“Maafkan aku ya Ririn, kita tak bisa bersama lagi...
aku harus ikut orang tuaku ke Jakarta, kamu baik-baik disini yaah... aku janji,
aku akan selalu berkabar lewat surat..”
Kurang
lebih kalimat itulah yang sempat kuucapkan pada Ririn 5 tahun lalu, tepatnya
ketika kami masih berumur 12 tahun. Tapi baru kini aku ingat janjiku itu. Kini
semua telah ku sesali, aku hanya bisa menangis untuk mengeluarkan isi hatiku
yang tengah penuh dan sesak.
***
Akhirnya
aku sampai di Ibukota, SMP Harapan akan menjadi tempatku bernaung untuk
belajar. Aku tak sabar menanti esok. Esok akan menjadi hari yang menyenangkan
dimana aku akan bertemu dengan teman-teman baru, guru baru, dan belajar dengan
suasana baru.
Malam
semakin larut, hingga tiba waktunya bagiku untuk beristirahat, melepas lelah
selama perjalanan panjang tadi. Kaki-kakiku melangkah ke lantai dua tempat
tinggalku yang megah, hingga berhenti di sebuah ruangan dengan tempat tidur
bernuansa pink yang membuatku merasa sangat nyaman. Aku pun menarik selimut
tebal agar dapat menghangatkan tubuhku yang tengah berbaring di atas tempat
tidur empuk yang membuat mataku semakin mudah untuk mengatup dan
menghantarkanku dalam sebuah mimpi yang tentunya sangat indah.
***
“selamat
pagi teman-teman, nama saya Klara.. saya pindahan dari Bogor, semoga
teman-teman bisa menerima saya disini...” sapaku pada teman-teman baruku di
kelas saat pertama aku bersekolah, semburat wajah ramah aku lemparkan pada
setiap orang yang ada di dalam kelas. Sosok anggun yang tengah berdiri di
sampingku di depan kelas itu pun mempersilahkanku untuk duduk. Ku pilih sebuah
bangku kosong tepat di sebelah orang yang sedari tadi tersenyum ramah
padaku. Tanpa basa-basi gadis manis itu
mengulurkan tangannya, berucap sembari tersenyum “Namaku Monika, kamu Klara
kan? Salam kenal...”. ku balas senyuman, dan kutautkan jemari tanganku pada
jemari lembut tangannya, sebagai tanda perkenalan.
Sebuah
awal pertemuan yang amat singkat, tapi persahabatan kami kan terjalin
selamanya. ku kira begitu. Aku dan Monika tak pernah berpisah, kami amat senang
menghabiskan waktu luang di beberapa Mall besar di Jakarta, berbelanja menjadi
agenda rutin bagi kami. Gaji yang diperoleh dari pekerjaan ayahku sebagai
manajer di perusahaan milik ayah Monika sangat mencukupi kehidupan keluargaku,
jadi meski aku agak boros, itu tidak menjadi masalah. Aku sering berkunjung ke
rumah Monika, dan begitu juga sebaliknya. Kami biasa bercengkerama tentang
semua yang kami suka, seperti fashion dan banyak hal yang berbau kecantikan,
selain itu kami juga sering berbicara tentang teknologi, dan melupakan segala
hal yang berbau kuno atau jadil. Semua kami lalui bersama sampai lulus SMP,
kami memutuskan untuk melanjutkan ke SMA Harapan.
***
“Klara...”
terdengar suara Monika mencoba mengajakku berbicara.
“iya”
aku pun menjawab dan menoleh kepadanya.
“bosen
niih, dikamarmu melulu, kita ke tempat lain aja yuk! Ke mall kek...” ajaknya
dengan mimik cemberut.
“aku
lagi kere niih... belakangan aku belum sempet minta uang sama Papa, ke taman
belakang rumahku aja yuk..” ajakku.
“yaa...
bolehlah, kedengarannya asik juga...” Monika menerima ajakanku. Kami berjalan
bersama-sama menuju ke belakang rumah, taman yang indah menyambut kami. Aahh
sejuk sekali rasanya, kami memang sering kemari dikala bosan.
“permisi
non, di depan ada tukang pos, katanya ada surat untuk non Klara” Bi Ijah
tiba-tiba saja datang.
“Surat
dari siapa, Bi?” tanyaku dengan semburat wajah kebingungan.
“eemm..
Bibi..” entah apa yang mau dibicarakan Bi Ijah, kalimatnya putus oleh bentakan
Monika yang cukup membuatku terkejut.
“Apa?!
Tukang pos??” Monika sontak berbicara keras, kemudian dengan cepat berlari ke
depan rumah. Aku dan Bi Ijah mengejarnya dari belakang. Dengan cepat Monika
menyerobot amplop putih dari tangan seorang lelaki paruh baya dengan pakaian
oranye yang tengah berdiri menunggu di depan rumah.
“hahaha...
jaman sekarang masih saja surat-suratan! Gila! Kamu masih juga punya sahabat
kampungan kayak gini!” ucapnya memakiku. Segera kuambil surat yang ada di
tangan Monika, ternyata surat itu dari Ririn. Sial! gadis kampungan ini, benar-benar membuatku malu, ngga... jangan
sampai Monika tau kalau Ririn adalah teman sepermainanku sewaktu kecil, ngga
boleh..! gumamku dalam hati.
“heei,
siapa orang ini, pasti dia salah alamat. Mana mungkin aku punya sahabat
kampungan seperti pengirim surat ini!” aku pun mengelak, aku tak ingin Monika
tau semuanya, memalukan. Dengan segala kekesalan kuremas dan kurobek-robek
kertas bertulis tangan itu, kuhempaskan potongan-potongan kecil kertas putih
itu, kuinjak-injak, dan kubiarkan tercecer begitu saja di lantai.
***
“Papa
pulaang...” terdengar suara Papa malam itu, begitu lemas. Mama menyambutnya
dengan senyuman dan tak lupa menyodorkan secangkir kopi panas dihadapan Papa.
“Papa...
aku minta uang donk, aku udah seminggu gak shoping ni Pa...” keluhku dihadapan
Papa yang kala itu terlihat lemas sepulang kerja.
“Sayang...
Papa minta sekarang ini kamu jangan minta uang lagi, Papa minta maaf sama
kalian. Sebenarnya Papa sudah dipecat
lima hari yang lalu, Papa sudah berusaha mencari pekerjaan lain, tapi tak ada
satu perusahaan pun yang mau menerima Papa.” Papa menjawab keluhanku dengan
keluhan yang lebih menyakitkan lagi.
“Apa??
ngga mau Pa,, pokoknya Klara ngga mau tau, Papa harus cepet dapet pekerjaan
biar Klara bisa shoping lagi!” dengan wajah cemberut aku berucap, lalu pergi ke
kamar dan menangis. Sementara itu ibu dan ayah masih berdiskusi, entah apa yang
mereka bicarakan.
“dor..
dor.. dor..!” tiba-tiba saja terdengar seseorang secara kasar menggedor pintu
rumah, aku terkejut, beranjak dari tempat tidurku lalu ke luar dengan semburat
wajah penuh kekecewaan, masih memikirkan apa yang baru saja diucapkan Papa.
Mama membukakan pintu, ternyata di depan telah menunggu, 3 orang berotot memakai pakaian serba hitam, dengan
suara tegas berkata.
“Bapak
Hendrawan, sebaiknya segera keluarkan semua barang Bapak, besok Bapak harus
meninggalkan rumah ini, sebelum kami yang harus mengeluarkan semuanya secara
paksa! Rumah ini milik perusahaan!” kata-kata dengan nada tinggi dan cukup
keras itu benar-benar menyayat hatiku. rasanya aku ingin menangis dan berteriak
sekencang-kencangnya akan semua ini, aku sangat membenci hari ini.
***
“Monika,
aku mau curhat...” belum selesai kalimatku, Monika telah menjawab dengan
tatapan memaki, nada tinggi, dan suara cukup keras, yang kurasa pasti didengar
oleh seluruh orang di kelas saat itu.
“Kenapa?
Papamu dipecat? Terus apa hubungannya sama aku? Ihh... sorry ya, aku ni ngga
ada waktu buat bantuin orang miskin kayak kamu!!” aku setengah tak percaya
mendengar ucapan itu, rasanya hatiku disayat oleh ribuan pisau yang sangat
tajam. Hampir saja aku menumpahkan air mata di depan Monika. Ketika Monika dan
lainnya berlalu, meledak tangisku keluar, bagaimana tidak? Aku pikir cermin hidup
sejatiku adalah Monika, tapi ternyata aku salah, dan kini aku hanya berteman
kekecewaan.
***
Perjalanan
dengan kereta ekonomi tadi akhirnya membawaku kembali kemari, ke kampung
halaman yang lama kutinggal pergi. Aku kembali ke rumah kecil nan sederhana,
aku baru tersadar betapa sudah terlalu lama aku meninggalkan kebahagiaan kecil
di tempat ini. Aku merindukan Ririn, tapi sedari tadi aku tak melihatnya, aku
sempat mengirim surat untuknya, tapi belum kuterima balasnya. Aku hanya bisa
mengenang masa lalu nan indah bersama Ririn disini. Kini hanya tinggal sebuah
penyesalan. Aku baru sadar, sedari dulu ada sebuah cermin dalam kehidupanku,
cermin itu adalah Ririn. Dia selalu terlihat sama denganku, ketika aku
tersenyum dia juga tersenyum, aku menangis dia juga menangis, aku senang dia
senang, aku sedih dia juga akan sedih. Berbeda dengan Monika, Monika hanya mau
ikut bersenang denganku, namun ia tak pernah mau ikut terlarut dalam keluh
kesah dan dukaku. Aku rasa cermin sejatiku sudah retak, sukar ia bertemu denganku.
Aku memang sudah keterlaluan, janji 5 tahun lalu, baru kini kuingat. Kini aku
hanya bisa berharap, agar luluh hati Ririn menerimaku kembali. Aku ingin
kembali melihat senyumku, dan tangisku dalam semburat wajah manisnya.
Agung Sri Nandini, SMA Negeri 1 Bangli
baru abis bongkar-bongkar arsip cerpen nihh,, jadul.. :p

0 komentar:
Posting Komentar