Senin, 15 September 2014

Cermin Retak

20.13

“Maafkan aku ya Ririn, kita tak bisa bersama lagi... aku harus ikut orang tuaku ke Jakarta, kamu baik-baik disini yaah... aku janji, aku akan selalu berkabar lewat surat..”
            Kurang lebih kalimat itulah yang sempat kuucapkan pada Ririn 5 tahun lalu, tepatnya ketika kami masih berumur 12 tahun. Tapi baru kini aku ingat janjiku itu. Kini semua telah ku sesali, aku hanya bisa menangis untuk mengeluarkan isi hatiku yang tengah penuh dan sesak.
***
            Akhirnya aku sampai di Ibukota, SMP Harapan akan menjadi tempatku bernaung untuk belajar. Aku tak sabar menanti esok. Esok akan menjadi hari yang menyenangkan dimana aku akan bertemu dengan teman-teman baru, guru baru, dan belajar dengan suasana baru.
            Malam semakin larut, hingga tiba waktunya bagiku untuk beristirahat, melepas lelah selama perjalanan panjang tadi. Kaki-kakiku melangkah ke lantai dua tempat tinggalku yang megah, hingga berhenti di sebuah ruangan dengan tempat tidur bernuansa pink yang membuatku merasa sangat nyaman. Aku pun menarik selimut tebal agar dapat menghangatkan tubuhku yang tengah berbaring di atas tempat tidur empuk yang membuat mataku semakin mudah untuk mengatup dan menghantarkanku dalam sebuah mimpi yang tentunya sangat indah.
***
            “selamat pagi teman-teman, nama saya Klara.. saya pindahan dari Bogor, semoga teman-teman bisa menerima saya disini...” sapaku pada teman-teman baruku di kelas saat pertama aku bersekolah, semburat wajah ramah aku lemparkan pada setiap orang yang ada di dalam kelas. Sosok anggun yang tengah berdiri di sampingku di depan kelas itu pun mempersilahkanku untuk duduk. Ku pilih sebuah bangku kosong tepat di sebelah orang yang sedari tadi tersenyum ramah padaku.  Tanpa basa-basi gadis manis itu mengulurkan tangannya, berucap sembari tersenyum “Namaku Monika, kamu Klara kan? Salam kenal...”. ku balas senyuman, dan kutautkan jemari tanganku pada jemari lembut tangannya, sebagai tanda perkenalan.
            Sebuah awal pertemuan yang amat singkat, tapi persahabatan kami kan terjalin selamanya. ku kira begitu. Aku dan Monika tak pernah berpisah, kami amat senang menghabiskan waktu luang di beberapa Mall besar di Jakarta, berbelanja menjadi agenda rutin bagi kami. Gaji yang diperoleh dari pekerjaan ayahku sebagai manajer di perusahaan milik ayah Monika sangat mencukupi kehidupan keluargaku, jadi meski aku agak boros, itu tidak menjadi masalah. Aku sering berkunjung ke rumah Monika, dan begitu juga sebaliknya. Kami biasa bercengkerama tentang semua yang kami suka, seperti fashion dan banyak hal yang berbau kecantikan, selain itu kami juga sering berbicara tentang teknologi, dan melupakan segala hal yang berbau kuno atau jadil. Semua kami lalui bersama sampai lulus SMP, kami memutuskan untuk melanjutkan ke SMA Harapan.
***
            “Klara...” terdengar suara Monika mencoba mengajakku berbicara.
            “iya” aku pun menjawab dan menoleh kepadanya.
            “bosen niih, dikamarmu melulu, kita ke tempat lain aja yuk! Ke mall kek...” ajaknya dengan mimik cemberut.
            “aku lagi kere niih... belakangan aku belum sempet minta uang sama Papa, ke taman belakang rumahku aja yuk..” ajakku.
            “yaa... bolehlah, kedengarannya asik juga...” Monika menerima ajakanku. Kami berjalan bersama-sama menuju ke belakang rumah, taman yang indah menyambut kami. Aahh sejuk sekali rasanya, kami memang sering kemari dikala bosan.
            “permisi non, di depan ada tukang pos, katanya ada surat untuk non Klara” Bi Ijah tiba-tiba saja datang.
            “Surat dari siapa, Bi?” tanyaku dengan semburat wajah kebingungan.
            “eemm.. Bibi..” entah apa yang mau dibicarakan Bi Ijah, kalimatnya putus oleh bentakan Monika yang cukup membuatku terkejut.
            “Apa?! Tukang pos??” Monika sontak berbicara keras, kemudian dengan cepat berlari ke depan rumah. Aku dan Bi Ijah mengejarnya dari belakang. Dengan cepat Monika menyerobot amplop putih dari tangan seorang lelaki paruh baya dengan pakaian oranye yang tengah berdiri menunggu di depan rumah.
            “hahaha... jaman sekarang masih saja surat-suratan! Gila! Kamu masih juga punya sahabat kampungan kayak gini!” ucapnya memakiku. Segera kuambil surat yang ada di tangan Monika, ternyata surat itu dari Ririn. Sial! gadis kampungan ini, benar-benar membuatku malu, ngga... jangan sampai Monika tau kalau Ririn adalah teman sepermainanku sewaktu kecil, ngga boleh..! gumamku dalam hati.
            “heei, siapa orang ini, pasti dia salah alamat. Mana mungkin aku punya sahabat kampungan seperti pengirim surat ini!” aku pun mengelak, aku tak ingin Monika tau semuanya, memalukan. Dengan segala kekesalan kuremas dan kurobek-robek kertas bertulis tangan itu, kuhempaskan potongan-potongan kecil kertas putih itu, kuinjak-injak, dan kubiarkan tercecer begitu saja di lantai.
***
            “Papa pulaang...” terdengar suara Papa malam itu, begitu lemas. Mama menyambutnya dengan senyuman dan tak lupa menyodorkan secangkir kopi panas dihadapan Papa.
            “Papa... aku minta uang donk, aku udah seminggu gak shoping ni Pa...” keluhku dihadapan Papa yang kala itu terlihat lemas sepulang kerja.
            “Sayang... Papa minta sekarang ini kamu jangan minta uang lagi, Papa minta maaf sama kalian. Sebenarnya Papa  sudah dipecat lima hari yang lalu, Papa sudah berusaha mencari pekerjaan lain, tapi tak ada satu perusahaan pun yang mau menerima Papa.” Papa menjawab keluhanku dengan keluhan yang lebih menyakitkan lagi.
            “Apa?? ngga mau Pa,, pokoknya Klara ngga mau tau, Papa harus cepet dapet pekerjaan biar Klara bisa shoping lagi!” dengan wajah cemberut aku berucap, lalu pergi ke kamar dan menangis. Sementara itu ibu dan ayah masih berdiskusi, entah apa yang mereka bicarakan.
            “dor.. dor.. dor..!” tiba-tiba saja terdengar seseorang secara kasar menggedor pintu rumah, aku terkejut, beranjak dari tempat tidurku lalu ke luar dengan semburat wajah penuh kekecewaan, masih memikirkan apa yang baru saja diucapkan Papa. Mama membukakan pintu, ternyata di depan telah menunggu, 3 orang  berotot memakai pakaian serba hitam, dengan suara tegas berkata.
            “Bapak Hendrawan, sebaiknya segera keluarkan semua barang Bapak, besok Bapak harus meninggalkan rumah ini, sebelum kami yang harus mengeluarkan semuanya secara paksa! Rumah ini milik perusahaan!” kata-kata dengan nada tinggi dan cukup keras itu benar-benar menyayat hatiku. rasanya aku ingin menangis dan berteriak sekencang-kencangnya akan semua ini, aku sangat membenci hari ini.
***
            “Monika, aku mau curhat...” belum selesai kalimatku, Monika telah menjawab dengan tatapan memaki, nada tinggi, dan suara cukup keras, yang kurasa pasti didengar oleh seluruh orang di kelas saat itu.
            “Kenapa? Papamu dipecat? Terus apa hubungannya sama aku? Ihh... sorry ya, aku ni ngga ada waktu buat bantuin orang miskin kayak kamu!!” aku setengah tak percaya mendengar ucapan itu, rasanya hatiku disayat oleh ribuan pisau yang sangat tajam. Hampir saja aku menumpahkan air mata di depan Monika. Ketika Monika dan lainnya berlalu, meledak tangisku keluar, bagaimana tidak? Aku pikir cermin hidup sejatiku adalah Monika, tapi ternyata aku salah, dan kini aku hanya berteman kekecewaan.
***

            Perjalanan dengan kereta ekonomi tadi akhirnya membawaku kembali kemari, ke kampung halaman yang lama kutinggal pergi. Aku kembali ke rumah kecil nan sederhana, aku baru tersadar betapa sudah terlalu lama aku meninggalkan kebahagiaan kecil di tempat ini. Aku merindukan Ririn, tapi sedari tadi aku tak melihatnya, aku sempat mengirim surat untuknya, tapi belum kuterima balasnya. Aku hanya bisa mengenang masa lalu nan indah bersama Ririn disini. Kini hanya tinggal sebuah penyesalan. Aku baru sadar, sedari dulu ada sebuah cermin dalam kehidupanku, cermin itu adalah Ririn. Dia selalu terlihat sama denganku, ketika aku tersenyum dia juga tersenyum, aku menangis dia juga menangis, aku senang dia senang, aku sedih dia juga akan sedih. Berbeda dengan Monika, Monika hanya mau ikut bersenang denganku, namun ia tak pernah mau ikut terlarut dalam keluh kesah dan dukaku. Aku rasa cermin sejatiku sudah retak, sukar ia bertemu denganku. Aku memang sudah keterlaluan, janji 5 tahun lalu, baru kini kuingat. Kini aku hanya bisa berharap, agar luluh hati Ririn menerimaku kembali. Aku ingin kembali melihat senyumku, dan tangisku dalam semburat wajah manisnya.

Agung Sri Nandini, SMA Negeri 1 Bangli

baru abis bongkar-bongkar arsip cerpen nihh,, jadul.. :p

Written by

We are Creative Blogger Theme Wavers which provides user friendly, effective and easy to use themes. Each support has free and providing HD support screen casting.

0 komentar:

Posting Komentar

 

© 2013 Melukis Langit. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top