Minggu, 21 September 2014

Tanpa Judul

Aku menarik nafas
Aku hembuskan
Sekali lagi
Aku ulangi, begitu..
dan terus begitu..
Sampai sesak aku rasakan
Sesuatu menyentil hatiku
Entah ini benda, virus, atau apa..
Ia membuat mataku perih
Ada air membendung di pelupuk mataku
Tunggu dulu
Ada apa?
belum sempat terjawab
Tetes demi tetes
Air mata membasuh lukaku
Biarlah, mengalir..
Ini hari hatiku tak ingin
Berbagi dengan pikiranku
Air mata apa..
Nafas ini menyakitkan
Tapi tak aku tau maknanya
Tangisanku ini tanpa judul
tanpa alasan, tanpa tujuan

Kuat

Aku benci jadi orang kuat
Karena harus tersenyum di depanmu
Saat aku hanya perlu menangis

Aku benci jadi orang kuat
Karena harus terpaksa berbicara
Saat aku hanya ingin membisu

Alasan sederhana
Aku kuat,tak ingin jauh..
hilang.. pergi darimu

Senin, 15 September 2014

Cermin Retak

“Maafkan aku ya Ririn, kita tak bisa bersama lagi... aku harus ikut orang tuaku ke Jakarta, kamu baik-baik disini yaah... aku janji, aku akan selalu berkabar lewat surat..”
            Kurang lebih kalimat itulah yang sempat kuucapkan pada Ririn 5 tahun lalu, tepatnya ketika kami masih berumur 12 tahun. Tapi baru kini aku ingat janjiku itu. Kini semua telah ku sesali, aku hanya bisa menangis untuk mengeluarkan isi hatiku yang tengah penuh dan sesak.
***
            Akhirnya aku sampai di Ibukota, SMP Harapan akan menjadi tempatku bernaung untuk belajar. Aku tak sabar menanti esok. Esok akan menjadi hari yang menyenangkan dimana aku akan bertemu dengan teman-teman baru, guru baru, dan belajar dengan suasana baru.
            Malam semakin larut, hingga tiba waktunya bagiku untuk beristirahat, melepas lelah selama perjalanan panjang tadi. Kaki-kakiku melangkah ke lantai dua tempat tinggalku yang megah, hingga berhenti di sebuah ruangan dengan tempat tidur bernuansa pink yang membuatku merasa sangat nyaman. Aku pun menarik selimut tebal agar dapat menghangatkan tubuhku yang tengah berbaring di atas tempat tidur empuk yang membuat mataku semakin mudah untuk mengatup dan menghantarkanku dalam sebuah mimpi yang tentunya sangat indah.
***
            “selamat pagi teman-teman, nama saya Klara.. saya pindahan dari Bogor, semoga teman-teman bisa menerima saya disini...” sapaku pada teman-teman baruku di kelas saat pertama aku bersekolah, semburat wajah ramah aku lemparkan pada setiap orang yang ada di dalam kelas. Sosok anggun yang tengah berdiri di sampingku di depan kelas itu pun mempersilahkanku untuk duduk. Ku pilih sebuah bangku kosong tepat di sebelah orang yang sedari tadi tersenyum ramah padaku.  Tanpa basa-basi gadis manis itu mengulurkan tangannya, berucap sembari tersenyum “Namaku Monika, kamu Klara kan? Salam kenal...”. ku balas senyuman, dan kutautkan jemari tanganku pada jemari lembut tangannya, sebagai tanda perkenalan.
            Sebuah awal pertemuan yang amat singkat, tapi persahabatan kami kan terjalin selamanya. ku kira begitu. Aku dan Monika tak pernah berpisah, kami amat senang menghabiskan waktu luang di beberapa Mall besar di Jakarta, berbelanja menjadi agenda rutin bagi kami. Gaji yang diperoleh dari pekerjaan ayahku sebagai manajer di perusahaan milik ayah Monika sangat mencukupi kehidupan keluargaku, jadi meski aku agak boros, itu tidak menjadi masalah. Aku sering berkunjung ke rumah Monika, dan begitu juga sebaliknya. Kami biasa bercengkerama tentang semua yang kami suka, seperti fashion dan banyak hal yang berbau kecantikan, selain itu kami juga sering berbicara tentang teknologi, dan melupakan segala hal yang berbau kuno atau jadil. Semua kami lalui bersama sampai lulus SMP, kami memutuskan untuk melanjutkan ke SMA Harapan.
***
            “Klara...” terdengar suara Monika mencoba mengajakku berbicara.
            “iya” aku pun menjawab dan menoleh kepadanya.
            “bosen niih, dikamarmu melulu, kita ke tempat lain aja yuk! Ke mall kek...” ajaknya dengan mimik cemberut.
            “aku lagi kere niih... belakangan aku belum sempet minta uang sama Papa, ke taman belakang rumahku aja yuk..” ajakku.
            “yaa... bolehlah, kedengarannya asik juga...” Monika menerima ajakanku. Kami berjalan bersama-sama menuju ke belakang rumah, taman yang indah menyambut kami. Aahh sejuk sekali rasanya, kami memang sering kemari dikala bosan.
            “permisi non, di depan ada tukang pos, katanya ada surat untuk non Klara” Bi Ijah tiba-tiba saja datang.
            “Surat dari siapa, Bi?” tanyaku dengan semburat wajah kebingungan.
            “eemm.. Bibi..” entah apa yang mau dibicarakan Bi Ijah, kalimatnya putus oleh bentakan Monika yang cukup membuatku terkejut.
            “Apa?! Tukang pos??” Monika sontak berbicara keras, kemudian dengan cepat berlari ke depan rumah. Aku dan Bi Ijah mengejarnya dari belakang. Dengan cepat Monika menyerobot amplop putih dari tangan seorang lelaki paruh baya dengan pakaian oranye yang tengah berdiri menunggu di depan rumah.
            “hahaha... jaman sekarang masih saja surat-suratan! Gila! Kamu masih juga punya sahabat kampungan kayak gini!” ucapnya memakiku. Segera kuambil surat yang ada di tangan Monika, ternyata surat itu dari Ririn. Sial! gadis kampungan ini, benar-benar membuatku malu, ngga... jangan sampai Monika tau kalau Ririn adalah teman sepermainanku sewaktu kecil, ngga boleh..! gumamku dalam hati.
            “heei, siapa orang ini, pasti dia salah alamat. Mana mungkin aku punya sahabat kampungan seperti pengirim surat ini!” aku pun mengelak, aku tak ingin Monika tau semuanya, memalukan. Dengan segala kekesalan kuremas dan kurobek-robek kertas bertulis tangan itu, kuhempaskan potongan-potongan kecil kertas putih itu, kuinjak-injak, dan kubiarkan tercecer begitu saja di lantai.
***
            “Papa pulaang...” terdengar suara Papa malam itu, begitu lemas. Mama menyambutnya dengan senyuman dan tak lupa menyodorkan secangkir kopi panas dihadapan Papa.
            “Papa... aku minta uang donk, aku udah seminggu gak shoping ni Pa...” keluhku dihadapan Papa yang kala itu terlihat lemas sepulang kerja.
            “Sayang... Papa minta sekarang ini kamu jangan minta uang lagi, Papa minta maaf sama kalian. Sebenarnya Papa  sudah dipecat lima hari yang lalu, Papa sudah berusaha mencari pekerjaan lain, tapi tak ada satu perusahaan pun yang mau menerima Papa.” Papa menjawab keluhanku dengan keluhan yang lebih menyakitkan lagi.
            “Apa?? ngga mau Pa,, pokoknya Klara ngga mau tau, Papa harus cepet dapet pekerjaan biar Klara bisa shoping lagi!” dengan wajah cemberut aku berucap, lalu pergi ke kamar dan menangis. Sementara itu ibu dan ayah masih berdiskusi, entah apa yang mereka bicarakan.
            “dor.. dor.. dor..!” tiba-tiba saja terdengar seseorang secara kasar menggedor pintu rumah, aku terkejut, beranjak dari tempat tidurku lalu ke luar dengan semburat wajah penuh kekecewaan, masih memikirkan apa yang baru saja diucapkan Papa. Mama membukakan pintu, ternyata di depan telah menunggu, 3 orang  berotot memakai pakaian serba hitam, dengan suara tegas berkata.
            “Bapak Hendrawan, sebaiknya segera keluarkan semua barang Bapak, besok Bapak harus meninggalkan rumah ini, sebelum kami yang harus mengeluarkan semuanya secara paksa! Rumah ini milik perusahaan!” kata-kata dengan nada tinggi dan cukup keras itu benar-benar menyayat hatiku. rasanya aku ingin menangis dan berteriak sekencang-kencangnya akan semua ini, aku sangat membenci hari ini.
***
            “Monika, aku mau curhat...” belum selesai kalimatku, Monika telah menjawab dengan tatapan memaki, nada tinggi, dan suara cukup keras, yang kurasa pasti didengar oleh seluruh orang di kelas saat itu.
            “Kenapa? Papamu dipecat? Terus apa hubungannya sama aku? Ihh... sorry ya, aku ni ngga ada waktu buat bantuin orang miskin kayak kamu!!” aku setengah tak percaya mendengar ucapan itu, rasanya hatiku disayat oleh ribuan pisau yang sangat tajam. Hampir saja aku menumpahkan air mata di depan Monika. Ketika Monika dan lainnya berlalu, meledak tangisku keluar, bagaimana tidak? Aku pikir cermin hidup sejatiku adalah Monika, tapi ternyata aku salah, dan kini aku hanya berteman kekecewaan.
***

            Perjalanan dengan kereta ekonomi tadi akhirnya membawaku kembali kemari, ke kampung halaman yang lama kutinggal pergi. Aku kembali ke rumah kecil nan sederhana, aku baru tersadar betapa sudah terlalu lama aku meninggalkan kebahagiaan kecil di tempat ini. Aku merindukan Ririn, tapi sedari tadi aku tak melihatnya, aku sempat mengirim surat untuknya, tapi belum kuterima balasnya. Aku hanya bisa mengenang masa lalu nan indah bersama Ririn disini. Kini hanya tinggal sebuah penyesalan. Aku baru sadar, sedari dulu ada sebuah cermin dalam kehidupanku, cermin itu adalah Ririn. Dia selalu terlihat sama denganku, ketika aku tersenyum dia juga tersenyum, aku menangis dia juga menangis, aku senang dia senang, aku sedih dia juga akan sedih. Berbeda dengan Monika, Monika hanya mau ikut bersenang denganku, namun ia tak pernah mau ikut terlarut dalam keluh kesah dan dukaku. Aku rasa cermin sejatiku sudah retak, sukar ia bertemu denganku. Aku memang sudah keterlaluan, janji 5 tahun lalu, baru kini kuingat. Kini aku hanya bisa berharap, agar luluh hati Ririn menerimaku kembali. Aku ingin kembali melihat senyumku, dan tangisku dalam semburat wajah manisnya.

Agung Sri Nandini, SMA Negeri 1 Bangli

baru abis bongkar-bongkar arsip cerpen nihh,, jadul.. :p

Minggu, 14 September 2014

Tak Boleh Jadi Dusta

Aku hanya tau terisak dalam sunyi, mengubur diri dalam gelap bahkan ketika mentari masih bersinar. Mengurung diri dalam ruang mungil tempat semayam mimpi-mimpi yang selalu lalang dalam setiap lelapku. Mimpi yang sudah benar terkubur bahkan sebelum ku bangun. Ini semakin mengoyak hati, yang terngiang di telingaku hanya sebaris kata, “Nanda, kamu pasti bisa!”. Sebaris kata yang kini tinggal dusta, dustakah aku? Ucapan ayah itu tidak benar kini, karena aku tak sebisa ayah ucapkan. Jadi siapakah dusta? Mataku masih saja meneteskan luka, luka atas kekecewaan yang mendalam.
          Ayah bilang aku pasti bisa, dan kenyataannya tidak seperti yang terkatakan. Menjadi sulung dari lima bersaudara sungguh berat. Apalagi mengingat beban orang tuaku yang semakin menjadi. Ayah di luar segala kewajibannya sebagai PNS, juga terlibat aktif di dunia jurnalistik. Bunda pun turun tangan menopang keuangan dengan membuka warung kecil-kecilan. Sebagai sulung, adalah tanggung jawab kepada orang tua dan adik-adikku. Kerja keras menjadi menu wajib bagiku. Kini aku menangis harus menghapus cita-citaku, aku tak bisa untuk duduk di Fakultas Kedokteran, permasalahan ekonomi dalam keluargaku menjadi alasan mengapa harus angan terhapus. Sangat berat, sebagai sulung tidak untuk egois. Tetes peluh Ayah dan Ibu bukan hanya untukku, tetapi juga adik-adikku. Maka atas tanggung jawabku sebagai sulung, demi melupakan cita-cita mahal itu aku basahi luka-luka hati dengan air mata.
          Sekali lagi terngiang “Nanda, kamu pasti bisa!”. Astaga! Ini tidak seharusnya jadi dusta. Bukan ini satu-satunya yang buat aku bisa. Aku bisakan dengan cara lain. STPDN! Ya ini jawabannya. STPDN, impian yang aku rajut demikian apiknya. Aku mengumpulkan segala tenaga, berusaha dan kerja keras untuk mendapat tempat disana. Aku yakinkan diri, aku akan mendapat tempat, aku pastikan. Angan terbang kesana-kemari, serasa mudah aku gapai. Aku pasti bisa! Ucapan yang tidak boleh lagi menjadi dusta.
***
          Mataku turut mengikuti langkah jemari yang kesana kemari mencari nama di atas kertas. Harapan terbayang rasanya sangat dekat, jantung tak henti berdegup kencang. Menelusuri baris-baris huruf menunjuk nama-nama tak dikenal. Sampai baris terakhir, tak kunjung kutemui. Aku tak percaya, sampai berulang aku menarikan jemariku, tak jua bertemu. Angan semakin menjauh dihempas angin, aku tak sanggup menahan bendungan air di pelupuk mataku. Aku berlari menjauh, terus menjauh. Aku terus tanyakan mengapa? Sampai aku ketahui sebabnya. Bagaimana bisa angka 161 menjadi sebab pupus harapanku. 161 cm, perlu 4 cm lagi untuk diterima. Rajutan mimpi yang apik aku pelihara, kini terobek-robek menyisakan perih dalam dada.
***
          Kalimat ayah itu terus saja terngiang, hadir dalam tiap lamunanku. Keyakinanku lemah saat ini. Sedikit demi sedikit diremas keputusasaan. Aku tak ingin biarkan ini jadi dusta, tapi kini apa yang bisa aku perbuat?
          Hari-hari dalam keputusasaan, aku pasrahkan apapun yang akan terjadi. Aku putuskan membantu bunda menjaga di warung, mungkin ini tak mengobati luka hatiku, setidaknya aku mendapat kesibukan selain merenung. Sebelum teremas benar keyakinanku, bunda menyadarkan aku arti kehidupan. Kesulitan tidak selalu menimbulkan kegagalan, kegagalan tidaklah seharusnya menjadi akhir kehidupan. Dua kegagalan, tidak seharusnya menghentikan langkahku.
          Atas dasar tanggung jawab sulung. Aku memilih untuk mengakhiri masa belenggu dalam putus asa itu dengan melanjutkan kuliah mengambil jurusan Bahasa Inggris. Ayah kini berhenti dari pekerjaan dan keterlibatannya dalam organisasi, ia mulai menekuni dunia usaha. Tentu juga aku mendapat percikan-percikan ilmu usaha yang ayah pelajari dalam jangka ini. Termotivasi oleh buku-buku yang memuat sederet profil orang-orang sukses, dan kendala finansial dalam keluarga, aku ingin merambah dunia kerja di samping kuliah.
          Tentu bukan hal mudah untuk melakukan itu. Aku masih harus memikirkan apa yang bisa aku kerjakan? Dan bagaimana aku mengerjakannya? Aku masih dengan kebiasaan berangan. Kali ini tidak boleh menjadi dusta, angan harus tercapai. Dengan sangat berhati-hati aku merakit impian, memikirkan dengan matang-matang, bagaimana aku akan memandu masa depan. Aku sangat berharap ini menjadi kenyataan.
***
          “Resti, aku berniat mengajakmu membuka usaha.” Kak Ica menyelipkan sebuah kalimat ajakan dalam obrolan penuh gurau bersamaku sedari tadi. Benakku terburu-buru merapikan tawa habis gurau sebelumnya. Kalimat tiba-tiba ini tentu mengundang tanya.
          “Maksud kakak? Usaha apa?” tanyaku.
          “Ada sebuah kios yang dijual di sebelah toko bunda. Aku tertarik membelinya, dan aku kira kau pasti mau patungan denganku untuk membeli kios itu.” jelas Kak Ica menunggu jawabanku dengan penuh harap.
          “hmmmm.. lalu menurut kakak, usaha apa yang bisa kita buka di kios itu?” Aku belum mengiyakan, belum habis pertanyaan-pertanyaan dalam benakku.
          “Kita bisa membuka toko pakaian kecil-kecilan disana, aku tidak akan memaksamu. Aku juga memikirkan kuliahmu, tapi kamu pasti bisa menjalani usaha ini, kamu akan belajar mengatur waktu. Selanjutnya semua keputusan ditanganmu.” Lembut ucapan Kak Ica menjelaskan padaku.
          Bahagia benar benakku, ini yang aku inginkan. Meski persetujuan belum keluar dari bibirku. Aku bahkan kebingungan bagaimana caranya mengatakan setuju, sampai sebaris kalimat lagi terlontar dari mulut Kak Ica, “Bagaimana, Resti?” dengan kobaran semangat yang membakar dada aku tegaskan bahwa aku setuju.
          Bukan hal mudah merintis sebuah usaha, banyak hal yang aku dan Kak Ica alami. Bukan hal mudah membuka usaha dagang. Harga pasar seringkali tidak stabil, kadang sepi pelanggan, dan kadang membludak. Jatuh bangun kami berlari mengejar impian.
Kami mengumpulan lembar demi lembar pengalaman, kami banyak belajar dari semua itu. Dan benar ayah bilang, ibu benar, aku benar, tidak lagi dusta, aku bisa. Usaha kami berkembang dan menuai hasil yang gemilang. Namun hal ini tidak melemahkan prestasiku di kampus. Jalan Tuhan memang selalu yang terbaik. Aku bisa! Tidak ada lagi keyakinan yang diremas putus asa. Luka-luka sebelumnya itu yang membawaku sukses sekarang, aku belajar untuk dewasa menghadapi semua masalah.

          Seiring waktu jaringan bisnisku meluas, sesekali aku membantu ayah agar tak terbeban padatnya jadwal sebagai motivator. Jadilah aku berkiprah dalam dunia event organizer. Bisnis ini terus berkembang, jaringan konsumen yang luas semakin membuka peluang untuk berkiprah di bidang lain. Usaha penjualan tiket pun kulakoni. Ini semua tak luput dari motivasi kedua orang tuaku, dan semua ini selalu membuatku bersyukur kepada Tuhan. Akhirnya semua ayah ucapkan tak jadi dusta.


Buah Karya: Anak Agung Sri Nandini, SMA Negeri 1 Bangli

maklum ya, sobat.. baru belajar nulis smoga menginspirasi..

Tidakkah Boleh Aku Mengerti

Umurku muda itu, aku belum mengerti, siapa, apa, kapan, dimana, dan bagaimana.. Aku lahir dalam keluarga kecil, beruntung aku terlahir untuk dicintai, dan mencintai mereka, kedua orang tuaku. Keluarga kecilku sederhana. Beruntung juga aku punya keluarga besar yang megah dan bahagia. Aku punya banyak nenek, kakek, paman, dan bibi. Dan mereka hanya punya aku sebagai cucu, atau keponakan, karena aku adalah cucu pertama dalam keluarga besar ini. Paman-paman, dan Bibi-bibiku belum ada memomong seorang anak, sebagian dari mereka belum menikah. Sebab itu banyak yang mengasuhku, aku seperti punya banyak ayah dan ibu.
          Aku tinggal bersama kedua orang tuaku, dan dua orang tua lagi yang kusebut sebagai kakek dan nenek, dalam rumah mungil sederhana nan hangat. Hanya itu yang aku tau, saudaraku. Keluarga kecilku yang sederhana nan indah, dan bisa kau bayangkan betapa aku dimanja dalam keluarga besarku. Aku tak tau bagaimana bercerita, karena sesungguhnya aku belum cukup untuk mengerti, saudaraku. Aku tidak mengerti mengapa ada banyak kakek, nenek, paman, dan bibi. Aku tidak cukup mengerti apa hubungan mereka dengan orang tuaku, dengan aku.
          Jika keluarga besarku bertemu, aku senantiasa menjadi pusat perhatian. Mereka senang untuk berada disekelilingku, aku juga tidak mengerti mengapa mereka senang untuk menertawakanku. Biasanya mereka riang ketika aku menjawab pertanyaan mereka, atau ketika aku melakukan hal yang mereka minta. Sesekali aku berkomentar tentang apa yang mereka lakukan, dan tentu saja gelak tawa mengiringi, mereka terpingkal. Aku hanya tau terheran atas tingkah mereka dan tertawa sipu malu.
          Hari-hari yang penuh tawa itu bukan berarti aku tak pernah menangis, saudaraku. Seringkali aku menangis, jika aku ingin dimanja dan tak dituruti. Kadang makan aku ingin disuap, senantiasa aku merengek meminta, ibu bilang aku harus belajar makan sendiri. Atau ketika aku tidak diberi ijin untuk mengambil sesuatu benda, ibu bilang berbahaya. Tapi tiap tangis rengekku itu dibujuk rayulah oleh mereka, keluargaku. Mereka teramat suka mengalihkan perhatian, membujukku dengan rayuan, sampai berhenti saja rengekku. Hahaha! Mereka selalu berhasil, saudaraku. Tetapi bukan itu, saudaraku. Tangis yang semudah itu bisa aku lupakan, bukan itu maksudku. Banyak hal membingungkan, menyulitkan aku untuk mengerti, sampai hati membuatku menangis.
          Pernah dalam kesederhanaan keluargaku, Ibu pergi memilih tinggal bersama orang tuanya dan tiada pulang pada ayah dalam berapa hari. Ibu pergi tiada tinggalkan pesan, padaku, pada ayah. Ayah pun tak pernah hirau ketika aku menangisi ibu. Aku tidak mengerti, saudaraku, pulang pun ibu hanya untuk melihatku yang sempat sakit kala itu. Ia tiada bicara pada ayah, bahkan melirik pun tidak. Tapi, yang aku hiraukan hanya untuk melepas rindu pada ibu. Aku ingin beranjak ikut ibu pergi, dan ayah dengan geramnya memaksakku untuk tinggal. Tinggalah aku, dengan kerinduan pada ibuku.
          Beruntunglah aku hari itu telah lalu, saudaraku. Tapi ketahuilah, bahwa bukan sekali itu saja aku lara itu. Aku pernah merasa aneh dalam dadaku, dibuat gelisah oleh sesuatu hal yang aku lihat. Suatu ketika ayah pulang dari kerjanya membawa sebungkus lauk untuk aku dan ibu. Girang aku menyambutnya, tapi tidak demikian ibu. Ibu tiada bersahut pertanyaan-pertanyaan ayah yang agaknya sedang lelah. Ibu memasakkan telur untuk makanku, dan lalu menyuapi nasi untukku, bungkusan buah tangan ayah tak sedikitpun tersentuh ibu. Aku lihat ayah menawari Ibu yang sama sekali tiada bersahut rupanya. Aku hanya dengan lahap makan, sampai habis butir-butir nasi di atas piring mungil, bergegas aku keluar untuk bermain lagi. Ya.. aku biasa bermain dengan bibiku, melancong ke ruangan sebelah untuk sekadar berkumpul dengan kakek, nenekku. Sampai aku dengar jerit Ibu, dan turut keras suara ayah bicara yang entah apa. Nenek segera mengambil tubuhku, membawaku dalam dekapannya, sementara kakek beranjak menuju hampiri ayah dan ibu. Aku tidak mengerti akan yang terjadi, saudaraku. Aku bahkan tak lagi berani masuk ke ruangan untuk bersama ayah, dan ibu. Gelak tawa yang sedari tadi ketika aku bersama kakek, nenek, dan bibiku tidak lagi sekarang. Nenek hanya memintaku untuk segera tidur disisinya. Aneh sekali rasanya di dadaku, saudaraku. Betapapun aku berusaha untuk tertidur, ini sangat menyulitkan.
Pagi hari semua bertingkah seolah tak pernah terjadi apa semalam. Seperti biasa, ayah, dan ibu beranjak untuk bekerja mencari rupiah, nenek sibuk memasak, kakek asyik mengurusi tanaman hiasnya. Aku pun tak kalah mencari kesibukkan. Banyak barang bekas tak terpakai, aku senang bermain dengan mereka. Aku rakit-rakitkan dengan seikat tali rafia, aku anggap benda itu dalam imajinasiku ‘ogoh-ogoh’, ‘bade’, dan hal lain aku senangi.
          Hari-hari terus berjalan sebagaimana biasanya, sudah pun ayah dan ibu dalam tegur sapa dan cengkerama. Aku cukup tau untuk melihat bagaimana komunikasi ibu dan ayah, tapi belum cukup untuk mengerti sebab dan bagaimana bisa ayah dan ibu yang saling berdiam kadangkala. Sampai umurku, saudaraku.. kini kesempatanku berguru, aku akan memulai belajar untuk lebih mengerti sesuatu. Kini kesibukan pagiku dengan seragam, aku disekolahkan di sebuah Taman Kanak-kanak. Disini aku belajar tentang dunia luar, belajar dengan berteman, belajar dengan bermain, yang aku tau aku di tempat ini untuk belajar, dan ternyata inilah belajar.
          Dua minggu sudah aku dengan seragam lalui pagi. Malam ini, aku berdiam saja dalam ruangan bersama ibu, sampai larut malam ayah tiada pulang. Petang tadi ayah keluar, tidak dengan seragam kerjanya, mungkin hendak berlancong sebentar. Tidak tau mengapa ibu suram itu, tiada sedikitpun ibu menarik sudut bibirnya. Aku terkantuk berbaring di tempat tidur. Sementara ibu terduduk dan sibuk sendiri tiada melirikku. Berat mataku dan hampir tertidur, terdengar suara mengejutkan dan membelalak mataku terbuka. Lemari mungil dI depanku dengan dibanting ibu terbuka, seragamku... keras! Aku menangis dengan sekuat tenaga, aku ingin sekeras-kerasnya, terus mengadu dalam tangisku, dengan suara terbata, napas yang terisak “I-i-i..bu.. ke-ke-napa bakar se-seragam-ku, bu..!” segera nenek datang dan menggapaiku, menangis aku dan terus mengadu dalam dekapannya, kakek pun coba tenangkan aku, ditinggal ibu sendirian dalam ruangannya. Hanya menangis yang bisa untuk kulakukan, saudaraku.. aku tak dapat untuk mengungkapkan, aku belum cukup tau bagaimana bertanya untuk hal serumit itu. Yang tak dapat untuk aku tanyakan, “apa salahku, ibu? tidakkah boleh aku mengerti? Aku ingin belajar untuk mengerti, tiadakah ibu ijinkan? Mengapa ibu? perlukah aku tanya ayah? Lalu mengapa ayah?”


Agung Sri Nandini, SMA N 1 Bangli

Kamis, 24 Juli 2014

Dan Apapun Sebutannya


Belum tau atau tak mau tau
Mereka, dan aku
Tak sedia tentukan
Salah?
Memang belum umurku
Nanti ketika umurku pun
Aku tak yakin maukah tau?
Dan lalu nuraniku
Aku, akankah terpengaruh?
Bilapun kau, dia, siapapun..
Buta, atau apapun sebutannya
ini yang aku, dan mungkin
Mereka juga rasa

Hanya Akui


Indah cerita hanya imaji
tanah, angin, air, mentari
hanya dalam puisi
kabut, dingin, sumpah, janji

Sandiwara...
Aku ingat, tak pantas memang didengar
Aku belum pernah berdiri
Di tempat yang kuakui

Aku, tempat itu, hanya dalam puisi
Menangis dalam diri
Indah dan hanya ku akui
Kenyataan belum pernah kulalui

Selasa, 13 Mei 2014

Baru Terhiraukan


Berpijak pada tempat yang sama
Rupanya berbeda kurasa hari ini
Kemarin tak seindah kini
Angin baru sempat kuhiraukan
Geliat hewan diantara semak
Baru aku tersadar
Kautanyakan aku dari seberang
"Sedang apa disana?"
Lalu kaupun baru tersadar
Bukan dari kemarin
Sempatkah kita hiraukan mereka?
Ternyata tempat ini begitu sesak
Lalu kau ingatkan aku
Pelan selalu mengambil langkah
Menghargai dan menyayangi mereka

Minggu, 26 Januari 2014

Lelah


Kemana aku sandarkan
Kepalaku yang lelah berpikir
Tangan kakiku lelah berbuat
Tubuhku lemah
Jika mimpiku tiada lelah
Izinkan aku tidur
Bermimpi selamanya
Bahagia tanpa lelah

Kamis, 09 Januari 2014

Sajak Idolaku

TAK SEPADAN

Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros

Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka

Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka

Februari 1943

AKU

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan akan akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

CINTAKU JAUH DI PULAU

Cintaku jauh di pulau
Gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya

Di air yang tenang, di angin mendayu
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja.”

Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.

PRAJURIT JAGA MALAM

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam

Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini

Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam

Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu!

HAMPA

kepada sri

Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut

Segala menanti. Menanti. Menanti.
Sepi.

Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda

Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.

YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS 

Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
Menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,

Malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu
Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin

Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;

Tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang
Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku.

RUMAHKU

Rumahku dari unggun-timbun sajak
Kaca jernih dari luar segala nampak

Kulari dari gedong lebar halaman
Aku tersesat tak dapat jalan

Kemah kudirikan ketika senjakala
Di pagi terbang entah ke mana

Rumahku dari unggun-timbun sajak
Di sini aku berbini dan beranak

Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang
Aku tidak lagi meraih petang
Biar berleleran kata manis madu
Jika menagih yang satu

27 april 1943

DOA
 
kepada pemeluk teguh

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu

Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling

PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO

Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh

SAJAK PUTIH

Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku

Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah…

1944

Oke! itulah tadi puisi idolaku: Chairil Anwar. semoga bermanfaat bagi teman" semua.
reposted: http://ngulas.blogspot.com/2013/06/kumpulan-puisi-chairil-anwar-lengkap.html
kumpulan puisi-puisi keren, puisi-puisi romantis, puisi-puisi jenaka, puisi-puisi lingkungan, puisi-puisi nasehat, puisi-puisi heboh, puisi-puisi religius, puisi-puisi alam dan banyak lagi jenis-jenis puisi yang ada !!! terlengkap, terbaru, terbanyak, lengkap, banyak, baru, heboh, top, lucu, galau, sedih, miris, sahabat, persahabatan, gokil, cinta, percintaan.

"Cinta yang Berbeda"


by: A. A. Sri Nandini

Cinta yang berbeda
cintaku dan cintamu
Cintaku padamu
Cintamu padanya
Cintaku terluka
Cintamu bahagia


"Setia yang Terluka"


Tak bisa menjanjikan setia
Ia bisa saja terlumpuhkan
Ku kira tiada lain mampu
Selain diriku
Nyata aku keliru
Kau dan dia
Lumpuhkan setiaku
yang dulu padamu
Aku melihat, menemukan, dan mengenal
Dia, saat kau pergi
Menyembuhkanku dari
Setia yang terluka



Mengenai Saya

Foto saya
Ga boleh nyerah, kalo gagal ulang lagi sampe berhasil!
Diberdayakan oleh Blogger.

 

© 2013 Melukis Langit. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top