Sabtu, 30 Januari 2016

“Rindu, dan Sisa Bayang”


Suara genta memecah keheningan, asap dupa menari-nari membumbung angkasa. Suasana amat khusuk sore itu di pura. Seorang wanita tua duduk di barisan depan, di belakangnya para pemudi duduk dengan membawa catatan kidung mereka. Tuniang Rai, begitu para anak-anak dan remaja menyebut wanita itu. Ialah orang yang dituakan di desa, atau juga disebut penglingsir desa.
            Meskipun Tuniang Rai sudah tua, keriput di wajahnya tak begitu kentara. Tubuhnya pun masih tegap, kulitnya kencang. Selain itu ia masih sangat kuat, ia mampu bersimpuh berjam-jam selama di pura, bahkan anak remaja saja tak mampu melakukannya.
Ida ratu...” seorang remaja putri mulai mengeluarkan suara gemulainya membuka kidung untuk mengiringi suara genta, menambah suasana khusuk. Remaja lainnya mulai mengikuti. Mungkin ini adalah pertama kalinya, kidung dinyanyikan oleh para remaja. Biasanya kidung hanya dinyanyikan oleh mereka yang sudah berpengalaman dalam Gita Santi. Remaja-remaja ini rupanya telah berlatih setiap hari sabtu, dan disepakati setiap rerahinan di pura, mereka akan mekidung. Lain halnya bila dalam upacara besar, barulah para penggelut Gita Santi yang mekidung dengan tentunya dengan pengeras suara.
Suasana ini tidak seperti biasanya, nyanyian kidung oleh remaja-remaja itu membuat bulu kuduk merinding. Sesungguhnya bukan suara yang teramat merdu, namun niat yang tulus dari para remaja putri itu. Nampak jelas di muka Tuniang Rai, haru yang amat dalam, namun lebih dalam lagi, entah apa yang dirasakannya. Air matanya runtuh, tangisnya sampai terisak. Memang mengharukan, para generasi muda ini melakukan perubahan yang amat mengesankan, tapi lebih dalam dari itu Tuniang Rai meluapkan tangis kerinduan. Hanya Tuniang Rai yang sampai menangis, mungkin lainnya merasa heran, namun lebih dalam lagi semua mengerti.
Dalam hati Tuniang Rai bicara “Jika aku bersujud, aku tinggalkan hasrat cintaku padamu, namun aku sertakan doa selalu bersamamu. Kita berdampingan dalam sujud kita pada Tuhan, dulu.. namun kini, jika bersujud yang kutinggalkan ialah rinduku padamu, lalu aku sertakan doa agar kau dapat lebur dengan-Nya. Sujudku kini berdamping rindu dan sisa bayangmu” Tuniang Rai begitu dalam rindunya, pada kekasih tercinta, pujaan hatinya, suaminya. Betapa ia sangat merindukan, saat seorang laki-laki duduk disampingnya, dengan destar putih bersumpang kembang sepatu di kepalanya, penuh wibawa.
Air mata Tuniang Rai berlinang, kidung dan suara genta dalam suasana yang khusuk itu mengingatkan ia pada suaminya.

“Senangnya Gungkak mendengar suara kalian..” Gungkak Rai menoleh kebelakang sambil tersenyum memuji para remaja putri itu, cucunya-dalam khayalan Tuniang Rai-.

Rindu Tak Bertuan


Hatinya terus saja cemas, dalam pikiran ia tak pernah tenang. Bahkan bila pun senyumnya sumringah tiap bertemu pembeli yang kebanyakan anak sekolah masih ABG. Sepulangnya dari jualan di kantin, barangkali muka rindunya tak mampu lagi bersembunyi. Dalam bilik, semuanya seolah bercerita. Baginya tak akan pernah ada ranjang yang lebih nyaman dibanding ranjang berkasur kapuk miliknya itu. Atau selimut yang lebih hangat dibanding selimut loreng tipis, sejak pernikahannya 10 tahun lalu.
Kecemadan dalam hatinya begitu kejam hingga tak pernah membiarkan tuannya untuk tidur dan melepas lelah dengan tenang. Beranjak dari ranjangnya, ia pergi ke halaman rumah menemui satu-satunya orang yang hidup bersamanya, laki-laki yang ia cintai. "Apa yang kau lakukan?", tanyanya. Gede masih saja dengan pekerjaannya, menata taman. Lagi-lagi Alit menepuk pundak Gede dan bertanya dengan suara lebih keras "Apa yang kau lalukan?". " Ah? aku sedang membuatkan pagar untuk taman ini", sahut Gede dengan suara yang juga keras. Gede memang memiliki gangguan pada pendengarannya, sebab itu Alit harus berbicara keras agar di dengar, sebaliknya suara Gede juga keras. Meski dalam bicara mereka berdua bising, tak pernah dalam rumah mereka merasa ramai. Mereka selalu kesepian.
***
"Ini cicipilah.."
"Lezat sekali"
"Hei aku juga mau"
"Ayolah kalian boleh ambil semua, makanlah yang banyak"
Kalimat-kalimat itu masih sangat jelas terekam dalam memori Alit. "Aah, anak-anak manis" hatinya. "Sayur apa yang kau buat", suara Gede memecah keheningan di tengah hari terik, "kangkung tumis, ayo makanlah.. Aku juga siapkan telur ayam rebus untukmu". Sejenak ia keluar dari bayangan masa lalu, memerhatikan suaminya tengah makan dengan lahap, ia kembali teringat.
Anak-anak manis, dulu ketika mereka masih ABG, mereka amat senang bermain di rumah mungil ini. Tempat yang amat menyenangkan bagi mereka, juga nyaman untuk belajar kelompok. Sesekali mereka menginap.
"Bu Alit, apa tidak ada selimut lagi"
"Aah.. Kau pasti kedinginan, meski berdesakkan masih dingin juga.. Gunakan kain ini"
"Hey aku juga mau, tidak ada lagi, bu Alit?"
"Tentu saja, ini gunakanlah. Ada yang mau lagi?"
"Aku..!"
Seperti melihat anak-anak itu penuh keceriaan, tapi itu sudah terjadi, dan sudah bertahun-tahun berlalu. Alit hanya termangu, dari dapur beranjak ke ruang tamu semakin sunyi bercerita. Meja, kursi, cermin, jam dinding, vas bunga, seolah tak punya topik lain untuk dibicarakan. Mereka semua begitu merindu. Alit tersenyum tipis, hidup dengan kerinduan, sungguh berat baginya.
Denting jam sangat jelas terdengar di telinganya, sedetik pun amat terasa berat, hidup dalam bayang kebahagiaan. Iya.. Sungguh tak mampu ia menyangkal, ia tak pernah merasakan bahagia yang sesungguhnya. Matanya tertuju pada sebuah pintu kayu menuju bilik kecil. Tanpa ia sadari, tubuhnya telah berdiri tepat di depan pintu itu, tangannya perlahan membuka pintu itu. Bagai bermimpi. "Ah.. Rina, mengapa kau lari dari Ibu.." tak dapat lagi dicegah, pipi Alit yang mulai mengeriput, basah oleh air mata.
"Aku tak pernah melahirkanmu, tapi tak bisakah kau menjadi anakku?" tangis alit semakin terasa berat, air matanya terus menetes. Ia tak pernah mampu untuk berhenti menyesali hidupnya, ia sungguh merasa kesepian. "Sudah jangan menangis", Gede datang menerka air mata Alit, istri tercintanya. "Kau tak perlu khawatir, Rina pasti akan pulang kemari, mengertilah ia juga merindukkan ibu dan ayah kandungnya".
Setiap hari, Alit tak pernah lupa bahwa ia memang tidak bisa memiliki anak, namun ia selalu rindu. Rindu itu tak bertuan, ia rindu anaknya, tapi siapa anaknya? Entah apa yang mampu mengobati rindunya. Sekalipun bertemu kembali dengan Rina, apalah artinya jika ia tak miliki?

"Katakan dia juga anak kita kan?" Gede bungkam.

Mengenai Saya

Foto saya
Ga boleh nyerah, kalo gagal ulang lagi sampe berhasil!
Diberdayakan oleh Blogger.

 

© 2013 Melukis Langit. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top