Syukur: Bangun
Saudaraku
Halo, saudaraku semua!
Hayyy….. Oiiiiiyyy, saudaraku..!! Hay kamu semua, tidak ada hendak menyahut
aku? Bah aduhh, gawat! Kemana kamu semua saudaraku, sudah bangun kamu sudah
bangun? Hehehehe… aku cuma hendak cerita, eee mau dengar? Mau? Aduh dari mana
ya? (bertingkah seperti orang gila)
Eeee,,, sssttt,
sekarang dengar! Saya serius… Semalam, hihi(sok malu) saya mimpi
(mesem-mesem)... Ayah belikan aku sepeda baru, (hihihiihi).. Ada belnya,
kring-kring, kring-kring.... (langsung muka sedih) tapii.. aku baru kendarai
sampai timur sana, aduuuhh.. aku bangun, kepalaku… tidak sakit, aduuhh
pinggang.. tidak juga… Oh, mimpi rupanya.
Ahhh, syukur aku… tidak
sungguh-sungguh jatuh. Tidak pinggangku, tidak kepalaku, hahaha, tidak ada yang
sakit! Kamu ada mimpi semalam? Jatuh juga? Sakit? Ahhh… syukur kamu! Setidaknya
kamu bangun, lagi dalam kamar.. Coba kamu bayangkan, kalau bangun di bui?
Bagaimana? Aaaahhh, aduuhhh… anak muda!
Kalau sudah begini..
aku ingat pada Bapak Proklamasiku.. Bung Karno.. Dulu,.. waktu beliau dibui, di
Suka Miskin, di Bandung.
"Rambutku dipotong
hampir gundul, dimilimeter dalam bahasa Belandanya. Hampir segala apa yang saya
bawa dari rumah tahanan (penjara Banceuy, Kota Bandung)--semuanya diambil
(petugas)," Aku Bung Karno.
"Mandi yang
lamanya ditentukan enam menit. Makan, makan nasi merah dengan sambal yang
sederhana," "Pukul sembilan (malam) cahaya (kamar) mesti digelapkan
dengan tidak dapat disangkal lagi. Hari ini sudah bekerja dan besoknya bekerja
keras lagi, saya mesti lekas tidur."
Aduuhh, coba kamu, aku
begitu.. tak tahan sakit pinggang itu…. Tapi.. Bung Karno tidak pernah lepas
dari prinsipnya. Yang ia tau, selepas Suka Miskin, perjuangan berlanjut! Itu…
Kepada isteriku..dia
boleh datang melihat dan berbicara dengan saya dua kali dalam sebulan serta
tidak boleh membawa 'oleh-oleh' untukku. Berapakah lamanya (membesuk), cuma
sepuluh menit," melalui sepucuk surat pada istrinya, Bung Karno
mengabarkan telah dipindahkan dari rumah tahanan Banceui ke Suka Miskin.
Aku gelisah. Sebelahku,
tetangga bilik ketjil ini para koruptor, oknum pejabat bule semua, mereka
bicara cuma masalah makan, cuaca, semua yang tidak penting. Tidak ada lawan aku
bicara perjuangkan merdeka. Aku tidak dapat membaca berita Koran, tak tau kabar
kawan-kawan berjuangku disana.
Ah istriku, Nggitku
datang, Nggitku datang.. dia bawa telur? Ya itu dia!
Asin, iya asin, oh
tidak apa yang sedang terjadi. Sepuluh menit punyaku yang selalu berharga,
rasanya sia-sia saja. Tidak ada gunanya, setauku kabar buruk. 10 menit menjadi
tidak ada gunanya. Para polisi Belanda ini, sial! Aku tidak dapat kesempatan..
Aku habiskan sepuluh
menit untuk mendengar suara matanya. Matanya yang sayu itu, oh sudah lama aku
tidak mengecupnya.. mata itu bicara padaku. Setauku bukan berita baik,
sebagaimana kabar dari telur asin itu. Oh aku ingin tau apa yang terjadi.
Kamu tau? Telur asin!
Ahahaha… Iya telur asin, sekarang kamu sudah punya telepon. Kamu merdeka
tentang mau bilang apa, tidak Bung Karno tempo itu. Sudah aku bilang, kan?
Bersyukurlah kamu…
Lagi 10 hari Nggitku
datang lagi, aku tidak tahan melihat wajahnya yang lesu itu, badannya kering
kerontang “Mas, ingatlah hari ini tanggal 24 April”. Begitu ujarnya padaku,
lalu al-Qur’an ia gapai dari balik kain sarinya, untukku hari itu. 10 menit itu
lagi memikirkan, tentang apa yang diungkap istriku ini. Ya.. Surat keempat di
halaman 24. Huruf apa yang dibawakan istriku hari ini.
Aahh… aku hampir putus
asa, sampai istriku bisa berkabar, aku sudah berjanji. Dan satu-satunya yang
aku tau.. Setalah aku bebas, perjuangan berlanjut!
Kamuu,. Saudaraku
semua. Bangunlah bangun, kamu ini sudah merdeka kok ya begini? Ingatlah, apa
yang dipesankan Bung Karno “Kita bangsa besar, kita bukan bangsa tempe. Kita
tidak akan mengemis, kita tidak akan minta-minta apalagi jika bantuan-bantuan
itu diembel-embeli dengan syarat ini syarat itu ! Lebih baik makan gaplek
tetapi merdeka, dari pada makan bestik tetapi budak.”
Kamu, anak muda,
kawanku semua.. kamu punya kekuatan besar, Bung Karno pernah mengatakan, bahwa
ia percaya kemampuan kita pemuda. “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan
kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan
dunia”
Aku, kamu semua
kawanku.. harus memiliki kita sebagai Bangsa Indonesia. Penerus yang
berkualitas, itu kita.. karena Bung Karno pernah berkata “Perjuanganku lebih
mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena
melawan bangsamu sendiri.”
Artinya kawan, di
pundak kita punya tanggung jawab lebih besar, jadi bergegaslah. Loncat dari
tempat tidurmu, dahului Sang Surya, Goncang dunia, tunjukkan kita, Bangsa
Indonesia!
***
jadi gimana menurut kalian guys? kebayang ga, waktu gua tampil ini, gua akting kayak orang gila, ngomong sendiri ga jelas. Anak-anak pada ketawa nontonin gua, tapi guys.. buat elo-elo yang suka nulis, jangan cuma nulis, ayo ekspresiin. Lo wajib tau sensasinya, xixixixi


