Aku menarik nafas
Aku hembuskan
Sekali lagi
Aku ulangi, begitu..
dan terus begitu..
Sampai sesak aku rasakan
Sesuatu menyentil hatiku
Entah ini benda, virus, atau apa..
Ia membuat mataku perih
Ada air membendung di pelupuk mataku
Tunggu dulu
Ada apa?
belum sempat terjawab
Tetes demi tetes
Air mata membasuh lukaku
Biarlah, mengalir..
Ini hari hatiku tak ingin
Berbagi dengan pikiranku
Air mata apa..
Nafas ini menyakitkan
Tapi tak aku tau maknanya
Tangisanku ini tanpa judul
tanpa alasan, tanpa tujuan
Minggu, 21 September 2014
Kuat
Aku benci jadi orang kuat
Karena harus tersenyum di depanmu
Saat aku hanya perlu menangis
Aku benci jadi orang kuat
Karena harus terpaksa berbicara
Saat aku hanya ingin membisu
Alasan sederhana
Aku kuat,tak ingin jauh..
hilang.. pergi darimu
By:
Anak Agung Sri Nandini
On 02.38
Senin, 15 September 2014
Cermin Retak
“Maafkan aku ya Ririn, kita tak bisa bersama lagi...
aku harus ikut orang tuaku ke Jakarta, kamu baik-baik disini yaah... aku janji,
aku akan selalu berkabar lewat surat..”
Kurang
lebih kalimat itulah yang sempat kuucapkan pada Ririn 5 tahun lalu, tepatnya
ketika kami masih berumur 12 tahun. Tapi baru kini aku ingat janjiku itu. Kini
semua telah ku sesali, aku hanya bisa menangis untuk mengeluarkan isi hatiku
yang tengah penuh dan sesak.
***
Akhirnya
aku sampai di Ibukota, SMP Harapan akan menjadi tempatku bernaung untuk
belajar. Aku tak sabar menanti esok. Esok akan menjadi hari yang menyenangkan
dimana aku akan bertemu dengan teman-teman baru, guru baru, dan belajar dengan
suasana baru.
Malam
semakin larut, hingga tiba waktunya bagiku untuk beristirahat, melepas lelah
selama perjalanan panjang tadi. Kaki-kakiku melangkah ke lantai dua tempat
tinggalku yang megah, hingga berhenti di sebuah ruangan dengan tempat tidur
bernuansa pink yang membuatku merasa sangat nyaman. Aku pun menarik selimut
tebal agar dapat menghangatkan tubuhku yang tengah berbaring di atas tempat
tidur empuk yang membuat mataku semakin mudah untuk mengatup dan
menghantarkanku dalam sebuah mimpi yang tentunya sangat indah.
***
“selamat
pagi teman-teman, nama saya Klara.. saya pindahan dari Bogor, semoga
teman-teman bisa menerima saya disini...” sapaku pada teman-teman baruku di
kelas saat pertama aku bersekolah, semburat wajah ramah aku lemparkan pada
setiap orang yang ada di dalam kelas. Sosok anggun yang tengah berdiri di
sampingku di depan kelas itu pun mempersilahkanku untuk duduk. Ku pilih sebuah
bangku kosong tepat di sebelah orang yang sedari tadi tersenyum ramah
padaku. Tanpa basa-basi gadis manis itu
mengulurkan tangannya, berucap sembari tersenyum “Namaku Monika, kamu Klara
kan? Salam kenal...”. ku balas senyuman, dan kutautkan jemari tanganku pada
jemari lembut tangannya, sebagai tanda perkenalan.
Sebuah
awal pertemuan yang amat singkat, tapi persahabatan kami kan terjalin
selamanya. ku kira begitu. Aku dan Monika tak pernah berpisah, kami amat senang
menghabiskan waktu luang di beberapa Mall besar di Jakarta, berbelanja menjadi
agenda rutin bagi kami. Gaji yang diperoleh dari pekerjaan ayahku sebagai
manajer di perusahaan milik ayah Monika sangat mencukupi kehidupan keluargaku,
jadi meski aku agak boros, itu tidak menjadi masalah. Aku sering berkunjung ke
rumah Monika, dan begitu juga sebaliknya. Kami biasa bercengkerama tentang
semua yang kami suka, seperti fashion dan banyak hal yang berbau kecantikan,
selain itu kami juga sering berbicara tentang teknologi, dan melupakan segala
hal yang berbau kuno atau jadil. Semua kami lalui bersama sampai lulus SMP,
kami memutuskan untuk melanjutkan ke SMA Harapan.
***
“Klara...”
terdengar suara Monika mencoba mengajakku berbicara.
“iya”
aku pun menjawab dan menoleh kepadanya.
“bosen
niih, dikamarmu melulu, kita ke tempat lain aja yuk! Ke mall kek...” ajaknya
dengan mimik cemberut.
“aku
lagi kere niih... belakangan aku belum sempet minta uang sama Papa, ke taman
belakang rumahku aja yuk..” ajakku.
“yaa...
bolehlah, kedengarannya asik juga...” Monika menerima ajakanku. Kami berjalan
bersama-sama menuju ke belakang rumah, taman yang indah menyambut kami. Aahh
sejuk sekali rasanya, kami memang sering kemari dikala bosan.
“permisi
non, di depan ada tukang pos, katanya ada surat untuk non Klara” Bi Ijah
tiba-tiba saja datang.
“Surat
dari siapa, Bi?” tanyaku dengan semburat wajah kebingungan.
“eemm..
Bibi..” entah apa yang mau dibicarakan Bi Ijah, kalimatnya putus oleh bentakan
Monika yang cukup membuatku terkejut.
“Apa?!
Tukang pos??” Monika sontak berbicara keras, kemudian dengan cepat berlari ke
depan rumah. Aku dan Bi Ijah mengejarnya dari belakang. Dengan cepat Monika
menyerobot amplop putih dari tangan seorang lelaki paruh baya dengan pakaian
oranye yang tengah berdiri menunggu di depan rumah.
“hahaha...
jaman sekarang masih saja surat-suratan! Gila! Kamu masih juga punya sahabat
kampungan kayak gini!” ucapnya memakiku. Segera kuambil surat yang ada di
tangan Monika, ternyata surat itu dari Ririn. Sial! gadis kampungan ini, benar-benar membuatku malu, ngga... jangan
sampai Monika tau kalau Ririn adalah teman sepermainanku sewaktu kecil, ngga
boleh..! gumamku dalam hati.
“heei,
siapa orang ini, pasti dia salah alamat. Mana mungkin aku punya sahabat
kampungan seperti pengirim surat ini!” aku pun mengelak, aku tak ingin Monika
tau semuanya, memalukan. Dengan segala kekesalan kuremas dan kurobek-robek
kertas bertulis tangan itu, kuhempaskan potongan-potongan kecil kertas putih
itu, kuinjak-injak, dan kubiarkan tercecer begitu saja di lantai.
***
“Papa
pulaang...” terdengar suara Papa malam itu, begitu lemas. Mama menyambutnya
dengan senyuman dan tak lupa menyodorkan secangkir kopi panas dihadapan Papa.
“Papa...
aku minta uang donk, aku udah seminggu gak shoping ni Pa...” keluhku dihadapan
Papa yang kala itu terlihat lemas sepulang kerja.
“Sayang...
Papa minta sekarang ini kamu jangan minta uang lagi, Papa minta maaf sama
kalian. Sebenarnya Papa sudah dipecat
lima hari yang lalu, Papa sudah berusaha mencari pekerjaan lain, tapi tak ada
satu perusahaan pun yang mau menerima Papa.” Papa menjawab keluhanku dengan
keluhan yang lebih menyakitkan lagi.
“Apa??
ngga mau Pa,, pokoknya Klara ngga mau tau, Papa harus cepet dapet pekerjaan
biar Klara bisa shoping lagi!” dengan wajah cemberut aku berucap, lalu pergi ke
kamar dan menangis. Sementara itu ibu dan ayah masih berdiskusi, entah apa yang
mereka bicarakan.
“dor..
dor.. dor..!” tiba-tiba saja terdengar seseorang secara kasar menggedor pintu
rumah, aku terkejut, beranjak dari tempat tidurku lalu ke luar dengan semburat
wajah penuh kekecewaan, masih memikirkan apa yang baru saja diucapkan Papa.
Mama membukakan pintu, ternyata di depan telah menunggu, 3 orang berotot memakai pakaian serba hitam, dengan
suara tegas berkata.
“Bapak
Hendrawan, sebaiknya segera keluarkan semua barang Bapak, besok Bapak harus
meninggalkan rumah ini, sebelum kami yang harus mengeluarkan semuanya secara
paksa! Rumah ini milik perusahaan!” kata-kata dengan nada tinggi dan cukup
keras itu benar-benar menyayat hatiku. rasanya aku ingin menangis dan berteriak
sekencang-kencangnya akan semua ini, aku sangat membenci hari ini.
***
“Monika,
aku mau curhat...” belum selesai kalimatku, Monika telah menjawab dengan
tatapan memaki, nada tinggi, dan suara cukup keras, yang kurasa pasti didengar
oleh seluruh orang di kelas saat itu.
“Kenapa?
Papamu dipecat? Terus apa hubungannya sama aku? Ihh... sorry ya, aku ni ngga
ada waktu buat bantuin orang miskin kayak kamu!!” aku setengah tak percaya
mendengar ucapan itu, rasanya hatiku disayat oleh ribuan pisau yang sangat
tajam. Hampir saja aku menumpahkan air mata di depan Monika. Ketika Monika dan
lainnya berlalu, meledak tangisku keluar, bagaimana tidak? Aku pikir cermin hidup
sejatiku adalah Monika, tapi ternyata aku salah, dan kini aku hanya berteman
kekecewaan.
***
Perjalanan
dengan kereta ekonomi tadi akhirnya membawaku kembali kemari, ke kampung
halaman yang lama kutinggal pergi. Aku kembali ke rumah kecil nan sederhana,
aku baru tersadar betapa sudah terlalu lama aku meninggalkan kebahagiaan kecil
di tempat ini. Aku merindukan Ririn, tapi sedari tadi aku tak melihatnya, aku
sempat mengirim surat untuknya, tapi belum kuterima balasnya. Aku hanya bisa
mengenang masa lalu nan indah bersama Ririn disini. Kini hanya tinggal sebuah
penyesalan. Aku baru sadar, sedari dulu ada sebuah cermin dalam kehidupanku,
cermin itu adalah Ririn. Dia selalu terlihat sama denganku, ketika aku
tersenyum dia juga tersenyum, aku menangis dia juga menangis, aku senang dia
senang, aku sedih dia juga akan sedih. Berbeda dengan Monika, Monika hanya mau
ikut bersenang denganku, namun ia tak pernah mau ikut terlarut dalam keluh
kesah dan dukaku. Aku rasa cermin sejatiku sudah retak, sukar ia bertemu denganku.
Aku memang sudah keterlaluan, janji 5 tahun lalu, baru kini kuingat. Kini aku
hanya bisa berharap, agar luluh hati Ririn menerimaku kembali. Aku ingin
kembali melihat senyumku, dan tangisku dalam semburat wajah manisnya.
Agung Sri Nandini, SMA Negeri 1 Bangli
baru abis bongkar-bongkar arsip cerpen nihh,, jadul.. :p
By:
Anak Agung Sri Nandini
On 20.13
Minggu, 14 September 2014
Tak Boleh Jadi Dusta
Aku hanya
tau terisak dalam sunyi, mengubur diri dalam gelap bahkan ketika mentari masih
bersinar. Mengurung diri dalam ruang mungil tempat semayam mimpi-mimpi yang
selalu lalang dalam setiap lelapku. Mimpi yang sudah benar terkubur bahkan
sebelum ku bangun. Ini semakin mengoyak hati, yang terngiang di telingaku hanya
sebaris kata, “Nanda, kamu pasti bisa!”. Sebaris kata yang kini tinggal dusta,
dustakah aku? Ucapan ayah itu tidak benar kini, karena aku tak sebisa ayah
ucapkan. Jadi siapakah dusta? Mataku masih saja meneteskan luka, luka atas
kekecewaan yang mendalam.
Ayah
bilang aku pasti bisa, dan kenyataannya tidak seperti yang terkatakan. Menjadi
sulung dari lima bersaudara sungguh berat. Apalagi mengingat beban orang tuaku
yang semakin menjadi. Ayah di luar segala kewajibannya sebagai PNS, juga
terlibat aktif di dunia jurnalistik. Bunda pun turun tangan menopang keuangan
dengan membuka warung kecil-kecilan. Sebagai sulung, adalah tanggung jawab
kepada orang tua dan adik-adikku. Kerja keras menjadi menu wajib bagiku. Kini
aku menangis harus menghapus cita-citaku, aku tak bisa untuk duduk di Fakultas
Kedokteran, permasalahan ekonomi dalam keluargaku menjadi alasan mengapa harus
angan terhapus. Sangat berat, sebagai sulung tidak untuk egois. Tetes peluh
Ayah dan Ibu bukan hanya untukku, tetapi juga adik-adikku. Maka atas tanggung
jawabku sebagai sulung, demi melupakan cita-cita mahal itu aku basahi luka-luka
hati dengan air mata.
Sekali
lagi terngiang “Nanda, kamu pasti bisa!”. Astaga! Ini tidak seharusnya jadi
dusta. Bukan ini satu-satunya yang buat aku bisa. Aku bisakan dengan cara lain.
STPDN! Ya ini jawabannya. STPDN, impian yang aku rajut demikian apiknya. Aku
mengumpulkan segala tenaga, berusaha dan kerja keras untuk mendapat tempat
disana. Aku yakinkan diri, aku akan mendapat tempat, aku pastikan. Angan
terbang kesana-kemari, serasa mudah aku gapai. Aku pasti bisa! Ucapan yang
tidak boleh lagi menjadi dusta.
***
Mataku
turut mengikuti langkah jemari yang kesana kemari mencari nama di atas kertas.
Harapan terbayang rasanya sangat dekat, jantung tak henti berdegup kencang.
Menelusuri baris-baris huruf menunjuk nama-nama tak dikenal. Sampai baris
terakhir, tak kunjung kutemui. Aku tak percaya, sampai berulang aku menarikan
jemariku, tak jua bertemu. Angan semakin menjauh dihempas angin, aku tak
sanggup menahan bendungan air di pelupuk mataku. Aku berlari menjauh, terus
menjauh. Aku terus tanyakan mengapa? Sampai aku ketahui sebabnya. Bagaimana
bisa angka 161 menjadi sebab pupus harapanku. 161 cm, perlu 4 cm lagi untuk
diterima. Rajutan mimpi yang apik aku pelihara, kini terobek-robek menyisakan
perih dalam dada.
***
Kalimat
ayah itu terus saja terngiang, hadir dalam tiap lamunanku. Keyakinanku lemah
saat ini. Sedikit demi sedikit diremas keputusasaan. Aku tak ingin biarkan ini
jadi dusta, tapi kini apa yang bisa aku perbuat?
Hari-hari
dalam keputusasaan, aku pasrahkan apapun yang akan terjadi. Aku putuskan
membantu bunda menjaga di warung, mungkin ini tak mengobati luka hatiku, setidaknya
aku mendapat kesibukan selain merenung. Sebelum teremas benar keyakinanku,
bunda menyadarkan aku arti kehidupan. Kesulitan tidak selalu menimbulkan
kegagalan, kegagalan tidaklah seharusnya menjadi akhir kehidupan. Dua
kegagalan, tidak seharusnya menghentikan langkahku.
Atas
dasar tanggung jawab sulung. Aku memilih untuk mengakhiri masa belenggu dalam
putus asa itu dengan melanjutkan kuliah mengambil jurusan Bahasa Inggris. Ayah
kini berhenti dari pekerjaan dan keterlibatannya dalam organisasi, ia mulai
menekuni dunia usaha. Tentu juga aku mendapat percikan-percikan ilmu usaha yang
ayah pelajari dalam jangka ini. Termotivasi oleh buku-buku yang memuat sederet
profil orang-orang sukses, dan kendala finansial dalam keluarga, aku ingin
merambah dunia kerja di samping kuliah.
Tentu
bukan hal mudah untuk melakukan itu. Aku masih harus memikirkan apa yang bisa
aku kerjakan? Dan bagaimana aku mengerjakannya? Aku masih dengan kebiasaan
berangan. Kali ini tidak boleh menjadi dusta, angan harus tercapai. Dengan
sangat berhati-hati aku merakit impian, memikirkan dengan matang-matang,
bagaimana aku akan memandu masa depan. Aku sangat berharap ini menjadi
kenyataan.
***
“Resti,
aku berniat mengajakmu membuka usaha.” Kak Ica menyelipkan sebuah kalimat ajakan
dalam obrolan penuh gurau bersamaku sedari tadi. Benakku terburu-buru merapikan
tawa habis gurau sebelumnya. Kalimat tiba-tiba ini tentu mengundang tanya.
“Maksud
kakak? Usaha apa?” tanyaku.
“Ada
sebuah kios yang dijual di sebelah toko bunda. Aku tertarik membelinya, dan aku
kira kau pasti mau patungan denganku untuk membeli kios itu.” jelas Kak Ica
menunggu jawabanku dengan penuh harap.
“hmmmm..
lalu menurut kakak, usaha apa yang bisa kita buka di kios itu?” Aku belum
mengiyakan, belum habis pertanyaan-pertanyaan dalam benakku.
“Kita
bisa membuka toko pakaian kecil-kecilan disana, aku tidak akan memaksamu. Aku
juga memikirkan kuliahmu, tapi kamu pasti bisa menjalani usaha ini, kamu akan
belajar mengatur waktu. Selanjutnya semua keputusan ditanganmu.” Lembut ucapan
Kak Ica menjelaskan padaku.
Bahagia
benar benakku, ini yang aku inginkan. Meski persetujuan belum keluar dari
bibirku. Aku bahkan kebingungan bagaimana caranya mengatakan setuju, sampai
sebaris kalimat lagi terlontar dari mulut Kak Ica, “Bagaimana, Resti?” dengan
kobaran semangat yang membakar dada aku tegaskan bahwa aku setuju.
Bukan
hal mudah merintis sebuah usaha, banyak hal yang aku dan Kak Ica alami. Bukan
hal mudah membuka usaha dagang. Harga pasar seringkali tidak stabil, kadang
sepi pelanggan, dan kadang membludak. Jatuh bangun kami berlari mengejar
impian.
Kami
mengumpulan lembar demi lembar pengalaman, kami banyak belajar dari semua itu.
Dan benar ayah bilang, ibu benar, aku benar, tidak lagi dusta, aku bisa. Usaha
kami berkembang dan menuai hasil yang gemilang. Namun hal ini tidak melemahkan
prestasiku di kampus. Jalan Tuhan memang selalu yang terbaik. Aku bisa! Tidak
ada lagi keyakinan yang diremas putus asa. Luka-luka sebelumnya itu yang
membawaku sukses sekarang, aku belajar untuk dewasa menghadapi semua masalah.
Seiring
waktu jaringan bisnisku meluas, sesekali aku membantu ayah agar tak terbeban
padatnya jadwal sebagai motivator. Jadilah aku berkiprah dalam dunia event
organizer. Bisnis ini terus berkembang, jaringan konsumen yang luas semakin
membuka peluang untuk berkiprah di bidang lain. Usaha penjualan tiket pun
kulakoni. Ini semua tak luput dari motivasi kedua orang tuaku, dan semua ini
selalu membuatku bersyukur kepada Tuhan. Akhirnya semua ayah ucapkan tak jadi
dusta.
Buah Karya: Anak Agung Sri Nandini, SMA Negeri 1 Bangli
maklum ya, sobat.. baru belajar nulis smoga menginspirasi..
By:
Anak Agung Sri Nandini
On 17.50
Tidakkah Boleh Aku Mengerti
Umurku muda itu, aku belum mengerti, siapa, apa,
kapan, dimana, dan bagaimana.. Aku lahir dalam keluarga kecil, beruntung aku
terlahir untuk dicintai, dan mencintai mereka, kedua orang tuaku. Keluarga
kecilku sederhana. Beruntung juga aku punya keluarga besar yang megah dan
bahagia. Aku punya banyak nenek, kakek, paman, dan bibi. Dan mereka hanya punya
aku sebagai cucu, atau keponakan, karena aku adalah cucu pertama dalam keluarga
besar ini. Paman-paman, dan Bibi-bibiku belum ada memomong seorang anak, sebagian
dari mereka belum menikah. Sebab itu banyak yang mengasuhku, aku seperti punya
banyak ayah dan ibu.
Aku
tinggal bersama kedua orang tuaku, dan dua orang tua lagi yang kusebut sebagai
kakek dan nenek, dalam rumah mungil sederhana nan hangat. Hanya itu yang aku
tau, saudaraku. Keluarga kecilku yang sederhana nan indah, dan bisa kau
bayangkan betapa aku dimanja dalam keluarga besarku. Aku tak tau bagaimana
bercerita, karena sesungguhnya aku belum cukup untuk mengerti, saudaraku. Aku
tidak mengerti mengapa ada banyak kakek, nenek, paman, dan bibi. Aku tidak
cukup mengerti apa hubungan mereka dengan orang tuaku, dengan aku.
Jika
keluarga besarku bertemu, aku senantiasa menjadi pusat perhatian. Mereka senang
untuk berada disekelilingku, aku juga tidak mengerti mengapa mereka senang
untuk menertawakanku. Biasanya mereka riang ketika aku menjawab pertanyaan
mereka, atau ketika aku melakukan hal yang mereka minta. Sesekali aku
berkomentar tentang apa yang mereka lakukan, dan tentu saja gelak tawa
mengiringi, mereka terpingkal. Aku hanya tau terheran atas tingkah mereka dan
tertawa sipu malu.
Hari-hari
yang penuh tawa itu bukan berarti aku tak pernah menangis, saudaraku.
Seringkali aku menangis, jika aku ingin dimanja dan tak dituruti. Kadang makan
aku ingin disuap, senantiasa aku merengek meminta, ibu bilang aku harus belajar
makan sendiri. Atau ketika aku tidak diberi ijin untuk mengambil sesuatu benda,
ibu bilang berbahaya. Tapi tiap tangis rengekku itu dibujuk rayulah oleh
mereka, keluargaku. Mereka teramat suka mengalihkan perhatian, membujukku
dengan rayuan, sampai berhenti saja rengekku. Hahaha! Mereka selalu berhasil,
saudaraku. Tetapi bukan itu, saudaraku. Tangis yang semudah itu bisa aku
lupakan, bukan itu maksudku. Banyak hal membingungkan, menyulitkan aku untuk
mengerti, sampai hati membuatku menangis.
Pernah
dalam kesederhanaan keluargaku, Ibu pergi memilih tinggal bersama orang tuanya
dan tiada pulang pada ayah dalam berapa hari. Ibu pergi tiada tinggalkan pesan,
padaku, pada ayah. Ayah pun tak pernah hirau ketika aku menangisi ibu. Aku
tidak mengerti, saudaraku, pulang pun ibu hanya untuk melihatku yang sempat
sakit kala itu. Ia tiada bicara pada ayah, bahkan melirik pun tidak. Tapi, yang
aku hiraukan hanya untuk melepas rindu pada ibu. Aku ingin beranjak ikut ibu
pergi, dan ayah dengan geramnya memaksakku untuk tinggal. Tinggalah aku, dengan
kerinduan pada ibuku.
Beruntunglah
aku hari itu telah lalu, saudaraku. Tapi ketahuilah, bahwa bukan sekali itu
saja aku lara itu. Aku pernah merasa aneh dalam dadaku, dibuat gelisah oleh
sesuatu hal yang aku lihat. Suatu ketika ayah pulang dari kerjanya membawa
sebungkus lauk untuk aku dan ibu. Girang aku menyambutnya, tapi tidak demikian
ibu. Ibu tiada bersahut pertanyaan-pertanyaan ayah yang agaknya sedang lelah.
Ibu memasakkan telur untuk makanku, dan lalu menyuapi nasi untukku, bungkusan
buah tangan ayah tak sedikitpun tersentuh ibu. Aku lihat ayah menawari Ibu yang
sama sekali tiada bersahut rupanya. Aku hanya dengan lahap makan, sampai habis
butir-butir nasi di atas piring mungil, bergegas aku keluar untuk bermain lagi.
Ya.. aku biasa bermain dengan bibiku, melancong ke ruangan sebelah untuk
sekadar berkumpul dengan kakek, nenekku. Sampai aku dengar jerit Ibu, dan turut
keras suara ayah bicara yang entah apa. Nenek segera mengambil tubuhku,
membawaku dalam dekapannya, sementara kakek beranjak menuju hampiri ayah dan
ibu. Aku tidak mengerti akan yang terjadi, saudaraku. Aku bahkan tak lagi
berani masuk ke ruangan untuk bersama ayah, dan ibu. Gelak tawa yang sedari
tadi ketika aku bersama kakek, nenek, dan bibiku tidak lagi sekarang. Nenek
hanya memintaku untuk segera tidur disisinya. Aneh sekali rasanya di dadaku,
saudaraku. Betapapun aku berusaha untuk tertidur, ini sangat menyulitkan.
Pagi hari semua bertingkah seolah tak
pernah terjadi apa semalam. Seperti biasa, ayah, dan ibu beranjak untuk bekerja
mencari rupiah, nenek sibuk memasak, kakek asyik mengurusi tanaman hiasnya. Aku
pun tak kalah mencari kesibukkan. Banyak barang bekas tak terpakai, aku senang
bermain dengan mereka. Aku rakit-rakitkan dengan seikat tali rafia, aku anggap
benda itu dalam imajinasiku ‘ogoh-ogoh’,
‘bade’, dan hal lain aku senangi.
Hari-hari
terus berjalan sebagaimana biasanya, sudah pun ayah dan ibu dalam tegur sapa
dan cengkerama. Aku cukup tau untuk melihat bagaimana komunikasi ibu dan ayah,
tapi belum cukup untuk mengerti sebab dan bagaimana bisa ayah dan ibu yang
saling berdiam kadangkala. Sampai umurku, saudaraku.. kini kesempatanku
berguru, aku akan memulai belajar untuk lebih mengerti sesuatu. Kini kesibukan
pagiku dengan seragam, aku disekolahkan di sebuah Taman Kanak-kanak. Disini aku
belajar tentang dunia luar, belajar dengan berteman, belajar dengan bermain,
yang aku tau aku di tempat ini untuk belajar, dan ternyata inilah belajar.
Dua
minggu sudah aku dengan seragam lalui pagi. Malam ini, aku berdiam saja dalam
ruangan bersama ibu, sampai larut malam ayah tiada pulang. Petang tadi ayah keluar,
tidak dengan seragam kerjanya, mungkin hendak berlancong sebentar. Tidak tau
mengapa ibu suram itu, tiada sedikitpun ibu menarik sudut bibirnya. Aku
terkantuk berbaring di tempat tidur. Sementara ibu terduduk dan sibuk sendiri
tiada melirikku. Berat mataku dan hampir tertidur, terdengar suara mengejutkan
dan membelalak mataku terbuka. Lemari mungil dI depanku dengan dibanting ibu
terbuka, seragamku... keras! Aku menangis dengan sekuat tenaga, aku ingin
sekeras-kerasnya, terus mengadu dalam tangisku, dengan suara terbata, napas
yang terisak “I-i-i..bu.. ke-ke-napa bakar se-seragam-ku, bu..!” segera nenek
datang dan menggapaiku, menangis aku dan terus mengadu dalam dekapannya, kakek
pun coba tenangkan aku, ditinggal ibu sendirian dalam ruangannya. Hanya
menangis yang bisa untuk kulakukan, saudaraku.. aku tak dapat untuk
mengungkapkan, aku belum cukup tau bagaimana bertanya untuk hal serumit itu.
Yang tak dapat untuk aku tanyakan, “apa salahku, ibu? tidakkah boleh aku
mengerti? Aku ingin belajar untuk mengerti, tiadakah ibu ijinkan? Mengapa ibu?
perlukah aku tanya ayah? Lalu mengapa ayah?”
Agung Sri Nandini, SMA N 1 Bangli
By:
Anak Agung Sri Nandini
On 17.38
Langganan:
Postingan (Atom)
