Aku baru saja memikirkanmu ketika kau muncul dalam pembaruan
Aku merasa jatuh cinta dengan cara yang terlalu kekinian
Cinta yang digital,
Semuanya menjadi sangat lucu cenderung gila
Hampir setiap saat aku memikirkanmu, selalu..
Apakah selamanya, tentang dirimu harus tetap maya?
Kenapa kau tinggalkan aku dalam kesulitan ini?
Bagaimana aku harus bersikap lagi?
Kau bungkam tak mau sedikit pun bergeming
Ini sangat menyakitkan bagiku, sungguh!
Menahan diri untuk tidak menghubungimu..
Lebih sulit daripada mempertahankan obrolan ketika bicara denganmu..
Sekarang bagaimana, masih bolehkah aku berharap padamu?
Kamis, 05 Mei 2016
Selasa, 26 April 2016
Suratku II: Teruntuk Pria Ambigu
Aku menulis ini dengan sadar bahwa aku hanya perempuan
Maafkan aku yang lancang
Perasaanku begitu egois hingga tak dapat kucegah..
Mencarimu kemana".. Memikirkanmu setiap saat.. Menghubungimu tiap waktu.. Bahkan mungkin telah mengganggumu..
Perasaanku begitu egois.. Tak berpikir apakah pantas, karena aku hanya perempuan..
Sejauh mana boleh aku berpikir, berkata", dan berbuat untuk mendapat perhatianmu saja..
Begitu egoisnya.. Sampai tak mampu kucegah untuk merasa girang bila kau bertanya saja.. Tak juga mampu kucegah untuk merasa kecewa jika suatu waktu kau acuh, menjadi pendiam, bahkan tak mau bicara padaku lagi.. Padahal, memangnya aku siapa? Lalu, takkan bisa kucegah air mata jatuh.. Aku tak tau, pada bagian mana aku telah salah bicara padamu.. Tapi aku tak pernah berhenti memikirkan itu.. Hingga kini, saat mungkin saja kau sudah bosan..
Maafkan perasaanku yang egois.. Tak kuasa kucegah untuk mencari tau tentangmu, berusaha untuk dapat bertemu denganmu, mencari alasan untuk bicara denganmu, dan menghabiskan waktuku untuk mengagumimu..
Maafkan perasaanku yang egois.. Tak dapat aku hentikan sampai saat ini.. Tak dapat aku hentikan untuk berharap padamu.. Meskipun aku tau sejak awal, harapan itu sangat jauh.. Tapi tetap saja aku berharap dan berusaha mendapat perhatianmu saja..
Maafkan perasaanku, ia sangat egois.. Hanya ingin memilih untuk mendapatkanmu, seolah tak ada pilihan lain dalam hidupku.. Sangat buntu, sangat kaku, tak mau mencari jalan lain, tak mau memilih cinta lain..
Aku akan biarkan keegoisan perasaanku ini, terbakar amarahnya sendiri.. Meski menyakitkan, dan tidak dapat dalam waktu yang singkat.. Perlahan saja.. Perasaan itu akan menjadi abu termakan keegoisannya.. Jika suatu ketika surat ini sampai padamu, maukah kau menanyakan kabar perasaanku yang egois ini? Karena mungkin saja, ia masih kuat bertahan bersama dengan keyakinan untuk mendapatkanmu..
Maafkan aku yang lancang
Perasaanku begitu egois hingga tak dapat kucegah..
Mencarimu kemana".. Memikirkanmu setiap saat.. Menghubungimu tiap waktu.. Bahkan mungkin telah mengganggumu..
Perasaanku begitu egois.. Tak berpikir apakah pantas, karena aku hanya perempuan..
Sejauh mana boleh aku berpikir, berkata", dan berbuat untuk mendapat perhatianmu saja..
Begitu egoisnya.. Sampai tak mampu kucegah untuk merasa girang bila kau bertanya saja.. Tak juga mampu kucegah untuk merasa kecewa jika suatu waktu kau acuh, menjadi pendiam, bahkan tak mau bicara padaku lagi.. Padahal, memangnya aku siapa? Lalu, takkan bisa kucegah air mata jatuh.. Aku tak tau, pada bagian mana aku telah salah bicara padamu.. Tapi aku tak pernah berhenti memikirkan itu.. Hingga kini, saat mungkin saja kau sudah bosan..
Maafkan perasaanku yang egois.. Tak kuasa kucegah untuk mencari tau tentangmu, berusaha untuk dapat bertemu denganmu, mencari alasan untuk bicara denganmu, dan menghabiskan waktuku untuk mengagumimu..
Maafkan perasaanku yang egois.. Tak dapat aku hentikan sampai saat ini.. Tak dapat aku hentikan untuk berharap padamu.. Meskipun aku tau sejak awal, harapan itu sangat jauh.. Tapi tetap saja aku berharap dan berusaha mendapat perhatianmu saja..
Maafkan perasaanku, ia sangat egois.. Hanya ingin memilih untuk mendapatkanmu, seolah tak ada pilihan lain dalam hidupku.. Sangat buntu, sangat kaku, tak mau mencari jalan lain, tak mau memilih cinta lain..
Aku akan biarkan keegoisan perasaanku ini, terbakar amarahnya sendiri.. Meski menyakitkan, dan tidak dapat dalam waktu yang singkat.. Perlahan saja.. Perasaan itu akan menjadi abu termakan keegoisannya.. Jika suatu ketika surat ini sampai padamu, maukah kau menanyakan kabar perasaanku yang egois ini? Karena mungkin saja, ia masih kuat bertahan bersama dengan keyakinan untuk mendapatkanmu..
By:
Anak Agung Sri Nandini
On 16.28
Suratku: Teruntuk Pria Ambigu
Aku menulis ini dengan sadar bahwa aku hanya perempuan..
kisah yang klasik
yang sudah berkali" aku alami
sayangnya tetap saja aku ulangi
yang berbeda kali ini hanyalah
bahwa aku tidak pernah bertemu denganmu
jika boleh aku ketahui
adakah hatimu sudah dimiliki?
siapa gadis yang kau tunggu?
apakah kau sedang..
bersungguh" menyukai seseorang
dan tidak bisa menoleh siapapun lagi?
begitu juga yang sudah kualami..
tapi disaat bersamaan, aku kehilangan org yang sungguh" padaku
dan org yang aku tunggu pun, akhirnya tidak bersamaku
aku hanya ingin memastikan..
apakah kau sungguh tidak ingin menoleh sama skali?
dan membiarkan dirimu kehilangan orang yang sungguh" padamu?
kata orang, jangan menunggu bulan jatuh
menunggu hal yang tak mungkin..
agar dapat kuputuskan utk tetap berjuang atau mundur..
dengan melepaskan segala perasaan canggung dan malu layaknya perempuan
yang hanya bisa menunggu
aku ingin mengatakan
harapanku jika masih mungkin, aku ingin kau memalingkan wajahmu, berhenti menunggu gadis pujaanmu itu, karena ada seseorang yang bersungguh" padamu
dan orang itu adalah aku
iya.. aku sudah menyukaimu
kisah yang klasik
yang sudah berkali" aku alami
sayangnya tetap saja aku ulangi
yang berbeda kali ini hanyalah
bahwa aku tidak pernah bertemu denganmu
jika boleh aku ketahui
adakah hatimu sudah dimiliki?
siapa gadis yang kau tunggu?
apakah kau sedang..
bersungguh" menyukai seseorang
dan tidak bisa menoleh siapapun lagi?
begitu juga yang sudah kualami..
tapi disaat bersamaan, aku kehilangan org yang sungguh" padaku
dan org yang aku tunggu pun, akhirnya tidak bersamaku
aku hanya ingin memastikan..
apakah kau sungguh tidak ingin menoleh sama skali?
dan membiarkan dirimu kehilangan orang yang sungguh" padamu?
kata orang, jangan menunggu bulan jatuh
menunggu hal yang tak mungkin..
agar dapat kuputuskan utk tetap berjuang atau mundur..
dengan melepaskan segala perasaan canggung dan malu layaknya perempuan
yang hanya bisa menunggu
aku ingin mengatakan
harapanku jika masih mungkin, aku ingin kau memalingkan wajahmu, berhenti menunggu gadis pujaanmu itu, karena ada seseorang yang bersungguh" padamu
dan orang itu adalah aku
iya.. aku sudah menyukaimu
By:
Anak Agung Sri Nandini
On 16.26
Selasa, 15 Maret 2016
Ambigu
Kau adalah ambigu
Bicaramu seakan tak mau
Tapi di sela waktu padatmu
Kau curikan secuil untukku
Kau adalah ambigu
Bahasamu seakan kesal akanku
Tapi diantara kalimatmu
Kau selipkan sepotong tawa bagiku
Sungguh.. Kau adalah ambigu
Kukira kau terganggu
Tidak, katamu
Kukira kau senang
Tidak kubertanya, tapi kuharap iya..
Bisakah aku bertanya?
Aku bisa.. Hanya takut
Meski hampir gila aku dibuat
Oleh ambigumu
By:
Anak Agung Sri Nandini
On 06.05
Minggu, 06 Maret 2016
Saling Menghargai : Konsep Umat Hindu di Bali
Jaman sudah modern. Tidak ada bedanya lagi anak keturunan raja, brahmana ataupun rakyat jelata. Yang berbeda kini orang kaya atau orang miskin. Dahulu bangsa Sudra harus "meletakkan" bangsa Ksatria dan Brahmana di atas kepala mereka. Keto kone.. tapi konsep yang diterapkan dahulu itupun sesungguhnya bukan begitu. Bicara soal "kasta" di Bali. Bukan, sesungguhnya bukan "kasta". Ajaran "kasta" tidak ada dalam sastra Hindu, sesungguhnya yang ada hanya wangsa dan warna. "Kasta" hanya salah tafsir masyarakat Hindu di Bali pada jaman dahulu. Kedudukan Brahmana, Raja, Weisya, dan rakyat jelata diurutkan secara vertikal, padahal sesungguhnya semuanya memiliki kedudukan yang horizontal. Tidak ada yang lebih tinggi, juga tidak ada yang lebih rendah atau lebih nista. Saat ini tidak berlaku lagi "kasta", iya memang seharusnya begitu dari dulu. Jika seseorang bekerja di bidang pendidikan dan seni maka ia Brahmana, yang bekerja di bidang pemerintahan ialah Ksatria, yang melakukan pekerjaan pedagang ialah Weisya, dan yang membantu pekerjaan-pekerjaan itu ialah Sudra. Demikian jika ada Anak Agung, Gusti, Ida Bagus, Cokorda, Dewa, hanya nama yang menunjukkan berasal dari keturunan mana, tetapi tetap saja kedudukan kita semua sama. Jadi.. dadi me-cang/cai? (bicara kasar/menggunakan basa kapara). Tidak, bukan begitu. Sebaliknya mereka dari wangsa Ksatria dan Brahmana bolehkah bicara kasar pada wangsa yang "dianggap" berkedudukan dibawahnya? tidak! lebih salah lagi.
Mungkin banyak orang *maaf* sudra yang menganggap tidak adil adanya kedudukan-kedudukan, lalu memilih melupakan dan menghapus konsep tersebut. Sekali lagi, jaman sudah modern, dan memang seharusnya tidak ada konsep "kasta", jangan gunakan lagi! Tetapi, ini bukan ajang balas dendam. Bukan berarti kita lupa diri, beberapa orang justru menjadi campah, mulai bicara dan berbuat asal-asalan. Jika kita bisa belajar lebih bijak, konsep itu memberi pelajaran bagi kita semua untuk saling menghargai dan menunjukkan bahwa kita semua saling membutuhkan satu sama lain.
Sebaliknya tidak sedikit juga orang dari keturunan Brahmana dan Ksatria yang merasa berkedudukan tinggi, dan tak mau meninggalkan konsep yang "keliru" itu. Tidak seharusnya kita menunjukkan nama dan kedudukan kita, apalagi yang di era ini sudah tidak berlaku. Jika ingin maka tunjukkanlah sikap yang menggambarkan kebijaksanaan, wibawa sehingga kita dapat dihargai, dan tentunya kita harus selalu menghargai orang lain tanpa melihat orang berasal dari keturunan mana. Justru jika merasa sebagai orang yang "berkulit" harusnya kita lebih menjaga nilai, karena apabila kita melakukan kesalahan kecil saja, nilai yang berkurang dalam diri akan jauh lebih besar.
Sebagai orang Bali, saudara seumat Hindu, kita harus menyatukan persepsi. Mari berbuat saling menghargai, dengan bijak menerima ajaran leluhur yang telah diturunkan sampai kini, jangan justru saling menjelekkan, sama saja mencoret muka sendiri. Tulisan ini hanya sebagai klarifikasi apabila ada yang salah tafsir tentang konsep warna dan wangsa. Terima kasih sudah berkunjung ^^
Mungkin banyak orang *maaf* sudra yang menganggap tidak adil adanya kedudukan-kedudukan, lalu memilih melupakan dan menghapus konsep tersebut. Sekali lagi, jaman sudah modern, dan memang seharusnya tidak ada konsep "kasta", jangan gunakan lagi! Tetapi, ini bukan ajang balas dendam. Bukan berarti kita lupa diri, beberapa orang justru menjadi campah, mulai bicara dan berbuat asal-asalan. Jika kita bisa belajar lebih bijak, konsep itu memberi pelajaran bagi kita semua untuk saling menghargai dan menunjukkan bahwa kita semua saling membutuhkan satu sama lain.
Sebaliknya tidak sedikit juga orang dari keturunan Brahmana dan Ksatria yang merasa berkedudukan tinggi, dan tak mau meninggalkan konsep yang "keliru" itu. Tidak seharusnya kita menunjukkan nama dan kedudukan kita, apalagi yang di era ini sudah tidak berlaku. Jika ingin maka tunjukkanlah sikap yang menggambarkan kebijaksanaan, wibawa sehingga kita dapat dihargai, dan tentunya kita harus selalu menghargai orang lain tanpa melihat orang berasal dari keturunan mana. Justru jika merasa sebagai orang yang "berkulit" harusnya kita lebih menjaga nilai, karena apabila kita melakukan kesalahan kecil saja, nilai yang berkurang dalam diri akan jauh lebih besar.
Sebagai orang Bali, saudara seumat Hindu, kita harus menyatukan persepsi. Mari berbuat saling menghargai, dengan bijak menerima ajaran leluhur yang telah diturunkan sampai kini, jangan justru saling menjelekkan, sama saja mencoret muka sendiri. Tulisan ini hanya sebagai klarifikasi apabila ada yang salah tafsir tentang konsep warna dan wangsa. Terima kasih sudah berkunjung ^^
By:
Anak Agung Sri Nandini
On 22.04
Perempuan Menanti Pagi
Selamat datang mentari
Pagi telah kembali
Aku belum pernah semangat ini
Beranjak dari mimpi, lalu...
Mengingatmu sepanjang hari
Selamat pagi kekasih
Hari telah berganti
Baru saja kau hadir dalam mimpi
Kini dalam hidup
Pun aku selalu merindu
Sudahkah kau jatuh cinta padaku pagi ini?
Pada suatu pagi yang selalu kunanti
Kau kan katakan tanpa kutanyakan lagi
Hingga kini ku masih hanya bermimpi
Aku, perempuan menanti pagi
Pagi telah kembali
Aku belum pernah semangat ini
Beranjak dari mimpi, lalu...
Mengingatmu sepanjang hari
Selamat pagi kekasih
Hari telah berganti
Baru saja kau hadir dalam mimpi
Kini dalam hidup
Pun aku selalu merindu
Sudahkah kau jatuh cinta padaku pagi ini?
Pada suatu pagi yang selalu kunanti
Kau kan katakan tanpa kutanyakan lagi
Hingga kini ku masih hanya bermimpi
Aku, perempuan menanti pagi
By:
Anak Agung Sri Nandini
On 21.13
Rabu, 03 Februari 2016
Monolog Kisah Bung Karno
oke.. sebenernya monolog ini gua tulis udah lama banget gengs.. waktu itu gua dipanggil sama guru Bahasa Indonesia gua, jadi ceritanya gua diminta buat tampil teater monolog di acara peringatan kelahiran Bung Karno. Saat itu gua gak langsung nyanggupin, alnya sebenernya gue ikut paduan suara di acara yang sama juga. 2 hari sebelum acara gua dipanggil lagi, dan ternyata guru padus gua juga yang nyaranin gua buat ikutan teater monolog itu, so gua mesti nulis monolog Bung Karno. semaleman gua streaming youtube nyari kisah Bung Karno buat refrensi nulis.. dan akhirnya jengjeengg... ini dia monolog tentang kisah Bung Karno, semoga kalian suka yeah...
Syukur: Bangun
Saudaraku
Halo, saudaraku semua!
Hayyy….. Oiiiiiyyy, saudaraku..!! Hay kamu semua, tidak ada hendak menyahut
aku? Bah aduhh, gawat! Kemana kamu semua saudaraku, sudah bangun kamu sudah
bangun? Hehehehe… aku cuma hendak cerita, eee mau dengar? Mau? Aduh dari mana
ya? (bertingkah seperti orang gila)
Eeee,,, sssttt,
sekarang dengar! Saya serius… Semalam, hihi(sok malu) saya mimpi
(mesem-mesem)... Ayah belikan aku sepeda baru, (hihihiihi).. Ada belnya,
kring-kring, kring-kring.... (langsung muka sedih) tapii.. aku baru kendarai
sampai timur sana, aduuuhh.. aku bangun, kepalaku… tidak sakit, aduuhh
pinggang.. tidak juga… Oh, mimpi rupanya.
Ahhh, syukur aku… tidak
sungguh-sungguh jatuh. Tidak pinggangku, tidak kepalaku, hahaha, tidak ada yang
sakit! Kamu ada mimpi semalam? Jatuh juga? Sakit? Ahhh… syukur kamu! Setidaknya
kamu bangun, lagi dalam kamar.. Coba kamu bayangkan, kalau bangun di bui?
Bagaimana? Aaaahhh, aduuhhh… anak muda!
Kalau sudah begini..
aku ingat pada Bapak Proklamasiku.. Bung Karno.. Dulu,.. waktu beliau dibui, di
Suka Miskin, di Bandung.
"Rambutku dipotong
hampir gundul, dimilimeter dalam bahasa Belandanya. Hampir segala apa yang saya
bawa dari rumah tahanan (penjara Banceuy, Kota Bandung)--semuanya diambil
(petugas)," Aku Bung Karno.
"Mandi yang
lamanya ditentukan enam menit. Makan, makan nasi merah dengan sambal yang
sederhana," "Pukul sembilan (malam) cahaya (kamar) mesti digelapkan
dengan tidak dapat disangkal lagi. Hari ini sudah bekerja dan besoknya bekerja
keras lagi, saya mesti lekas tidur."
Aduuhh, coba kamu, aku
begitu.. tak tahan sakit pinggang itu…. Tapi.. Bung Karno tidak pernah lepas
dari prinsipnya. Yang ia tau, selepas Suka Miskin, perjuangan berlanjut! Itu…
Kepada isteriku..dia
boleh datang melihat dan berbicara dengan saya dua kali dalam sebulan serta
tidak boleh membawa 'oleh-oleh' untukku. Berapakah lamanya (membesuk), cuma
sepuluh menit," melalui sepucuk surat pada istrinya, Bung Karno
mengabarkan telah dipindahkan dari rumah tahanan Banceui ke Suka Miskin.
Aku gelisah. Sebelahku,
tetangga bilik ketjil ini para koruptor, oknum pejabat bule semua, mereka
bicara cuma masalah makan, cuaca, semua yang tidak penting. Tidak ada lawan aku
bicara perjuangkan merdeka. Aku tidak dapat membaca berita Koran, tak tau kabar
kawan-kawan berjuangku disana.
Ah istriku, Nggitku
datang, Nggitku datang.. dia bawa telur? Ya itu dia!
Asin, iya asin, oh
tidak apa yang sedang terjadi. Sepuluh menit punyaku yang selalu berharga,
rasanya sia-sia saja. Tidak ada gunanya, setauku kabar buruk. 10 menit menjadi
tidak ada gunanya. Para polisi Belanda ini, sial! Aku tidak dapat kesempatan..
Aku habiskan sepuluh
menit untuk mendengar suara matanya. Matanya yang sayu itu, oh sudah lama aku
tidak mengecupnya.. mata itu bicara padaku. Setauku bukan berita baik,
sebagaimana kabar dari telur asin itu. Oh aku ingin tau apa yang terjadi.
Kamu tau? Telur asin!
Ahahaha… Iya telur asin, sekarang kamu sudah punya telepon. Kamu merdeka
tentang mau bilang apa, tidak Bung Karno tempo itu. Sudah aku bilang, kan?
Bersyukurlah kamu…
Lagi 10 hari Nggitku
datang lagi, aku tidak tahan melihat wajahnya yang lesu itu, badannya kering
kerontang “Mas, ingatlah hari ini tanggal 24 April”. Begitu ujarnya padaku,
lalu al-Qur’an ia gapai dari balik kain sarinya, untukku hari itu. 10 menit itu
lagi memikirkan, tentang apa yang diungkap istriku ini. Ya.. Surat keempat di
halaman 24. Huruf apa yang dibawakan istriku hari ini.
Aahh… aku hampir putus
asa, sampai istriku bisa berkabar, aku sudah berjanji. Dan satu-satunya yang
aku tau.. Setalah aku bebas, perjuangan berlanjut!
Kamuu,. Saudaraku
semua. Bangunlah bangun, kamu ini sudah merdeka kok ya begini? Ingatlah, apa
yang dipesankan Bung Karno “Kita bangsa besar, kita bukan bangsa tempe. Kita
tidak akan mengemis, kita tidak akan minta-minta apalagi jika bantuan-bantuan
itu diembel-embeli dengan syarat ini syarat itu ! Lebih baik makan gaplek
tetapi merdeka, dari pada makan bestik tetapi budak.”
Kamu, anak muda,
kawanku semua.. kamu punya kekuatan besar, Bung Karno pernah mengatakan, bahwa
ia percaya kemampuan kita pemuda. “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan
kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan
dunia”
Aku, kamu semua
kawanku.. harus memiliki kita sebagai Bangsa Indonesia. Penerus yang
berkualitas, itu kita.. karena Bung Karno pernah berkata “Perjuanganku lebih
mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena
melawan bangsamu sendiri.”
Artinya kawan, di
pundak kita punya tanggung jawab lebih besar, jadi bergegaslah. Loncat dari
tempat tidurmu, dahului Sang Surya, Goncang dunia, tunjukkan kita, Bangsa
Indonesia!
***
jadi gimana menurut kalian guys? kebayang ga, waktu gua tampil ini, gua akting kayak orang gila, ngomong sendiri ga jelas. Anak-anak pada ketawa nontonin gua, tapi guys.. buat elo-elo yang suka nulis, jangan cuma nulis, ayo ekspresiin. Lo wajib tau sensasinya, xixixixi
By:
Anak Agung Sri Nandini
On 03.06
Langganan:
Postingan (Atom)




