Rabu, 03 Februari 2016

Monolog Kisah Bung Karno

oke.. sebenernya monolog ini gua tulis udah lama banget gengs.. waktu itu gua dipanggil sama guru Bahasa Indonesia gua, jadi ceritanya gua diminta buat tampil teater monolog di acara peringatan kelahiran Bung Karno. Saat itu gua gak langsung nyanggupin, alnya sebenernya gue ikut paduan suara di acara yang sama juga. 2 hari sebelum acara gua dipanggil lagi, dan ternyata guru padus gua juga yang nyaranin gua buat ikutan teater monolog itu, so gua mesti nulis monolog Bung Karno. semaleman gua streaming youtube nyari kisah Bung Karno buat refrensi nulis.. dan akhirnya jengjeengg... ini dia monolog tentang kisah Bung Karno, semoga kalian suka yeah...

Syukur: Bangun Saudaraku

Halo, saudaraku semua! Hayyy….. Oiiiiiyyy, saudaraku..!! Hay kamu semua, tidak ada hendak menyahut aku? Bah aduhh, gawat! Kemana kamu semua saudaraku, sudah bangun kamu sudah bangun? Hehehehe… aku cuma hendak cerita, eee mau dengar? Mau? Aduh dari mana ya? (bertingkah seperti orang gila)
Eeee,,, sssttt, sekarang dengar! Saya serius… Semalam, hihi(sok malu) saya mimpi (mesem-mesem)... Ayah belikan aku sepeda baru, (hihihiihi).. Ada belnya, kring-kring, kring-kring.... (langsung muka sedih) tapii.. aku baru kendarai sampai timur sana, aduuuhh.. aku bangun, kepalaku… tidak sakit, aduuhh pinggang.. tidak juga… Oh, mimpi rupanya.
Ahhh, syukur aku… tidak sungguh-sungguh jatuh. Tidak pinggangku, tidak kepalaku, hahaha, tidak ada yang sakit! Kamu ada mimpi semalam? Jatuh juga? Sakit? Ahhh… syukur kamu! Setidaknya kamu bangun, lagi dalam kamar.. Coba kamu bayangkan, kalau bangun di bui? Bagaimana? Aaaahhh, aduuhhh… anak muda!
Kalau sudah begini.. aku ingat pada Bapak Proklamasiku.. Bung Karno.. Dulu,.. waktu beliau dibui, di Suka Miskin, di Bandung.
"Rambutku dipotong hampir gundul, dimilimeter dalam bahasa Belandanya. Hampir segala apa yang saya bawa dari rumah tahanan (penjara Banceuy, Kota Bandung)--semuanya diambil (petugas)," Aku Bung Karno.
"Mandi yang lamanya ditentukan enam menit. Makan, makan nasi merah dengan sambal yang sederhana," "Pukul sembilan (malam) cahaya (kamar) mesti digelapkan dengan tidak dapat disangkal lagi. Hari ini sudah bekerja dan besoknya bekerja keras lagi, saya mesti lekas tidur."
Aduuhh, coba kamu, aku begitu.. tak tahan sakit pinggang itu…. Tapi.. Bung Karno tidak pernah lepas dari prinsipnya. Yang ia tau, selepas Suka Miskin, perjuangan berlanjut! Itu…
Kepada isteriku..dia boleh datang melihat dan berbicara dengan saya dua kali dalam sebulan serta tidak boleh membawa 'oleh-oleh' untukku. Berapakah lamanya (membesuk), cuma sepuluh menit," melalui sepucuk surat pada istrinya, Bung Karno mengabarkan telah dipindahkan dari rumah tahanan Banceui ke Suka Miskin.
Aku gelisah. Sebelahku, tetangga bilik ketjil ini para koruptor, oknum pejabat bule semua, mereka bicara cuma masalah makan, cuaca, semua yang tidak penting. Tidak ada lawan aku bicara perjuangkan merdeka. Aku tidak dapat membaca berita Koran, tak tau kabar kawan-kawan berjuangku disana.
Ah istriku, Nggitku datang, Nggitku datang.. dia bawa telur? Ya itu dia!
Asin, iya asin, oh tidak apa yang sedang terjadi. Sepuluh menit punyaku yang selalu berharga, rasanya sia-sia saja. Tidak ada gunanya, setauku kabar buruk. 10 menit menjadi tidak ada gunanya. Para polisi Belanda ini, sial! Aku tidak dapat kesempatan..
Aku habiskan sepuluh menit untuk mendengar suara matanya. Matanya yang sayu itu, oh sudah lama aku tidak mengecupnya.. mata itu bicara padaku. Setauku bukan berita baik, sebagaimana kabar dari telur asin itu. Oh aku ingin tau apa yang terjadi.
Kamu tau? Telur asin! Ahahaha… Iya telur asin, sekarang kamu sudah punya telepon. Kamu merdeka tentang mau bilang apa, tidak Bung Karno tempo itu. Sudah aku bilang, kan? Bersyukurlah kamu…
Lagi 10 hari Nggitku datang lagi, aku tidak tahan melihat wajahnya yang lesu itu, badannya kering kerontang “Mas, ingatlah hari ini tanggal 24 April”. Begitu ujarnya padaku, lalu al-Qur’an ia gapai dari balik kain sarinya, untukku hari itu. 10 menit itu lagi memikirkan, tentang apa yang diungkap istriku ini. Ya.. Surat keempat di halaman 24. Huruf apa yang dibawakan istriku hari ini.
Aahh… aku hampir putus asa, sampai istriku bisa berkabar, aku sudah berjanji. Dan satu-satunya yang aku tau.. Setalah aku bebas, perjuangan berlanjut!
Kamuu,. Saudaraku semua. Bangunlah bangun, kamu ini sudah merdeka kok ya begini? Ingatlah, apa yang dipesankan Bung Karno “Kita bangsa besar, kita bukan bangsa tempe. Kita tidak akan mengemis, kita tidak akan minta-minta apalagi jika bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini syarat itu ! Lebih baik makan gaplek tetapi merdeka, dari pada makan bestik tetapi budak.”
Kamu, anak muda, kawanku semua.. kamu punya kekuatan besar, Bung Karno pernah mengatakan, bahwa ia percaya kemampuan kita pemuda. “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”
Aku, kamu semua kawanku.. harus memiliki kita sebagai Bangsa Indonesia. Penerus yang berkualitas, itu kita.. karena Bung Karno pernah berkata “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Artinya kawan, di pundak kita punya tanggung jawab lebih besar, jadi bergegaslah. Loncat dari tempat tidurmu, dahului Sang Surya, Goncang dunia, tunjukkan kita, Bangsa Indonesia!
***

jadi gimana menurut kalian guys? kebayang ga, waktu gua tampil ini, gua akting kayak orang gila, ngomong sendiri ga jelas. Anak-anak pada ketawa nontonin gua, tapi guys.. buat elo-elo yang suka nulis, jangan cuma nulis, ayo ekspresiin. Lo wajib tau sensasinya, xixixixi

Dialog Berbentuk Teks “Anekdot Hukum Peradilan”


Keluarga Pemilik: “Yang Mulia hakim, saya tidak terima keluarga saya kehilangan pedati beserta kuda dan dagangan di dalamnya karena jembatan yang dilalui roboh. Pembuat jembatan itu harus dihukum.”
Yang Mulia Hakim: “ya, benar. Baiklah kalau begitu, aku akan memanggil si tukang pembuat jembatan itu untuk datang ke persidangan ini sekarang!” (yang mulia hakim menoleh ke para pengawal) “hai pengawal, panggil si tukang pembuat jembatan kemari!”
Pembuat Jembatan: “Yang Mulia Hakim, apa kesalahan saya sehingga saya dipanggil ke persidangan?”
Yang Mulia Hakim: “Kesalahanmu sangat besar, karena kamu telah membuat jembatan dengan kayu yang jelek dan rapuh sehingga seseorang harus kehilangan kuda, pedati, dan dagangannya karena jembatan yang kau buat telah roboh.
Pembuat Jembatan: “Jika itu permasalahannya, tidak seharusnya Yang Mulia menyalahkan saya. Yang salah adalah si tukang kayu. Dialah yang membawakan kayu untuk saya buat menjadi jembatan.
Yang Mulia Hakim: “Benar juga apa yang pembuat jembatan katakan.” (memanggil pengawal) “hai pengawal, bawa si tukang kayu kemari untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya!”
Tukang Kayu: “Yang Mulia Hakim, apa kesalahan saya sehingga saya dipanggil ke persidangan?”
Yang Mulia Hakim: “Kesalahanmu sangat besar, karena kamu telah membawa kayu yang jelek dan rapuh untuk digunakan sebagai bahan jembatan oleh pembuat jembatan. Seseorang telah kehilangan pedati, kuda, dan dagangannya karena jembatan itu roboh.”
Tukang Kayu: “Kalau itu permasalahannya, Yang Mulia tidak sepantasnya menyalahkan saya. Yang salah adalah penjual kayu. Dialah yang menjual kayu jelek dan rapuh itu kepada saya.”
Yang Mulia Hakim: “benar juga yang dikatakan penjual kayu” (memanggil pengawal) “Hai pengawal, bawa penjual kayu kemari untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya!”
Penjual Kayu: “Yang Mulia Hakim, apa kesalahan saya sehingga saya dipanggil ke persidangan ini?”
Yang Mulia Hakim: “Kesalahanmu sangat besar, karena kamu telah menjual kayu yang jelek dan rapuh kepada tukang kayu, seseorang harus kehilangan kuda, pedati, dan dagangannya akibat jembatan yang roboh.
Penjual Kayu: “Kalau itu permasalahannya, tidak seharusnya Yang Mulia menyalahkan saya. Yang salah adalah pembantu saya. Dialah yang menyediakan beragam jenis kayu untuk dijual. Dialah yang memberi kayu jelek dan rapuh kepada si tukang kayu itu.”
Yang Mulia Hakim: “Benar juga yang dikatakan penjual kayu” (memanggil pengawal) “hai pengawal, bawa pembantu penjual kayu ini kemari, dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.”
Pembantu Tinggi dan Besar: “Yang Mulia Hakim, apa kesalahan saya sehingga saya dipanggil ke persidangan ini?”
Yang Mulia Hakim: “Kesalahanmu sangat besar, karena kamu telah menyediakan kayu yang rapuh dan jelek untuk dijual kepada tukang kayu yang kemudian digunakan untuk membuat jembatan. Sekarang jembatan itu roboh dan menyebabkan seseorang kehilangan kuda, pedati, dan dagangannya yang jatuh ke sungai.”
Pembantu Tinggi dan Besar: “Tapi yang mulia..” (kehabisan kata-kata untuk mencari alasan)
Yang Mulia Hakim: “Hai pengawal, penjarakan orang ini dan sita uangnya!”
Pengawal: “Ampun Yang Mulia, sangat sulit memenjarakan pembantu penjual kayu itu. Badannya terlalu tinggi dan besar, penjara yang kita punya terlalu sempit untuk orang ini. Dia juga tidak punya uang untuk disita, Yang Mulia.”
Yang Mulia Hakim: “Kamu bego amat! Gunakan dong akalmu, cari pembantu si penjual kayu yang pendek kurus dan punya uang!”
Pembantu Pendek dan Kurus: “Yang Mulia Hakim, apa kesalahan saya sehingga saya harus dipenjarakan?”
Yang Mulia Hakim: “Kesalahanmu adalah pendek, kurus, dan punya uang!” (berpaling memandang seluruh masyarakat dan bertanya) “Saudara-saudara, apakah hukuman penjara untuk pembantu pendek, kurus, dan punya uang tadi adil?”
Masyarakat: “Sangat Adil, Yang Mulia Hakim.”









Narasi Teks “Anekdot Hukum Peradilan”

            Seorang kerabat si Tukang Pedati mengadukan seorang pembuat jembatan kepada Yang Mulia Hakim karena jembatan yang dibuatnya runtuh dan menyebabkan si Tukang Pedati terjatuh ke sungai dan kehilangan kuda, pedati beserta barang dagangannya. Si Pembuat Jembatan disalahkan karena kayu untuk bahan jembatan itu tidak kuat dan menyebabkan jembatan runtuh.
            Si Pembuat jembatan tidak terima atas tuduhan yang ditujukan kepadanya. Ia membela diri dengan menimpakan kesalahannya kepada Tukang Kayu yang telah membawa kayu yang jelek dan rapuh untuknya.
            Si Tukang Kayu dipanggil ke persidangan. Seperti halnya si Pembuat Jembatan, Tukang Kayu pun tidak terima atas tuduhan yang ditujukan kepadanya. Dia menimpakan kesalahannya pada Penjual Kayu yang telah menjual kayu rapuh dan jelek itu pada dirinya.
            Penjual Kayu pun dipanggil ke persidangan. Dengan cepat penjual kayu menolak tuduhan yang ditujukan padanya. Penjual kayu punya alasan, bahwa yang salah adalah pembantunya yang menyediakan kayu rapuh dan jelek itu untuk dijual kepada Tukang Kayu.
            Yang Mulia Hakim pun memanggil seorang pembantu si Penjual Kayu. Pembantu Penjual Kayu tidak dapat memberikan alasan apapun, akhirnya hakim memutuskan untuk menghukumnya dengan memenjarakan dan menyita semua uang yang dimiliki oleh si Pembantu.
            Berselang beberapa menit, pengawal kembali menghadap Yang Mulia Hakim. Ternyata pengawal itu ingin mengadukan kepada Yang Mulia Hakim bahwa mereka kesulitan memenjarakan pembantu itu. Yang Mulia Hakim menanyakan kenapa pengawal tidak bisa memenjarakan pembantu itu, para pengawal pun memberikan alasan. Badan pembantu itu tinggi dan besar sementara penjaranya sangat sempit dan tidak cukup untuk pembantu itu, selain itu tidak ada yang bisa disita dari pembantu itu karena ia tidak punya uang sepeserpun.
            Yang Mulia Hakim marah besar, ia pun memerintahkan pengawal untuk mencari pembantu penjual kayu yang pendek, kurus, dan punya uang. Para Pengawal pun beranjak mencari pembantu penjual kayu yang pendek, kurus, dan punya uang. Sungguh malang nasib pembantu kurus, pendek dan punya uang, ia harus dipenjarakan dan semua uangnya disita oleh kerajaan.

            Setelah keputusan persidangan itu ditetapkan bahwa hukuman penjara dijatuhkan pada pembantu penjual kayu yang kurus, pendek dan punya uang. Yang Mulia Hakim menanyakan pada seluruh masyarakat yang hadir apakah keputusan yang telah diambil itu adil, dan seluruh masyarakat sepakat bahwa keputusan itu sangat adil.

Monolog Rintih Hati Saraswati


             Saudaraku.. satu-satunya mimpi terindah dalam hidupku adalah mendengar kicau burung pagi dan bernyanyi bersama mereka. Mendengarmu dan menjawab pertanyaanmu, memberitahumu apa yang tidak aku inginkan dan yang aku senang. Setidaknya beritahu aku cara mempelajari A, I, U, E, dan O selain dengan mendengar. Bahkan aku tak tau nada menangis yang baik dan benar, begitupun untuk tertawa. Mungkin saja tertawaku merusak telingamu, sebaliknya tangisku menggelikan bagimu.
            Aku benar-benar iba saudaraku. Kepada siapa lagi, kalau bukan padaku sendiri. Aku marah, aku terluka pada siapa lagi? Pada takdirku sendiri, saudaraku. Aku tidak marah padamu, dan engkau semua yang berbicara tanpa bisa kumengerti. Aku tidak benci padamu dan engkau semua yang hidup dalam irama dan nada. Tapi aku harus mengakui, aku iri. Ia aku iri padamu saudaraku, mengapa kau bisa mendengar apa yang tidak kudengar? Mengapa kau bisa ungkapkan dengan cara yang aku tak bisa?
            Tapi ibu bilang, aku harus mensyukurinya saudaraku. Dalam isyaratnya ibu bilang, aku beruntung, ibu bilang aku punya segalanya. Aku bahagia, ia aku bahagia. Aku punya ayah, 2 kakak, 2 adik yang semuanya menyayangiku. Ia aku mensyukurinya, dan aku bahagia. Aku bahagia sampai aku menyadari semua kebohongan itu. Ibu berbohong, aku sendiri, aku sebatang kara.
            Sejak paman pulang ke rumah kamis sore, aku selalu ingin itu hanya mimpi dan berherap akan segera bangun. Tapi iya.. aku tidak pernah tidur dan bermimpi akan hal itu, memang demikian adanya. Aku tidak pernah mengerti apa yang dibicarakan pamanku itu. Sementara aku benar-benar ingin tau kemana perginya ayah, ibu, kakak, dan adikku. Aku menunggu paman bicara, dan memasang mata baik-baik. Raut mukanya pucat pasi, tetapi nampak ia tidak sedang sakit. Lalu bibi yang selama ini menemaniku di rumah duduk dekatku, air matanya tumpah ruah tak keruan, aku menatapnya penuh heran. Paman datang bersama istrinya, merekapun merangkulku mesra, tak biasanya kali ini seperti menjaga berlian yang rapuh. Paman lalu memulai bicara setelah sekian lama bungkam. Mulutnya bergerak-gerak mantap, tangannya terus mengisyaratkan kata-kata. Tetapi sama sekali aku tak pahami.
            Lalu…
Sebuah potret kami sekeluarga. Ayah menggendong adikku terkecil. Si kecil menangis. Ibu sedang membujuknya untuk menghadap ke depan, kakakku tertua duduk di spatbor mobil sambil mengacungkan kedua tangan, kakakku yang muda menjulurkan kepala dari jendela mobil seraya melambai. Adikku tertua berpegangan dengan ibu, aku berdiri di tengah ayah dan ibu seraya mengagumi kebahagiaan kami saat itu.
            Peragaan paman menerangkan kejadian…
            Peragaan Saraswati menangis..
            Kenyataannya, kini aku merasa sebatang kara. Iya memang.. Saudaraku, jika semua yang indah hanya dalam mimpi, aku selalu berharap tidur selamanya.
            Ketika paman membawaku ke Bandung, tinggal bersama keluarganya. Mereka punya dua putra. Setelah kukenali merekalah Busra dan Bisri. Busra terlihat lebih pendiam namun sesungguhnya ramah, sebaliknya Bisri adiknya lebih lincah dan jahil. Bisri seumuran denganku. Hidupku semakin sunyi lagi, meskipun aku sesungguhnya tak sebatang kara lagi di tempat baru ini. Kini keluargaku pun baru. Namun tak merubah hidupku yang semakin hari semakin tersiksa. Aku terperangkap dalam amarah yang tak bisa aku ungkapkan. Mengapa harus juga bisu. Setidaknya buatlah aku bisa bicara, Tuhan…
            Peragaan adegan Busra membawakan kambing untuk Saraswati
Aku menerimanya. Tak ada pilihan lain. Tiap kali aku membawa kambingku mencari rumput, aku sangat tersiksa, aku bisa gila. Aku harus menahan diri, bersabar menghadapi tawa anak-anak sekampung yang sepertinya mengataiku dengan segala sebutan. Tak jarang melempari dengan kerikil-kerikil yang meskipun tak tajam menumbuk permukaan kulitku. Tetapi cukup tajam untuk menyayat hati. Kau tau, saudaraku. Aku tak tinggal seatap dengan mereka meski serumah. Mereka memberiku tempat di kamar kecil di belakang rumah utama. Aku sendirian. Malam hari aku memikirkan nasibku yang sungguh malang. Siapakah aku bagi mereka ini, begitu tega menjadikan aku penggembala kambing, membiarkanku terhina setiap hari, merasa terpuruk dan diasingkan di tempat tua belakang rumah. Apa yang mereka pikirkan. Aku benar dalam amarah yang membara.
Harusnya aku tidak ikut kemari. Harusnya aku tinggal di rumah bersama bibi di Jakarta. Aku ingin pulang, sungguh. Aku lebih baik tidak punya saudara, tidak punya ayah, tidak punya ibu ketimbang dirawat oleh orang-orang yang tidak menyayangiku. Aku lebih baik mati dan membiarkan tubuhku membusuk ketimbang hidup dengan cara seperti ini. Apa yang mereka inginkan dariku? Apakah mereka kira aku ini bodoh? Apakah mereka kira gadis bisu tuli ini tidak punya perasaan? Mereka kira aku kebal dicemooh dengan omongan. Aku memang tidak mendengar dengan telingaku, tapi hatiku merasakannya. Seperti diiris-iris, dirobek-robek dan dihancurkan dengan penuh gairah dengan cara yang membuat mereka senang.
Aku marah dan benar-benar marah, apa-apaan semua ini? Sebut saja aku gila. Tapi bebaskan aku dari semua hinaan ini. Sungguh aku tidak senang diperlakukan seperti ini.
Peragaan adegan kemarahan Saraswati
Inilah hidupku saudaraku.. begitu penuh dengan siksaan, kesengsaraan yang mendalam aku rasakan. Maka aku selalu ingin menceritakan padamu semua tentang hidupku. Agar setidaknya air mataku tak sendirian jatuh ke tanah.
Busra menenangkan Saraswati

Setelah itu memang benar, aku tak lagi menggembala kambing, kini aku menjadi gadis yang pingit. Pekerjaanku meniup tungku di dapur, memanasi air, mengasapi daging. Ini baru sebagian kecil dari hidupku yang penuh cobaan. Sampai keajaiban membuatku mampu menceritakan semua padamu. Ketika aku mulai mendengar dengan telapak tangan dan berbicara dengan isyarat juga huruf. Sebuah mula cubitan keras mengenalkanku pada huruf A. dan cara-cara lain memperkenalkan pada huruf sisanya. Semua seperti keajaiban.

Mengenai Saya

Foto saya
Ga boleh nyerah, kalo gagal ulang lagi sampe berhasil!
Diberdayakan oleh Blogger.

 

© 2013 Melukis Langit. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top