Jaman sudah modern. Tidak ada bedanya lagi anak keturunan raja, brahmana ataupun rakyat jelata. Yang berbeda kini orang kaya atau orang miskin. Dahulu bangsa Sudra harus "meletakkan" bangsa Ksatria dan Brahmana di atas kepala mereka. Keto kone.. tapi konsep yang diterapkan dahulu itupun sesungguhnya bukan begitu. Bicara soal "kasta" di Bali. Bukan, sesungguhnya bukan "kasta". Ajaran "kasta" tidak ada dalam sastra Hindu, sesungguhnya yang ada hanya wangsa dan warna. "Kasta" hanya salah tafsir masyarakat Hindu di Bali pada jaman dahulu. Kedudukan Brahmana, Raja, Weisya, dan rakyat jelata diurutkan secara vertikal, padahal sesungguhnya semuanya memiliki kedudukan yang horizontal. Tidak ada yang lebih tinggi, juga tidak ada yang lebih rendah atau lebih nista. Saat ini tidak berlaku lagi "kasta", iya memang seharusnya begitu dari dulu. Jika seseorang bekerja di bidang pendidikan dan seni maka ia Brahmana, yang bekerja di bidang pemerintahan ialah Ksatria, yang melakukan pekerjaan pedagang ialah Weisya, dan yang membantu pekerjaan-pekerjaan itu ialah Sudra. Demikian jika ada Anak Agung, Gusti, Ida Bagus, Cokorda, Dewa, hanya nama yang menunjukkan berasal dari keturunan mana, tetapi tetap saja kedudukan kita semua sama. Jadi.. dadi me-cang/cai? (bicara kasar/menggunakan basa kapara). Tidak, bukan begitu. Sebaliknya mereka dari wangsa Ksatria dan Brahmana bolehkah bicara kasar pada wangsa yang "dianggap" berkedudukan dibawahnya? tidak! lebih salah lagi.
Mungkin banyak orang *maaf* sudra yang menganggap tidak adil adanya kedudukan-kedudukan, lalu memilih melupakan dan menghapus konsep tersebut. Sekali lagi, jaman sudah modern, dan memang seharusnya tidak ada konsep "kasta", jangan gunakan lagi! Tetapi, ini bukan ajang balas dendam. Bukan berarti kita lupa diri, beberapa orang justru menjadi campah, mulai bicara dan berbuat asal-asalan. Jika kita bisa belajar lebih bijak, konsep itu memberi pelajaran bagi kita semua untuk saling menghargai dan menunjukkan bahwa kita semua saling membutuhkan satu sama lain.
Sebaliknya tidak sedikit juga orang dari keturunan Brahmana dan Ksatria yang merasa berkedudukan tinggi, dan tak mau meninggalkan konsep yang "keliru" itu. Tidak seharusnya kita menunjukkan nama dan kedudukan kita, apalagi yang di era ini sudah tidak berlaku. Jika ingin maka tunjukkanlah sikap yang menggambarkan kebijaksanaan, wibawa sehingga kita dapat dihargai, dan tentunya kita harus selalu menghargai orang lain tanpa melihat orang berasal dari keturunan mana. Justru jika merasa sebagai orang yang "berkulit" harusnya kita lebih menjaga nilai, karena apabila kita melakukan kesalahan kecil saja, nilai yang berkurang dalam diri akan jauh lebih besar.
Sebagai orang Bali, saudara seumat Hindu, kita harus menyatukan persepsi. Mari berbuat saling menghargai, dengan bijak menerima ajaran leluhur yang telah diturunkan sampai kini, jangan justru saling menjelekkan, sama saja mencoret muka sendiri. Tulisan ini hanya sebagai klarifikasi apabila ada yang salah tafsir tentang konsep warna dan wangsa. Terima kasih sudah berkunjung ^^
Minggu, 06 Maret 2016
Saling Menghargai : Konsep Umat Hindu di Bali
22.04
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


apa yang telah di tulis dalam blog tersebut memang benar.Di mana bahwa semua mahluk hidup itu sama yaitu percikan kecil dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa(tuhan).Jadi setiap ciptaan beliau mrmiliki kedudukan yang sama dan sebagai ciptaannya kita harus saling menghormati dan mrnghargai, sehingga akan tercipta suasana yang santi dan tentram.
BalasHapusSuksma apresiasinya..
BalasHapus