Hatinya terus saja cemas, dalam pikiran ia tak pernah
tenang. Bahkan bila pun senyumnya sumringah tiap bertemu pembeli yang
kebanyakan anak sekolah masih ABG. Sepulangnya dari jualan di kantin,
barangkali muka rindunya tak mampu lagi bersembunyi. Dalam bilik, semuanya
seolah bercerita. Baginya tak akan pernah ada ranjang yang lebih nyaman
dibanding ranjang berkasur kapuk miliknya itu. Atau selimut yang lebih hangat
dibanding selimut loreng tipis, sejak pernikahannya 10 tahun lalu.
Kecemadan dalam hatinya begitu kejam hingga tak pernah
membiarkan tuannya untuk tidur dan melepas lelah dengan tenang. Beranjak dari
ranjangnya, ia pergi ke halaman rumah menemui satu-satunya orang yang hidup
bersamanya, laki-laki yang ia cintai. "Apa yang kau lakukan?",
tanyanya. Gede masih saja dengan pekerjaannya, menata taman. Lagi-lagi Alit
menepuk pundak Gede dan bertanya dengan suara lebih keras "Apa yang kau
lalukan?". " Ah? aku sedang membuatkan pagar untuk taman ini",
sahut Gede dengan suara yang juga keras. Gede memang memiliki gangguan pada
pendengarannya, sebab itu Alit harus berbicara keras agar di dengar, sebaliknya
suara Gede juga keras. Meski dalam bicara mereka berdua bising, tak pernah
dalam rumah mereka merasa ramai. Mereka selalu kesepian.
***
"Ini cicipilah.."
"Lezat sekali"
"Hei aku juga mau"
"Ayolah kalian boleh ambil semua, makanlah yang banyak"
Kalimat-kalimat itu masih sangat jelas terekam dalam memori Alit.
"Aah, anak-anak manis" hatinya. "Sayur apa yang kau buat", suara
Gede memecah keheningan di tengah hari terik, "kangkung tumis, ayo
makanlah.. Aku juga siapkan telur ayam rebus untukmu". Sejenak ia keluar dari
bayangan masa lalu, memerhatikan suaminya tengah makan dengan lahap, ia kembali
teringat.
Anak-anak manis, dulu ketika mereka masih ABG, mereka amat
senang bermain di rumah mungil ini. Tempat yang amat menyenangkan bagi mereka,
juga nyaman untuk belajar kelompok. Sesekali mereka menginap.
"Bu Alit, apa tidak ada selimut lagi"
"Aah.. Kau pasti kedinginan, meski berdesakkan masih
dingin juga.. Gunakan kain ini"
"Hey aku juga mau, tidak ada lagi, bu Alit?"
"Tentu saja, ini gunakanlah. Ada yang mau lagi?"
"Aku..!"
Seperti melihat anak-anak itu penuh keceriaan, tapi itu
sudah terjadi, dan sudah bertahun-tahun berlalu. Alit hanya termangu, dari dapur
beranjak ke ruang tamu semakin sunyi bercerita. Meja, kursi, cermin, jam dinding,
vas bunga, seolah tak punya topik lain untuk dibicarakan. Mereka semua begitu
merindu. Alit tersenyum tipis, hidup dengan kerinduan, sungguh berat baginya.
Denting jam sangat jelas terdengar di telinganya, sedetik
pun amat terasa berat, hidup dalam bayang kebahagiaan. Iya.. Sungguh tak mampu
ia menyangkal, ia tak pernah merasakan bahagia yang sesungguhnya. Matanya
tertuju pada sebuah pintu kayu menuju bilik kecil. Tanpa ia sadari, tubuhnya
telah berdiri tepat di depan pintu itu, tangannya perlahan membuka pintu itu.
Bagai bermimpi. "Ah.. Rina, mengapa kau lari dari Ibu.." tak dapat
lagi dicegah, pipi Alit yang mulai mengeriput, basah oleh air mata.
"Aku tak pernah melahirkanmu, tapi tak bisakah kau
menjadi anakku?" tangis alit semakin terasa berat, air matanya terus
menetes. Ia tak pernah mampu untuk berhenti menyesali hidupnya, ia sungguh
merasa kesepian. "Sudah jangan menangis", Gede datang menerka air
mata Alit, istri tercintanya. "Kau tak perlu khawatir, Rina pasti akan
pulang kemari, mengertilah ia juga merindukkan ibu dan ayah kandungnya".
Setiap hari, Alit tak pernah lupa bahwa ia memang tidak bisa
memiliki anak, namun ia selalu rindu. Rindu itu tak bertuan, ia rindu anaknya,
tapi siapa anaknya? Entah apa yang mampu mengobati rindunya. Sekalipun bertemu
kembali dengan Rina, apalah artinya jika ia tak miliki?
"Katakan dia juga anak kita kan?" Gede bungkam.


0 komentar:
Posting Komentar