Suara genta memecah
keheningan, asap dupa menari-nari membumbung angkasa. Suasana amat khusuk sore
itu di pura. Seorang wanita tua duduk di barisan depan, di belakangnya para
pemudi duduk dengan membawa catatan kidung mereka. Tuniang Rai, begitu para
anak-anak dan remaja menyebut wanita itu. Ialah orang yang dituakan di desa,
atau juga disebut penglingsir desa.
Meskipun
Tuniang Rai sudah tua, keriput di wajahnya tak begitu kentara. Tubuhnya pun
masih tegap, kulitnya kencang. Selain itu ia masih sangat kuat, ia mampu
bersimpuh berjam-jam selama di pura, bahkan anak remaja saja tak mampu
melakukannya.
“Ida ratu...” seorang remaja putri mulai mengeluarkan suara
gemulainya membuka kidung untuk mengiringi suara genta, menambah suasana
khusuk. Remaja lainnya mulai mengikuti. Mungkin ini adalah pertama kalinya,
kidung dinyanyikan oleh para remaja. Biasanya kidung hanya dinyanyikan oleh
mereka yang sudah berpengalaman dalam Gita
Santi. Remaja-remaja ini rupanya telah berlatih setiap hari sabtu, dan
disepakati setiap rerahinan di pura,
mereka akan mekidung. Lain halnya
bila dalam upacara besar, barulah para penggelut Gita Santi yang mekidung
dengan tentunya dengan pengeras suara.
Suasana ini tidak
seperti biasanya, nyanyian kidung oleh remaja-remaja itu membuat bulu kuduk
merinding. Sesungguhnya bukan suara yang teramat merdu, namun niat yang tulus
dari para remaja putri itu. Nampak jelas di muka Tuniang Rai, haru yang amat
dalam, namun lebih dalam lagi, entah apa yang dirasakannya. Air matanya runtuh,
tangisnya sampai terisak. Memang mengharukan, para generasi muda ini melakukan
perubahan yang amat mengesankan, tapi lebih dalam dari itu Tuniang Rai
meluapkan tangis kerinduan. Hanya Tuniang Rai yang sampai menangis, mungkin
lainnya merasa heran, namun lebih dalam lagi semua mengerti.
Dalam hati Tuniang Rai
bicara “Jika aku bersujud, aku tinggalkan hasrat cintaku padamu, namun aku
sertakan doa selalu bersamamu. Kita berdampingan dalam sujud kita pada Tuhan,
dulu.. namun kini, jika bersujud yang kutinggalkan ialah rinduku padamu, lalu
aku sertakan doa agar kau dapat lebur dengan-Nya. Sujudku kini berdamping rindu
dan sisa bayangmu” Tuniang Rai begitu dalam rindunya, pada kekasih tercinta,
pujaan hatinya, suaminya. Betapa ia sangat merindukan, saat seorang laki-laki
duduk disampingnya, dengan destar
putih bersumpang kembang sepatu di kepalanya, penuh wibawa.
Air mata Tuniang Rai
berlinang, kidung dan suara genta dalam suasana yang khusuk itu mengingatkan ia
pada suaminya.
“Senangnya Gungkak mendengar
suara kalian..” Gungkak Rai menoleh kebelakang sambil tersenyum memuji para
remaja putri itu, cucunya-dalam khayalan Tuniang Rai-.


Nice banget puisi nya gan... Inspiratif banget deh pokok nyaa.... Sukses terus buat gungsri64.blogspot. Com!!!
BalasHapusMelali sini trs ya gan.. Jngan bosen" 👍👍
HapusMelali sini trs ya gan.. Jngan bosen" 👍👍
Hapus