Selasa, 15 Maret 2016
Ambigu
Kau adalah ambigu
Bicaramu seakan tak mau
Tapi di sela waktu padatmu
Kau curikan secuil untukku
Kau adalah ambigu
Bahasamu seakan kesal akanku
Tapi diantara kalimatmu
Kau selipkan sepotong tawa bagiku
Sungguh.. Kau adalah ambigu
Kukira kau terganggu
Tidak, katamu
Kukira kau senang
Tidak kubertanya, tapi kuharap iya..
Bisakah aku bertanya?
Aku bisa.. Hanya takut
Meski hampir gila aku dibuat
Oleh ambigumu
Minggu, 06 Maret 2016
Saling Menghargai : Konsep Umat Hindu di Bali
Jaman sudah modern. Tidak ada bedanya lagi anak keturunan raja, brahmana ataupun rakyat jelata. Yang berbeda kini orang kaya atau orang miskin. Dahulu bangsa Sudra harus "meletakkan" bangsa Ksatria dan Brahmana di atas kepala mereka. Keto kone.. tapi konsep yang diterapkan dahulu itupun sesungguhnya bukan begitu. Bicara soal "kasta" di Bali. Bukan, sesungguhnya bukan "kasta". Ajaran "kasta" tidak ada dalam sastra Hindu, sesungguhnya yang ada hanya wangsa dan warna. "Kasta" hanya salah tafsir masyarakat Hindu di Bali pada jaman dahulu. Kedudukan Brahmana, Raja, Weisya, dan rakyat jelata diurutkan secara vertikal, padahal sesungguhnya semuanya memiliki kedudukan yang horizontal. Tidak ada yang lebih tinggi, juga tidak ada yang lebih rendah atau lebih nista. Saat ini tidak berlaku lagi "kasta", iya memang seharusnya begitu dari dulu. Jika seseorang bekerja di bidang pendidikan dan seni maka ia Brahmana, yang bekerja di bidang pemerintahan ialah Ksatria, yang melakukan pekerjaan pedagang ialah Weisya, dan yang membantu pekerjaan-pekerjaan itu ialah Sudra. Demikian jika ada Anak Agung, Gusti, Ida Bagus, Cokorda, Dewa, hanya nama yang menunjukkan berasal dari keturunan mana, tetapi tetap saja kedudukan kita semua sama. Jadi.. dadi me-cang/cai? (bicara kasar/menggunakan basa kapara). Tidak, bukan begitu. Sebaliknya mereka dari wangsa Ksatria dan Brahmana bolehkah bicara kasar pada wangsa yang "dianggap" berkedudukan dibawahnya? tidak! lebih salah lagi.
Mungkin banyak orang *maaf* sudra yang menganggap tidak adil adanya kedudukan-kedudukan, lalu memilih melupakan dan menghapus konsep tersebut. Sekali lagi, jaman sudah modern, dan memang seharusnya tidak ada konsep "kasta", jangan gunakan lagi! Tetapi, ini bukan ajang balas dendam. Bukan berarti kita lupa diri, beberapa orang justru menjadi campah, mulai bicara dan berbuat asal-asalan. Jika kita bisa belajar lebih bijak, konsep itu memberi pelajaran bagi kita semua untuk saling menghargai dan menunjukkan bahwa kita semua saling membutuhkan satu sama lain.
Sebaliknya tidak sedikit juga orang dari keturunan Brahmana dan Ksatria yang merasa berkedudukan tinggi, dan tak mau meninggalkan konsep yang "keliru" itu. Tidak seharusnya kita menunjukkan nama dan kedudukan kita, apalagi yang di era ini sudah tidak berlaku. Jika ingin maka tunjukkanlah sikap yang menggambarkan kebijaksanaan, wibawa sehingga kita dapat dihargai, dan tentunya kita harus selalu menghargai orang lain tanpa melihat orang berasal dari keturunan mana. Justru jika merasa sebagai orang yang "berkulit" harusnya kita lebih menjaga nilai, karena apabila kita melakukan kesalahan kecil saja, nilai yang berkurang dalam diri akan jauh lebih besar.
Sebagai orang Bali, saudara seumat Hindu, kita harus menyatukan persepsi. Mari berbuat saling menghargai, dengan bijak menerima ajaran leluhur yang telah diturunkan sampai kini, jangan justru saling menjelekkan, sama saja mencoret muka sendiri. Tulisan ini hanya sebagai klarifikasi apabila ada yang salah tafsir tentang konsep warna dan wangsa. Terima kasih sudah berkunjung ^^
Mungkin banyak orang *maaf* sudra yang menganggap tidak adil adanya kedudukan-kedudukan, lalu memilih melupakan dan menghapus konsep tersebut. Sekali lagi, jaman sudah modern, dan memang seharusnya tidak ada konsep "kasta", jangan gunakan lagi! Tetapi, ini bukan ajang balas dendam. Bukan berarti kita lupa diri, beberapa orang justru menjadi campah, mulai bicara dan berbuat asal-asalan. Jika kita bisa belajar lebih bijak, konsep itu memberi pelajaran bagi kita semua untuk saling menghargai dan menunjukkan bahwa kita semua saling membutuhkan satu sama lain.
Sebaliknya tidak sedikit juga orang dari keturunan Brahmana dan Ksatria yang merasa berkedudukan tinggi, dan tak mau meninggalkan konsep yang "keliru" itu. Tidak seharusnya kita menunjukkan nama dan kedudukan kita, apalagi yang di era ini sudah tidak berlaku. Jika ingin maka tunjukkanlah sikap yang menggambarkan kebijaksanaan, wibawa sehingga kita dapat dihargai, dan tentunya kita harus selalu menghargai orang lain tanpa melihat orang berasal dari keturunan mana. Justru jika merasa sebagai orang yang "berkulit" harusnya kita lebih menjaga nilai, karena apabila kita melakukan kesalahan kecil saja, nilai yang berkurang dalam diri akan jauh lebih besar.
Sebagai orang Bali, saudara seumat Hindu, kita harus menyatukan persepsi. Mari berbuat saling menghargai, dengan bijak menerima ajaran leluhur yang telah diturunkan sampai kini, jangan justru saling menjelekkan, sama saja mencoret muka sendiri. Tulisan ini hanya sebagai klarifikasi apabila ada yang salah tafsir tentang konsep warna dan wangsa. Terima kasih sudah berkunjung ^^
By:
Anak Agung Sri Nandini
On 22.04
Perempuan Menanti Pagi
Selamat datang mentari
Pagi telah kembali
Aku belum pernah semangat ini
Beranjak dari mimpi, lalu...
Mengingatmu sepanjang hari
Selamat pagi kekasih
Hari telah berganti
Baru saja kau hadir dalam mimpi
Kini dalam hidup
Pun aku selalu merindu
Sudahkah kau jatuh cinta padaku pagi ini?
Pada suatu pagi yang selalu kunanti
Kau kan katakan tanpa kutanyakan lagi
Hingga kini ku masih hanya bermimpi
Aku, perempuan menanti pagi
Pagi telah kembali
Aku belum pernah semangat ini
Beranjak dari mimpi, lalu...
Mengingatmu sepanjang hari
Selamat pagi kekasih
Hari telah berganti
Baru saja kau hadir dalam mimpi
Kini dalam hidup
Pun aku selalu merindu
Sudahkah kau jatuh cinta padaku pagi ini?
Pada suatu pagi yang selalu kunanti
Kau kan katakan tanpa kutanyakan lagi
Hingga kini ku masih hanya bermimpi
Aku, perempuan menanti pagi
By:
Anak Agung Sri Nandini
On 21.13
Langganan:
Postingan (Atom)



