari. Harusnya aku tinggal di rumah bersama bibi di Jakarta. Aku ingin
pulang, sungguh. Aku lebih baik tidak punya saudara, tidak punya ayah, tidak
punya ibu ketimbang dirawat oleh orang-orang yang tidak menyayangiku. Aku lebih
baik mati dan membiarkan tubuhku membusuk ketimbang hidup dengan cara seperti
ini. Apa yang mereka inginkan dariku? Apakah mereka kira aku ini bodoh? Apakah
mereka kira gadis bisu tuli ini tidak punya perasaan? Mereka kira aku kebal
dicemooh dengan omongan. Aku memang tidak mendengar dengan telingaku, tapi
hatiku merasakannya. Seperti diiris-iris, dirobek-robek dan dihancurkan dengan
penuh gairah dengan cara yang membuat mereka senang.
Aku marah dan
benar-benar marah, apa-apaan semua ini? Sebut saja aku gila. Tapi bebaskan aku
dari semua hinaan ini. Sungguh aku tidak senang diperlakukan seperti ini.
Peragaan
adegan kemarahan Saraswati
Inilah hidupku
saudaraku.. begitu penuh dengan siksaan, kesengsaraan yang mendalam aku
rasakan. Maka aku selalu ingin menceritakan padamu semua tentang hidupku. Agar
setidaknya air mataku tak sendirian jatuh ke tanah.
Busra
menenangkan Saraswati
Setelah itu memang
benar, aku tak lagi menggembala kambing, kini aku menjadi gadis yang pingit.
Pekerjaanku meniup tungku di dapur, memanasi air, mengasapi daging. Ini baru sebagian
kecil dari hidupku yang penuh cobaan. Sampai keajaiban membuatku mampu
menceritakan semua padamu. Ketika aku mulai mendengar dengan telapak tangan dan
berbicara dengan isyarat juga huruf. Sebuah mula cubitan keras mengenalkanku
pada huruf A. dan cara-cara lain memperkenalkan pada huruf sisanya. Semua
seperti keajaiban.
By:
Anak Agung Sri Nandini
On 02.30
Sabtu, 30 Januari 2016
“Rindu, dan Sisa Bayang”
Suara genta memecah
keheningan, asap dupa menari-nari membumbung angkasa. Suasana amat khusuk sore
itu di pura. Seorang wanita tua duduk di barisan depan, di belakangnya para
pemudi duduk dengan membawa catatan kidung mereka. Tuniang Rai, begitu para
anak-anak dan remaja menyebut wanita itu. Ialah orang yang dituakan di desa,
atau juga disebut penglingsir desa.
Meskipun
Tuniang Rai sudah tua, keriput di wajahnya tak begitu kentara. Tubuhnya pun
masih tegap, kulitnya kencang. Selain itu ia masih sangat kuat, ia mampu
bersimpuh berjam-jam selama di pura, bahkan anak remaja saja tak mampu
melakukannya.
“Ida ratu...” seorang remaja putri mulai mengeluarkan suara
gemulainya membuka kidung untuk mengiringi suara genta, menambah suasana
khusuk. Remaja lainnya mulai mengikuti. Mungkin ini adalah pertama kalinya,
kidung dinyanyikan oleh para remaja. Biasanya kidung hanya dinyanyikan oleh
mereka yang sudah berpengalaman dalam Gita
Santi. Remaja-remaja ini rupanya telah berlatih setiap hari sabtu, dan
disepakati setiap rerahinan di pura,
mereka akan mekidung. Lain halnya
bila dalam upacara besar, barulah para penggelut Gita Santi yang mekidung
dengan tentunya dengan pengeras suara.
Suasana ini tidak
seperti biasanya, nyanyian kidung oleh remaja-remaja itu membuat bulu kuduk
merinding. Sesungguhnya bukan suara yang teramat merdu, namun niat yang tulus
dari para remaja putri itu. Nampak jelas di muka Tuniang Rai, haru yang amat
dalam, namun lebih dalam lagi, entah apa yang dirasakannya. Air matanya runtuh,
tangisnya sampai terisak. Memang mengharukan, para generasi muda ini melakukan
perubahan yang amat mengesankan, tapi lebih dalam dari itu Tuniang Rai
meluapkan tangis kerinduan. Hanya Tuniang Rai yang sampai menangis, mungkin
lainnya merasa heran, namun lebih dalam lagi semua mengerti.
Dalam hati Tuniang Rai
bicara “Jika aku bersujud, aku tinggalkan hasrat cintaku padamu, namun aku
sertakan doa selalu bersamamu. Kita berdampingan dalam sujud kita pada Tuhan,
dulu.. namun kini, jika bersujud yang kutinggalkan ialah rinduku padamu, lalu
aku sertakan doa agar kau dapat lebur dengan-Nya. Sujudku kini berdamping rindu
dan sisa bayangmu” Tuniang Rai begitu dalam rindunya, pada kekasih tercinta,
pujaan hatinya, suaminya. Betapa ia sangat merindukan, saat seorang laki-laki
duduk disampingnya, dengan destar
putih bersumpang kembang sepatu di kepalanya, penuh wibawa.
Air mata Tuniang Rai
berlinang, kidung dan suara genta dalam suasana yang khusuk itu mengingatkan ia
pada suaminya.
“Senangnya Gungkak mendengar
suara kalian..” Gungkak Rai menoleh kebelakang sambil tersenyum memuji para
remaja putri itu, cucunya-dalam khayalan Tuniang Rai-.
By:
Anak Agung Sri Nandini
On 07.28
Rindu Tak Bertuan
Hatinya terus saja cemas, dalam pikiran ia tak pernah
tenang. Bahkan bila pun senyumnya sumringah tiap bertemu pembeli yang
kebanyakan anak sekolah masih ABG. Sepulangnya dari jualan di kantin,
barangkali muka rindunya tak mampu lagi bersembunyi. Dalam bilik, semuanya
seolah bercerita. Baginya tak akan pernah ada ranjang yang lebih nyaman
dibanding ranjang berkasur kapuk miliknya itu. Atau selimut yang lebih hangat
dibanding selimut loreng tipis, sejak pernikahannya 10 tahun lalu.
Kecemadan dalam hatinya begitu kejam hingga tak pernah
membiarkan tuannya untuk tidur dan melepas lelah dengan tenang. Beranjak dari
ranjangnya, ia pergi ke halaman rumah menemui satu-satunya orang yang hidup
bersamanya, laki-laki yang ia cintai. "Apa yang kau lakukan?",
tanyanya. Gede masih saja dengan pekerjaannya, menata taman. Lagi-lagi Alit
menepuk pundak Gede dan bertanya dengan suara lebih keras "Apa yang kau
lalukan?". " Ah? aku sedang membuatkan pagar untuk taman ini",
sahut Gede dengan suara yang juga keras. Gede memang memiliki gangguan pada
pendengarannya, sebab itu Alit harus berbicara keras agar di dengar, sebaliknya
suara Gede juga keras. Meski dalam bicara mereka berdua bising, tak pernah
dalam rumah mereka merasa ramai. Mereka selalu kesepian.
***
"Ini cicipilah.."
"Lezat sekali"
"Hei aku juga mau"
"Ayolah kalian boleh ambil semua, makanlah yang banyak"
Kalimat-kalimat itu masih sangat jelas terekam dalam memori Alit.
"Aah, anak-anak manis" hatinya. "Sayur apa yang kau buat", suara
Gede memecah keheningan di tengah hari terik, "kangkung tumis, ayo
makanlah.. Aku juga siapkan telur ayam rebus untukmu". Sejenak ia keluar dari
bayangan masa lalu, memerhatikan suaminya tengah makan dengan lahap, ia kembali
teringat.
Anak-anak manis, dulu ketika mereka masih ABG, mereka amat
senang bermain di rumah mungil ini. Tempat yang amat menyenangkan bagi mereka,
juga nyaman untuk belajar kelompok. Sesekali mereka menginap.
"Bu Alit, apa tidak ada selimut lagi"
"Aah.. Kau pasti kedinginan, meski berdesakkan masih
dingin juga.. Gunakan kain ini"
"Hey aku juga mau, tidak ada lagi, bu Alit?"
"Tentu saja, ini gunakanlah. Ada yang mau lagi?"
"Aku..!"
Seperti melihat anak-anak itu penuh keceriaan, tapi itu
sudah terjadi, dan sudah bertahun-tahun berlalu. Alit hanya termangu, dari dapur
beranjak ke ruang tamu semakin sunyi bercerita. Meja, kursi, cermin, jam dinding,
vas bunga, seolah tak punya topik lain untuk dibicarakan. Mereka semua begitu
merindu. Alit tersenyum tipis, hidup dengan kerinduan, sungguh berat baginya.
Denting jam sangat jelas terdengar di telinganya, sedetik
pun amat terasa berat, hidup dalam bayang kebahagiaan. Iya.. Sungguh tak mampu
ia menyangkal, ia tak pernah merasakan bahagia yang sesungguhnya. Matanya
tertuju pada sebuah pintu kayu menuju bilik kecil. Tanpa ia sadari, tubuhnya
telah berdiri tepat di depan pintu itu, tangannya perlahan membuka pintu itu.
Bagai bermimpi. "Ah.. Rina, mengapa kau lari dari Ibu.." tak dapat
lagi dicegah, pipi Alit yang mulai mengeriput, basah oleh air mata.
"Aku tak pernah melahirkanmu, tapi tak bisakah kau
menjadi anakku?" tangis alit semakin terasa berat, air matanya terus
menetes. Ia tak pernah mampu untuk berhenti menyesali hidupnya, ia sungguh
merasa kesepian. "Sudah jangan menangis", Gede datang menerka air
mata Alit, istri tercintanya. "Kau tak perlu khawatir, Rina pasti akan
pulang kemari, mengertilah ia juga merindukkan ibu dan ayah kandungnya".
Setiap hari, Alit tak pernah lupa bahwa ia memang tidak bisa
memiliki anak, namun ia selalu rindu. Rindu itu tak bertuan, ia rindu anaknya,
tapi siapa anaknya? Entah apa yang mampu mengobati rindunya. Sekalipun bertemu
kembali dengan Rina, apalah artinya jika ia tak miliki?
"Katakan dia juga anak kita kan?" Gede bungkam.
By:
Anak Agung Sri Nandini
On 07.25
Minggu, 21 September 2014
Tanpa Judul
Aku menarik nafas
Aku hembuskan
Sekali lagi
Aku ulangi, begitu..
dan terus begitu..
Sampai sesak aku rasakan
Sesuatu menyentil hatiku
Entah ini benda, virus, atau apa..
Ia membuat mataku perih
Ada air membendung di pelupuk mataku
Tunggu dulu
Ada apa?
belum sempat terjawab
Tetes demi tetes
Air mata membasuh lukaku
Biarlah, mengalir..
Ini hari hatiku tak ingin
Berbagi dengan pikiranku
Air mata apa..
Nafas ini menyakitkan
Tapi tak aku tau maknanya
Tangisanku ini tanpa judul
tanpa alasan, tanpa tujuan
Aku hembuskan
Sekali lagi
Aku ulangi, begitu..
dan terus begitu..
Sampai sesak aku rasakan
Sesuatu menyentil hatiku
Entah ini benda, virus, atau apa..
Ia membuat mataku perih
Ada air membendung di pelupuk mataku
Tunggu dulu
Ada apa?
belum sempat terjawab
Tetes demi tetes
Air mata membasuh lukaku
Biarlah, mengalir..
Ini hari hatiku tak ingin
Berbagi dengan pikiranku
Air mata apa..
Nafas ini menyakitkan
Tapi tak aku tau maknanya
Tangisanku ini tanpa judul
tanpa alasan, tanpa tujuan
By:
Anak Agung Sri Nandini
On 03.02
Kuat
Aku benci jadi orang kuat
Karena harus tersenyum di depanmu
Saat aku hanya perlu menangis
Aku benci jadi orang kuat
Karena harus terpaksa berbicara
Saat aku hanya ingin membisu
Alasan sederhana
Aku kuat,tak ingin jauh..
hilang.. pergi darimu
By:
Anak Agung Sri Nandini
On 02.38
Senin, 15 September 2014
Cermin Retak
“Maafkan aku ya Ririn, kita tak bisa bersama lagi...
aku harus ikut orang tuaku ke Jakarta, kamu baik-baik disini yaah... aku janji,
aku akan selalu berkabar lewat surat..”
Kurang
lebih kalimat itulah yang sempat kuucapkan pada Ririn 5 tahun lalu, tepatnya
ketika kami masih berumur 12 tahun. Tapi baru kini aku ingat janjiku itu. Kini
semua telah ku sesali, aku hanya bisa menangis untuk mengeluarkan isi hatiku
yang tengah penuh dan sesak.
***
Akhirnya
aku sampai di Ibukota, SMP Harapan akan menjadi tempatku bernaung untuk
belajar. Aku tak sabar menanti esok. Esok akan menjadi hari yang menyenangkan
dimana aku akan bertemu dengan teman-teman baru, guru baru, dan belajar dengan
suasana baru.
Malam
semakin larut, hingga tiba waktunya bagiku untuk beristirahat, melepas lelah
selama perjalanan panjang tadi. Kaki-kakiku melangkah ke lantai dua tempat
tinggalku yang megah, hingga berhenti di sebuah ruangan dengan tempat tidur
bernuansa pink yang membuatku merasa sangat nyaman. Aku pun menarik selimut
tebal agar dapat menghangatkan tubuhku yang tengah berbaring di atas tempat
tidur empuk yang membuat mataku semakin mudah untuk mengatup dan
menghantarkanku dalam sebuah mimpi yang tentunya sangat indah.
***
“selamat
pagi teman-teman, nama saya Klara.. saya pindahan dari Bogor, semoga
teman-teman bisa menerima saya disini...” sapaku pada teman-teman baruku di
kelas saat pertama aku bersekolah, semburat wajah ramah aku lemparkan pada
setiap orang yang ada di dalam kelas. Sosok anggun yang tengah berdiri di
sampingku di depan kelas itu pun mempersilahkanku untuk duduk. Ku pilih sebuah
bangku kosong tepat di sebelah orang yang sedari tadi tersenyum ramah
padaku. Tanpa basa-basi gadis manis itu
mengulurkan tangannya, berucap sembari tersenyum “Namaku Monika, kamu Klara
kan? Salam kenal...”. ku balas senyuman, dan kutautkan jemari tanganku pada
jemari lembut tangannya, sebagai tanda perkenalan.
Sebuah
awal pertemuan yang amat singkat, tapi persahabatan kami kan terjalin
selamanya. ku kira begitu. Aku dan Monika tak pernah berpisah, kami amat senang
menghabiskan waktu luang di beberapa Mall besar di Jakarta, berbelanja menjadi
agenda rutin bagi kami. Gaji yang diperoleh dari pekerjaan ayahku sebagai
manajer di perusahaan milik ayah Monika sangat mencukupi kehidupan keluargaku,
jadi meski aku agak boros, itu tidak menjadi masalah. Aku sering berkunjung ke
rumah Monika, dan begitu juga sebaliknya. Kami biasa bercengkerama tentang
semua yang kami suka, seperti fashion dan banyak hal yang berbau kecantikan,
selain itu kami juga sering berbicara tentang teknologi, dan melupakan segala
hal yang berbau kuno atau jadil. Semua kami lalui bersama sampai lulus SMP,
kami memutuskan untuk melanjutkan ke SMA Harapan.
***
“Klara...”
terdengar suara Monika mencoba mengajakku berbicara.
“iya”
aku pun menjawab dan menoleh kepadanya.
“bosen
niih, dikamarmu melulu, kita ke tempat lain aja yuk! Ke mall kek...” ajaknya
dengan mimik cemberut.
“aku
lagi kere niih... belakangan aku belum sempet minta uang sama Papa, ke taman
belakang rumahku aja yuk..” ajakku.
“yaa...
bolehlah, kedengarannya asik juga...” Monika menerima ajakanku. Kami berjalan
bersama-sama menuju ke belakang rumah, taman yang indah menyambut kami. Aahh
sejuk sekali rasanya, kami memang sering kemari dikala bosan.
“permisi
non, di depan ada tukang pos, katanya ada surat untuk non Klara” Bi Ijah
tiba-tiba saja datang.
“Surat
dari siapa, Bi?” tanyaku dengan semburat wajah kebingungan.
“eemm..
Bibi..” entah apa yang mau dibicarakan Bi Ijah, kalimatnya putus oleh bentakan
Monika yang cukup membuatku terkejut.
“Apa?!
Tukang pos??” Monika sontak berbicara keras, kemudian dengan cepat berlari ke
depan rumah. Aku dan Bi Ijah mengejarnya dari belakang. Dengan cepat Monika
menyerobot amplop putih dari tangan seorang lelaki paruh baya dengan pakaian
oranye yang tengah berdiri menunggu di depan rumah.
“hahaha...
jaman sekarang masih saja surat-suratan! Gila! Kamu masih juga punya sahabat
kampungan kayak gini!” ucapnya memakiku. Segera kuambil surat yang ada di
tangan Monika, ternyata surat itu dari Ririn. Sial! gadis kampungan ini, benar-benar membuatku malu, ngga... jangan
sampai Monika tau kalau Ririn adalah teman sepermainanku sewaktu kecil, ngga
boleh..! gumamku dalam hati.
“heei,
siapa orang ini, pasti dia salah alamat. Mana mungkin aku punya sahabat
kampungan seperti pengirim surat ini!” aku pun mengelak, aku tak ingin Monika
tau semuanya, memalukan. Dengan segala kekesalan kuremas dan kurobek-robek
kertas bertulis tangan itu, kuhempaskan potongan-potongan kecil kertas putih
itu, kuinjak-injak, dan kubiarkan tercecer begitu saja di lantai.
***
“Papa
pulaang...” terdengar suara Papa malam itu, begitu lemas. Mama menyambutnya
dengan senyuman dan tak lupa menyodorkan secangkir kopi panas dihadapan Papa.
“Papa...
aku minta uang donk, aku udah seminggu gak shoping ni Pa...” keluhku dihadapan
Papa yang kala itu terlihat lemas sepulang kerja.
“Sayang...
Papa minta sekarang ini kamu jangan minta uang lagi, Papa minta maaf sama
kalian. Sebenarnya Papa sudah dipecat
lima hari yang lalu, Papa sudah berusaha mencari pekerjaan lain, tapi tak ada
satu perusahaan pun yang mau menerima Papa.” Papa menjawab keluhanku dengan
keluhan yang lebih menyakitkan lagi.
“Apa??
ngga mau Pa,, pokoknya Klara ngga mau tau, Papa harus cepet dapet pekerjaan
biar Klara bisa shoping lagi!” dengan wajah cemberut aku berucap, lalu pergi ke
kamar dan menangis. Sementara itu ibu dan ayah masih berdiskusi, entah apa yang
mereka bicarakan.
“dor..
dor.. dor..!” tiba-tiba saja terdengar seseorang secara kasar menggedor pintu
rumah, aku terkejut, beranjak dari tempat tidurku lalu ke luar dengan semburat
wajah penuh kekecewaan, masih memikirkan apa yang baru saja diucapkan Papa.
Mama membukakan pintu, ternyata di depan telah menunggu, 3 orang berotot memakai pakaian serba hitam, dengan
suara tegas berkata.
“Bapak
Hendrawan, sebaiknya segera keluarkan semua barang Bapak, besok Bapak harus
meninggalkan rumah ini, sebelum kami yang harus mengeluarkan semuanya secara
paksa! Rumah ini milik perusahaan!” kata-kata dengan nada tinggi dan cukup
keras itu benar-benar menyayat hatiku. rasanya aku ingin menangis dan berteriak
sekencang-kencangnya akan semua ini, aku sangat membenci hari ini.
***
“Monika,
aku mau curhat...” belum selesai kalimatku, Monika telah menjawab dengan
tatapan memaki, nada tinggi, dan suara cukup keras, yang kurasa pasti didengar
oleh seluruh orang di kelas saat itu.
“Kenapa?
Papamu dipecat? Terus apa hubungannya sama aku? Ihh... sorry ya, aku ni ngga
ada waktu buat bantuin orang miskin kayak kamu!!” aku setengah tak percaya
mendengar ucapan itu, rasanya hatiku disayat oleh ribuan pisau yang sangat
tajam. Hampir saja aku menumpahkan air mata di depan Monika. Ketika Monika dan
lainnya berlalu, meledak tangisku keluar, bagaimana tidak? Aku pikir cermin hidup
sejatiku adalah Monika, tapi ternyata aku salah, dan kini aku hanya berteman
kekecewaan.
***
Perjalanan
dengan kereta ekonomi tadi akhirnya membawaku kembali kemari, ke kampung
halaman yang lama kutinggal pergi. Aku kembali ke rumah kecil nan sederhana,
aku baru tersadar betapa sudah terlalu lama aku meninggalkan kebahagiaan kecil
di tempat ini. Aku merindukan Ririn, tapi sedari tadi aku tak melihatnya, aku
sempat mengirim surat untuknya, tapi belum kuterima balasnya. Aku hanya bisa
mengenang masa lalu nan indah bersama Ririn disini. Kini hanya tinggal sebuah
penyesalan. Aku baru sadar, sedari dulu ada sebuah cermin dalam kehidupanku,
cermin itu adalah Ririn. Dia selalu terlihat sama denganku, ketika aku
tersenyum dia juga tersenyum, aku menangis dia juga menangis, aku senang dia
senang, aku sedih dia juga akan sedih. Berbeda dengan Monika, Monika hanya mau
ikut bersenang denganku, namun ia tak pernah mau ikut terlarut dalam keluh
kesah dan dukaku. Aku rasa cermin sejatiku sudah retak, sukar ia bertemu denganku.
Aku memang sudah keterlaluan, janji 5 tahun lalu, baru kini kuingat. Kini aku
hanya bisa berharap, agar luluh hati Ririn menerimaku kembali. Aku ingin
kembali melihat senyumku, dan tangisku dalam semburat wajah manisnya.
Agung Sri Nandini, SMA Negeri 1 Bangli
baru abis bongkar-bongkar arsip cerpen nihh,, jadul.. :p
By:
Anak Agung Sri Nandini
On 20.13
Minggu, 14 September 2014
Tak Boleh Jadi Dusta
Aku hanya
tau terisak dalam sunyi, mengubur diri dalam gelap bahkan ketika mentari masih
bersinar. Mengurung diri dalam ruang mungil tempat semayam mimpi-mimpi yang
selalu lalang dalam setiap lelapku. Mimpi yang sudah benar terkubur bahkan
sebelum ku bangun. Ini semakin mengoyak hati, yang terngiang di telingaku hanya
sebaris kata, “Nanda, kamu pasti bisa!”. Sebaris kata yang kini tinggal dusta,
dustakah aku? Ucapan ayah itu tidak benar kini, karena aku tak sebisa ayah
ucapkan. Jadi siapakah dusta? Mataku masih saja meneteskan luka, luka atas
kekecewaan yang mendalam.
Ayah
bilang aku pasti bisa, dan kenyataannya tidak seperti yang terkatakan. Menjadi
sulung dari lima bersaudara sungguh berat. Apalagi mengingat beban orang tuaku
yang semakin menjadi. Ayah di luar segala kewajibannya sebagai PNS, juga
terlibat aktif di dunia jurnalistik. Bunda pun turun tangan menopang keuangan
dengan membuka warung kecil-kecilan. Sebagai sulung, adalah tanggung jawab
kepada orang tua dan adik-adikku. Kerja keras menjadi menu wajib bagiku. Kini
aku menangis harus menghapus cita-citaku, aku tak bisa untuk duduk di Fakultas
Kedokteran, permasalahan ekonomi dalam keluargaku menjadi alasan mengapa harus
angan terhapus. Sangat berat, sebagai sulung tidak untuk egois. Tetes peluh
Ayah dan Ibu bukan hanya untukku, tetapi juga adik-adikku. Maka atas tanggung
jawabku sebagai sulung, demi melupakan cita-cita mahal itu aku basahi luka-luka
hati dengan air mata.
Sekali
lagi terngiang “Nanda, kamu pasti bisa!”. Astaga! Ini tidak seharusnya jadi
dusta. Bukan ini satu-satunya yang buat aku bisa. Aku bisakan dengan cara lain.
STPDN! Ya ini jawabannya. STPDN, impian yang aku rajut demikian apiknya. Aku
mengumpulkan segala tenaga, berusaha dan kerja keras untuk mendapat tempat
disana. Aku yakinkan diri, aku akan mendapat tempat, aku pastikan. Angan
terbang kesana-kemari, serasa mudah aku gapai. Aku pasti bisa! Ucapan yang
tidak boleh lagi menjadi dusta.
***
Mataku
turut mengikuti langkah jemari yang kesana kemari mencari nama di atas kertas.
Harapan terbayang rasanya sangat dekat, jantung tak henti berdegup kencang.
Menelusuri baris-baris huruf menunjuk nama-nama tak dikenal. Sampai baris
terakhir, tak kunjung kutemui. Aku tak percaya, sampai berulang aku menarikan
jemariku, tak jua bertemu. Angan semakin menjauh dihempas angin, aku tak
sanggup menahan bendungan air di pelupuk mataku. Aku berlari menjauh, terus
menjauh. Aku terus tanyakan mengapa? Sampai aku ketahui sebabnya. Bagaimana
bisa angka 161 menjadi sebab pupus harapanku. 161 cm, perlu 4 cm lagi untuk
diterima. Rajutan mimpi yang apik aku pelihara, kini terobek-robek menyisakan
perih dalam dada.
***
Kalimat
ayah itu terus saja terngiang, hadir dalam tiap lamunanku. Keyakinanku lemah
saat ini. Sedikit demi sedikit diremas keputusasaan. Aku tak ingin biarkan ini
jadi dusta, tapi kini apa yang bisa aku perbuat?
Hari-hari
dalam keputusasaan, aku pasrahkan apapun yang akan terjadi. Aku putuskan
membantu bunda menjaga di warung, mungkin ini tak mengobati luka hatiku, setidaknya
aku mendapat kesibukan selain merenung. Sebelum teremas benar keyakinanku,
bunda menyadarkan aku arti kehidupan. Kesulitan tidak selalu menimbulkan
kegagalan, kegagalan tidaklah seharusnya menjadi akhir kehidupan. Dua
kegagalan, tidak seharusnya menghentikan langkahku.
Atas
dasar tanggung jawab sulung. Aku memilih untuk mengakhiri masa belenggu dalam
putus asa itu dengan melanjutkan kuliah mengambil jurusan Bahasa Inggris. Ayah
kini berhenti dari pekerjaan dan keterlibatannya dalam organisasi, ia mulai
menekuni dunia usaha. Tentu juga aku mendapat percikan-percikan ilmu usaha yang
ayah pelajari dalam jangka ini. Termotivasi oleh buku-buku yang memuat sederet
profil orang-orang sukses, dan kendala finansial dalam keluarga, aku ingin
merambah dunia kerja di samping kuliah.
Tentu
bukan hal mudah untuk melakukan itu. Aku masih harus memikirkan apa yang bisa
aku kerjakan? Dan bagaimana aku mengerjakannya? Aku masih dengan kebiasaan
berangan. Kali ini tidak boleh menjadi dusta, angan harus tercapai. Dengan
sangat berhati-hati aku merakit impian, memikirkan dengan matang-matang,
bagaimana aku akan memandu masa depan. Aku sangat berharap ini menjadi
kenyataan.
***
“Resti,
aku berniat mengajakmu membuka usaha.” Kak Ica menyelipkan sebuah kalimat ajakan
dalam obrolan penuh gurau bersamaku sedari tadi. Benakku terburu-buru merapikan
tawa habis gurau sebelumnya. Kalimat tiba-tiba ini tentu mengundang tanya.
“Maksud
kakak? Usaha apa?” tanyaku.
“Ada
sebuah kios yang dijual di sebelah toko bunda. Aku tertarik membelinya, dan aku
kira kau pasti mau patungan denganku untuk membeli kios itu.” jelas Kak Ica
menunggu jawabanku dengan penuh harap.
“hmmmm..
lalu menurut kakak, usaha apa yang bisa kita buka di kios itu?” Aku belum
mengiyakan, belum habis pertanyaan-pertanyaan dalam benakku.
“Kita
bisa membuka toko pakaian kecil-kecilan disana, aku tidak akan memaksamu. Aku
juga memikirkan kuliahmu, tapi kamu pasti bisa menjalani usaha ini, kamu akan
belajar mengatur waktu. Selanjutnya semua keputusan ditanganmu.” Lembut ucapan
Kak Ica menjelaskan padaku.
Bahagia
benar benakku, ini yang aku inginkan. Meski persetujuan belum keluar dari
bibirku. Aku bahkan kebingungan bagaimana caranya mengatakan setuju, sampai
sebaris kalimat lagi terlontar dari mulut Kak Ica, “Bagaimana, Resti?” dengan
kobaran semangat yang membakar dada aku tegaskan bahwa aku setuju.
Bukan
hal mudah merintis sebuah usaha, banyak hal yang aku dan Kak Ica alami. Bukan
hal mudah membuka usaha dagang. Harga pasar seringkali tidak stabil, kadang
sepi pelanggan, dan kadang membludak. Jatuh bangun kami berlari mengejar
impian.
Kami
mengumpulan lembar demi lembar pengalaman, kami banyak belajar dari semua itu.
Dan benar ayah bilang, ibu benar, aku benar, tidak lagi dusta, aku bisa. Usaha
kami berkembang dan menuai hasil yang gemilang. Namun hal ini tidak melemahkan
prestasiku di kampus. Jalan Tuhan memang selalu yang terbaik. Aku bisa! Tidak
ada lagi keyakinan yang diremas putus asa. Luka-luka sebelumnya itu yang
membawaku sukses sekarang, aku belajar untuk dewasa menghadapi semua masalah.
Seiring
waktu jaringan bisnisku meluas, sesekali aku membantu ayah agar tak terbeban
padatnya jadwal sebagai motivator. Jadilah aku berkiprah dalam dunia event
organizer. Bisnis ini terus berkembang, jaringan konsumen yang luas semakin
membuka peluang untuk berkiprah di bidang lain. Usaha penjualan tiket pun
kulakoni. Ini semua tak luput dari motivasi kedua orang tuaku, dan semua ini
selalu membuatku bersyukur kepada Tuhan. Akhirnya semua ayah ucapkan tak jadi
dusta.
Buah Karya: Anak Agung Sri Nandini, SMA Negeri 1 Bangli
maklum ya, sobat.. baru belajar nulis smoga menginspirasi..
By:
Anak Agung Sri Nandini
On 17.50
Tidakkah Boleh Aku Mengerti
Umurku muda itu, aku belum mengerti, siapa, apa,
kapan, dimana, dan bagaimana.. Aku lahir dalam keluarga kecil, beruntung aku
terlahir untuk dicintai, dan mencintai mereka, kedua orang tuaku. Keluarga
kecilku sederhana. Beruntung juga aku punya keluarga besar yang megah dan
bahagia. Aku punya banyak nenek, kakek, paman, dan bibi. Dan mereka hanya punya
aku sebagai cucu, atau keponakan, karena aku adalah cucu pertama dalam keluarga
besar ini. Paman-paman, dan Bibi-bibiku belum ada memomong seorang anak, sebagian
dari mereka belum menikah. Sebab itu banyak yang mengasuhku, aku seperti punya
banyak ayah dan ibu.
Aku
tinggal bersama kedua orang tuaku, dan dua orang tua lagi yang kusebut sebagai
kakek dan nenek, dalam rumah mungil sederhana nan hangat. Hanya itu yang aku
tau, saudaraku. Keluarga kecilku yang sederhana nan indah, dan bisa kau
bayangkan betapa aku dimanja dalam keluarga besarku. Aku tak tau bagaimana
bercerita, karena sesungguhnya aku belum cukup untuk mengerti, saudaraku. Aku
tidak mengerti mengapa ada banyak kakek, nenek, paman, dan bibi. Aku tidak
cukup mengerti apa hubungan mereka dengan orang tuaku, dengan aku.
Jika
keluarga besarku bertemu, aku senantiasa menjadi pusat perhatian. Mereka senang
untuk berada disekelilingku, aku juga tidak mengerti mengapa mereka senang
untuk menertawakanku. Biasanya mereka riang ketika aku menjawab pertanyaan
mereka, atau ketika aku melakukan hal yang mereka minta. Sesekali aku
berkomentar tentang apa yang mereka lakukan, dan tentu saja gelak tawa
mengiringi, mereka terpingkal. Aku hanya tau terheran atas tingkah mereka dan
tertawa sipu malu.
Hari-hari
yang penuh tawa itu bukan berarti aku tak pernah menangis, saudaraku.
Seringkali aku menangis, jika aku ingin dimanja dan tak dituruti. Kadang makan
aku ingin disuap, senantiasa aku merengek meminta, ibu bilang aku harus belajar
makan sendiri. Atau ketika aku tidak diberi ijin untuk mengambil sesuatu benda,
ibu bilang berbahaya. Tapi tiap tangis rengekku itu dibujuk rayulah oleh
mereka, keluargaku. Mereka teramat suka mengalihkan perhatian, membujukku
dengan rayuan, sampai berhenti saja rengekku. Hahaha! Mereka selalu berhasil,
saudaraku. Tetapi bukan itu, saudaraku. Tangis yang semudah itu bisa aku
lupakan, bukan itu maksudku. Banyak hal membingungkan, menyulitkan aku untuk
mengerti, sampai hati membuatku menangis.
Pernah
dalam kesederhanaan keluargaku, Ibu pergi memilih tinggal bersama orang tuanya
dan tiada pulang pada ayah dalam berapa hari. Ibu pergi tiada tinggalkan pesan,
padaku, pada ayah. Ayah pun tak pernah hirau ketika aku menangisi ibu. Aku
tidak mengerti, saudaraku, pulang pun ibu hanya untuk melihatku yang sempat
sakit kala itu. Ia tiada bicara pada ayah, bahkan melirik pun tidak. Tapi, yang
aku hiraukan hanya untuk melepas rindu pada ibu. Aku ingin beranjak ikut ibu
pergi, dan ayah dengan geramnya memaksakku untuk tinggal. Tinggalah aku, dengan
kerinduan pada ibuku.
Beruntunglah
aku hari itu telah lalu, saudaraku. Tapi ketahuilah, bahwa bukan sekali itu
saja aku lara itu. Aku pernah merasa aneh dalam dadaku, dibuat gelisah oleh
sesuatu hal yang aku lihat. Suatu ketika ayah pulang dari kerjanya membawa
sebungkus lauk untuk aku dan ibu. Girang aku menyambutnya, tapi tidak demikian
ibu. Ibu tiada bersahut pertanyaan-pertanyaan ayah yang agaknya sedang lelah.
Ibu memasakkan telur untuk makanku, dan lalu menyuapi nasi untukku, bungkusan
buah tangan ayah tak sedikitpun tersentuh ibu. Aku lihat ayah menawari Ibu yang
sama sekali tiada bersahut rupanya. Aku hanya dengan lahap makan, sampai habis
butir-butir nasi di atas piring mungil, bergegas aku keluar untuk bermain lagi.
Ya.. aku biasa bermain dengan bibiku, melancong ke ruangan sebelah untuk
sekadar berkumpul dengan kakek, nenekku. Sampai aku dengar jerit Ibu, dan turut
keras suara ayah bicara yang entah apa. Nenek segera mengambil tubuhku,
membawaku dalam dekapannya, sementara kakek beranjak menuju hampiri ayah dan
ibu. Aku tidak mengerti akan yang terjadi, saudaraku. Aku bahkan tak lagi
berani masuk ke ruangan untuk bersama ayah, dan ibu. Gelak tawa yang sedari
tadi ketika aku bersama kakek, nenek, dan bibiku tidak lagi sekarang. Nenek
hanya memintaku untuk segera tidur disisinya. Aneh sekali rasanya di dadaku,
saudaraku. Betapapun aku berusaha untuk tertidur, ini sangat menyulitkan.
Pagi hari semua bertingkah seolah tak
pernah terjadi apa semalam. Seperti biasa, ayah, dan ibu beranjak untuk bekerja
mencari rupiah, nenek sibuk memasak, kakek asyik mengurusi tanaman hiasnya. Aku
pun tak kalah mencari kesibukkan. Banyak barang bekas tak terpakai, aku senang
bermain dengan mereka. Aku rakit-rakitkan dengan seikat tali rafia, aku anggap
benda itu dalam imajinasiku ‘ogoh-ogoh’,
‘bade’, dan hal lain aku senangi.
Hari-hari
terus berjalan sebagaimana biasanya, sudah pun ayah dan ibu dalam tegur sapa
dan cengkerama. Aku cukup tau untuk melihat bagaimana komunikasi ibu dan ayah,
tapi belum cukup untuk mengerti sebab dan bagaimana bisa ayah dan ibu yang
saling berdiam kadangkala. Sampai umurku, saudaraku.. kini kesempatanku
berguru, aku akan memulai belajar untuk lebih mengerti sesuatu. Kini kesibukan
pagiku dengan seragam, aku disekolahkan di sebuah Taman Kanak-kanak. Disini aku
belajar tentang dunia luar, belajar dengan berteman, belajar dengan bermain,
yang aku tau aku di tempat ini untuk belajar, dan ternyata inilah belajar.
Dua
minggu sudah aku dengan seragam lalui pagi. Malam ini, aku berdiam saja dalam
ruangan bersama ibu, sampai larut malam ayah tiada pulang. Petang tadi ayah keluar,
tidak dengan seragam kerjanya, mungkin hendak berlancong sebentar. Tidak tau
mengapa ibu suram itu, tiada sedikitpun ibu menarik sudut bibirnya. Aku
terkantuk berbaring di tempat tidur. Sementara ibu terduduk dan sibuk sendiri
tiada melirikku. Berat mataku dan hampir tertidur, terdengar suara mengejutkan
dan membelalak mataku terbuka. Lemari mungil dI depanku dengan dibanting ibu
terbuka, seragamku... keras! Aku menangis dengan sekuat tenaga, aku ingin
sekeras-kerasnya, terus mengadu dalam tangisku, dengan suara terbata, napas
yang terisak “I-i-i..bu.. ke-ke-napa bakar se-seragam-ku, bu..!” segera nenek
datang dan menggapaiku, menangis aku dan terus mengadu dalam dekapannya, kakek
pun coba tenangkan aku, ditinggal ibu sendirian dalam ruangannya. Hanya
menangis yang bisa untuk kulakukan, saudaraku.. aku tak dapat untuk
mengungkapkan, aku belum cukup tau bagaimana bertanya untuk hal serumit itu.
Yang tak dapat untuk aku tanyakan, “apa salahku, ibu? tidakkah boleh aku
mengerti? Aku ingin belajar untuk mengerti, tiadakah ibu ijinkan? Mengapa ibu?
perlukah aku tanya ayah? Lalu mengapa ayah?”
Agung Sri Nandini, SMA N 1 Bangli
By:
Anak Agung Sri Nandini
On 17.38
Langganan:
Postingan (Atom)







