Sabtu, 30 Januari 2016

“Rindu, dan Sisa Bayang”

07.28


Suara genta memecah keheningan, asap dupa menari-nari membumbung angkasa. Suasana amat khusuk sore itu di pura. Seorang wanita tua duduk di barisan depan, di belakangnya para pemudi duduk dengan membawa catatan kidung mereka. Tuniang Rai, begitu para anak-anak dan remaja menyebut wanita itu. Ialah orang yang dituakan di desa, atau juga disebut penglingsir desa.
            Meskipun Tuniang Rai sudah tua, keriput di wajahnya tak begitu kentara. Tubuhnya pun masih tegap, kulitnya kencang. Selain itu ia masih sangat kuat, ia mampu bersimpuh berjam-jam selama di pura, bahkan anak remaja saja tak mampu melakukannya.
Ida ratu...” seorang remaja putri mulai mengeluarkan suara gemulainya membuka kidung untuk mengiringi suara genta, menambah suasana khusuk. Remaja lainnya mulai mengikuti. Mungkin ini adalah pertama kalinya, kidung dinyanyikan oleh para remaja. Biasanya kidung hanya dinyanyikan oleh mereka yang sudah berpengalaman dalam Gita Santi. Remaja-remaja ini rupanya telah berlatih setiap hari sabtu, dan disepakati setiap rerahinan di pura, mereka akan mekidung. Lain halnya bila dalam upacara besar, barulah para penggelut Gita Santi yang mekidung dengan tentunya dengan pengeras suara.
Suasana ini tidak seperti biasanya, nyanyian kidung oleh remaja-remaja itu membuat bulu kuduk merinding. Sesungguhnya bukan suara yang teramat merdu, namun niat yang tulus dari para remaja putri itu. Nampak jelas di muka Tuniang Rai, haru yang amat dalam, namun lebih dalam lagi, entah apa yang dirasakannya. Air matanya runtuh, tangisnya sampai terisak. Memang mengharukan, para generasi muda ini melakukan perubahan yang amat mengesankan, tapi lebih dalam dari itu Tuniang Rai meluapkan tangis kerinduan. Hanya Tuniang Rai yang sampai menangis, mungkin lainnya merasa heran, namun lebih dalam lagi semua mengerti.
Dalam hati Tuniang Rai bicara “Jika aku bersujud, aku tinggalkan hasrat cintaku padamu, namun aku sertakan doa selalu bersamamu. Kita berdampingan dalam sujud kita pada Tuhan, dulu.. namun kini, jika bersujud yang kutinggalkan ialah rinduku padamu, lalu aku sertakan doa agar kau dapat lebur dengan-Nya. Sujudku kini berdamping rindu dan sisa bayangmu” Tuniang Rai begitu dalam rindunya, pada kekasih tercinta, pujaan hatinya, suaminya. Betapa ia sangat merindukan, saat seorang laki-laki duduk disampingnya, dengan destar putih bersumpang kembang sepatu di kepalanya, penuh wibawa.
Air mata Tuniang Rai berlinang, kidung dan suara genta dalam suasana yang khusuk itu mengingatkan ia pada suaminya.

“Senangnya Gungkak mendengar suara kalian..” Gungkak Rai menoleh kebelakang sambil tersenyum memuji para remaja putri itu, cucunya-dalam khayalan Tuniang Rai-.

Written by

We are Creative Blogger Theme Wavers which provides user friendly, effective and easy to use themes. Each support has free and providing HD support screen casting.

3 komentar:

  1. Nice banget puisi nya gan... Inspiratif banget deh pokok nyaa.... Sukses terus buat gungsri64.blogspot. Com!!!

    BalasHapus

 

© 2013 Melukis Langit. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top