Jaman sudah modern. Tidak ada bedanya lagi anak keturunan raja, brahmana ataupun rakyat jelata. Yang berbeda kini orang kaya atau orang miskin. Dahulu bangsa Sudra harus "meletakkan" bangsa Ksatria dan Brahmana di atas kepala mereka. Keto kone.. tapi konsep yang diterapkan dahulu itupun sesungguhnya bukan begitu. Bicara soal "kasta" di Bali. Bukan, sesungguhnya bukan "kasta". Ajaran "kasta" tidak ada dalam sastra Hindu, sesungguhnya yang ada hanya wangsa dan warna. "Kasta" hanya salah tafsir masyarakat Hindu di Bali pada jaman dahulu. Kedudukan Brahmana, Raja, Weisya, dan rakyat jelata diurutkan secara vertikal, padahal sesungguhnya semuanya memiliki kedudukan yang horizontal. Tidak ada yang lebih tinggi, juga tidak ada yang lebih rendah atau lebih nista. Saat ini tidak berlaku lagi "kasta", iya memang seharusnya begitu dari dulu. Jika seseorang bekerja di bidang pendidikan dan seni maka ia Brahmana, yang bekerja di bidang pemerintahan ialah Ksatria, yang melakukan pekerjaan pedagang ialah Weisya, dan yang membantu pekerjaan-pekerjaan itu ialah Sudra. Demikian jika ada Anak Agung, Gusti, Ida Bagus, Cokorda, Dewa, hanya nama yang menunjukkan berasal dari keturunan mana, tetapi tetap saja kedudukan kita semua sama. Jadi.. dadi me-cang/cai? (bicara kasar/menggunakan basa kapara). Tidak, bukan begitu. Sebaliknya mereka dari wangsa Ksatria dan Brahmana bolehkah bicara kasar pada wangsa yang "dianggap" berkedudukan dibawahnya? tidak! lebih salah lagi.
Mungkin banyak orang *maaf* sudra yang menganggap tidak adil adanya kedudukan-kedudukan, lalu memilih melupakan dan menghapus konsep tersebut. Sekali lagi, jaman sudah modern, dan memang seharusnya tidak ada konsep "kasta", jangan gunakan lagi! Tetapi, ini bukan ajang balas dendam. Bukan berarti kita lupa diri, beberapa orang justru menjadi campah, mulai bicara dan berbuat asal-asalan. Jika kita bisa belajar lebih bijak, konsep itu memberi pelajaran bagi kita semua untuk saling menghargai dan menunjukkan bahwa kita semua saling membutuhkan satu sama lain.
Sebaliknya tidak sedikit juga orang dari keturunan Brahmana dan Ksatria yang merasa berkedudukan tinggi, dan tak mau meninggalkan konsep yang "keliru" itu. Tidak seharusnya kita menunjukkan nama dan kedudukan kita, apalagi yang di era ini sudah tidak berlaku. Jika ingin maka tunjukkanlah sikap yang menggambarkan kebijaksanaan, wibawa sehingga kita dapat dihargai, dan tentunya kita harus selalu menghargai orang lain tanpa melihat orang berasal dari keturunan mana. Justru jika merasa sebagai orang yang "berkulit" harusnya kita lebih menjaga nilai, karena apabila kita melakukan kesalahan kecil saja, nilai yang berkurang dalam diri akan jauh lebih besar.
Sebagai orang Bali, saudara seumat Hindu, kita harus menyatukan persepsi. Mari berbuat saling menghargai, dengan bijak menerima ajaran leluhur yang telah diturunkan sampai kini, jangan justru saling menjelekkan, sama saja mencoret muka sendiri. Tulisan ini hanya sebagai klarifikasi apabila ada yang salah tafsir tentang konsep warna dan wangsa. Terima kasih sudah berkunjung ^^
Minggu, 06 Maret 2016
Perempuan Menanti Pagi
Selamat datang mentari
Pagi telah kembali
Aku belum pernah semangat ini
Beranjak dari mimpi, lalu...
Mengingatmu sepanjang hari
Selamat pagi kekasih
Hari telah berganti
Baru saja kau hadir dalam mimpi
Kini dalam hidup
Pun aku selalu merindu
Sudahkah kau jatuh cinta padaku pagi ini?
Pada suatu pagi yang selalu kunanti
Kau kan katakan tanpa kutanyakan lagi
Hingga kini ku masih hanya bermimpi
Aku, perempuan menanti pagi
Pagi telah kembali
Aku belum pernah semangat ini
Beranjak dari mimpi, lalu...
Mengingatmu sepanjang hari
Selamat pagi kekasih
Hari telah berganti
Baru saja kau hadir dalam mimpi
Kini dalam hidup
Pun aku selalu merindu
Sudahkah kau jatuh cinta padaku pagi ini?
Pada suatu pagi yang selalu kunanti
Kau kan katakan tanpa kutanyakan lagi
Hingga kini ku masih hanya bermimpi
Aku, perempuan menanti pagi
By:
Anak Agung Sri Nandini
On 21.13
Rabu, 03 Februari 2016
Monolog Kisah Bung Karno
oke.. sebenernya monolog ini gua tulis udah lama banget gengs.. waktu itu gua dipanggil sama guru Bahasa Indonesia gua, jadi ceritanya gua diminta buat tampil teater monolog di acara peringatan kelahiran Bung Karno. Saat itu gua gak langsung nyanggupin, alnya sebenernya gue ikut paduan suara di acara yang sama juga. 2 hari sebelum acara gua dipanggil lagi, dan ternyata guru padus gua juga yang nyaranin gua buat ikutan teater monolog itu, so gua mesti nulis monolog Bung Karno. semaleman gua streaming youtube nyari kisah Bung Karno buat refrensi nulis.. dan akhirnya jengjeengg... ini dia monolog tentang kisah Bung Karno, semoga kalian suka yeah...
Syukur: Bangun
Saudaraku
Halo, saudaraku semua!
Hayyy….. Oiiiiiyyy, saudaraku..!! Hay kamu semua, tidak ada hendak menyahut
aku? Bah aduhh, gawat! Kemana kamu semua saudaraku, sudah bangun kamu sudah
bangun? Hehehehe… aku cuma hendak cerita, eee mau dengar? Mau? Aduh dari mana
ya? (bertingkah seperti orang gila)
Eeee,,, sssttt,
sekarang dengar! Saya serius… Semalam, hihi(sok malu) saya mimpi
(mesem-mesem)... Ayah belikan aku sepeda baru, (hihihiihi).. Ada belnya,
kring-kring, kring-kring.... (langsung muka sedih) tapii.. aku baru kendarai
sampai timur sana, aduuuhh.. aku bangun, kepalaku… tidak sakit, aduuhh
pinggang.. tidak juga… Oh, mimpi rupanya.
Ahhh, syukur aku… tidak
sungguh-sungguh jatuh. Tidak pinggangku, tidak kepalaku, hahaha, tidak ada yang
sakit! Kamu ada mimpi semalam? Jatuh juga? Sakit? Ahhh… syukur kamu! Setidaknya
kamu bangun, lagi dalam kamar.. Coba kamu bayangkan, kalau bangun di bui?
Bagaimana? Aaaahhh, aduuhhh… anak muda!
Kalau sudah begini..
aku ingat pada Bapak Proklamasiku.. Bung Karno.. Dulu,.. waktu beliau dibui, di
Suka Miskin, di Bandung.
"Rambutku dipotong
hampir gundul, dimilimeter dalam bahasa Belandanya. Hampir segala apa yang saya
bawa dari rumah tahanan (penjara Banceuy, Kota Bandung)--semuanya diambil
(petugas)," Aku Bung Karno.
"Mandi yang
lamanya ditentukan enam menit. Makan, makan nasi merah dengan sambal yang
sederhana," "Pukul sembilan (malam) cahaya (kamar) mesti digelapkan
dengan tidak dapat disangkal lagi. Hari ini sudah bekerja dan besoknya bekerja
keras lagi, saya mesti lekas tidur."
Aduuhh, coba kamu, aku
begitu.. tak tahan sakit pinggang itu…. Tapi.. Bung Karno tidak pernah lepas
dari prinsipnya. Yang ia tau, selepas Suka Miskin, perjuangan berlanjut! Itu…
Kepada isteriku..dia
boleh datang melihat dan berbicara dengan saya dua kali dalam sebulan serta
tidak boleh membawa 'oleh-oleh' untukku. Berapakah lamanya (membesuk), cuma
sepuluh menit," melalui sepucuk surat pada istrinya, Bung Karno
mengabarkan telah dipindahkan dari rumah tahanan Banceui ke Suka Miskin.
Aku gelisah. Sebelahku,
tetangga bilik ketjil ini para koruptor, oknum pejabat bule semua, mereka
bicara cuma masalah makan, cuaca, semua yang tidak penting. Tidak ada lawan aku
bicara perjuangkan merdeka. Aku tidak dapat membaca berita Koran, tak tau kabar
kawan-kawan berjuangku disana.
Ah istriku, Nggitku
datang, Nggitku datang.. dia bawa telur? Ya itu dia!
Asin, iya asin, oh
tidak apa yang sedang terjadi. Sepuluh menit punyaku yang selalu berharga,
rasanya sia-sia saja. Tidak ada gunanya, setauku kabar buruk. 10 menit menjadi
tidak ada gunanya. Para polisi Belanda ini, sial! Aku tidak dapat kesempatan..
Aku habiskan sepuluh
menit untuk mendengar suara matanya. Matanya yang sayu itu, oh sudah lama aku
tidak mengecupnya.. mata itu bicara padaku. Setauku bukan berita baik,
sebagaimana kabar dari telur asin itu. Oh aku ingin tau apa yang terjadi.
Kamu tau? Telur asin!
Ahahaha… Iya telur asin, sekarang kamu sudah punya telepon. Kamu merdeka
tentang mau bilang apa, tidak Bung Karno tempo itu. Sudah aku bilang, kan?
Bersyukurlah kamu…
Lagi 10 hari Nggitku
datang lagi, aku tidak tahan melihat wajahnya yang lesu itu, badannya kering
kerontang “Mas, ingatlah hari ini tanggal 24 April”. Begitu ujarnya padaku,
lalu al-Qur’an ia gapai dari balik kain sarinya, untukku hari itu. 10 menit itu
lagi memikirkan, tentang apa yang diungkap istriku ini. Ya.. Surat keempat di
halaman 24. Huruf apa yang dibawakan istriku hari ini.
Aahh… aku hampir putus
asa, sampai istriku bisa berkabar, aku sudah berjanji. Dan satu-satunya yang
aku tau.. Setalah aku bebas, perjuangan berlanjut!
Kamuu,. Saudaraku
semua. Bangunlah bangun, kamu ini sudah merdeka kok ya begini? Ingatlah, apa
yang dipesankan Bung Karno “Kita bangsa besar, kita bukan bangsa tempe. Kita
tidak akan mengemis, kita tidak akan minta-minta apalagi jika bantuan-bantuan
itu diembel-embeli dengan syarat ini syarat itu ! Lebih baik makan gaplek
tetapi merdeka, dari pada makan bestik tetapi budak.”
Kamu, anak muda,
kawanku semua.. kamu punya kekuatan besar, Bung Karno pernah mengatakan, bahwa
ia percaya kemampuan kita pemuda. “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan
kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan
dunia”
Aku, kamu semua
kawanku.. harus memiliki kita sebagai Bangsa Indonesia. Penerus yang
berkualitas, itu kita.. karena Bung Karno pernah berkata “Perjuanganku lebih
mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena
melawan bangsamu sendiri.”
Artinya kawan, di
pundak kita punya tanggung jawab lebih besar, jadi bergegaslah. Loncat dari
tempat tidurmu, dahului Sang Surya, Goncang dunia, tunjukkan kita, Bangsa
Indonesia!
***
jadi gimana menurut kalian guys? kebayang ga, waktu gua tampil ini, gua akting kayak orang gila, ngomong sendiri ga jelas. Anak-anak pada ketawa nontonin gua, tapi guys.. buat elo-elo yang suka nulis, jangan cuma nulis, ayo ekspresiin. Lo wajib tau sensasinya, xixixixi
By:
Anak Agung Sri Nandini
On 03.06
Dialog Berbentuk Teks “Anekdot Hukum Peradilan”
Keluarga Pemilik: “Yang Mulia
hakim, saya tidak terima keluarga saya kehilangan pedati beserta kuda dan
dagangan di dalamnya karena jembatan yang dilalui roboh. Pembuat jembatan itu
harus dihukum.”
Yang Mulia Hakim: “ya, benar.
Baiklah kalau begitu, aku akan memanggil si tukang pembuat jembatan itu untuk
datang ke persidangan ini sekarang!” (yang mulia hakim menoleh ke para
pengawal) “hai pengawal, panggil si tukang pembuat jembatan kemari!”
Pembuat Jembatan: “Yang Mulia
Hakim, apa kesalahan saya sehingga saya dipanggil ke persidangan?”
Yang Mulia Hakim: “Kesalahanmu
sangat besar, karena kamu telah membuat jembatan dengan kayu yang jelek dan
rapuh sehingga seseorang harus kehilangan kuda, pedati, dan dagangannya karena
jembatan yang kau buat telah roboh.
Pembuat Jembatan: “Jika itu
permasalahannya, tidak seharusnya Yang Mulia menyalahkan saya. Yang salah
adalah si tukang kayu. Dialah yang membawakan kayu untuk saya buat menjadi
jembatan.
Yang Mulia Hakim: “Benar juga apa
yang pembuat jembatan katakan.” (memanggil pengawal) “hai pengawal, bawa si
tukang kayu kemari untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya!”
Tukang Kayu: “Yang Mulia Hakim, apa
kesalahan saya sehingga saya dipanggil ke persidangan?”
Yang Mulia Hakim: “Kesalahanmu
sangat besar, karena kamu telah membawa kayu yang jelek dan rapuh untuk
digunakan sebagai bahan jembatan oleh pembuat jembatan. Seseorang telah
kehilangan pedati, kuda, dan dagangannya karena jembatan itu roboh.”
Tukang Kayu: “Kalau itu
permasalahannya, Yang Mulia tidak sepantasnya menyalahkan saya. Yang salah
adalah penjual kayu. Dialah yang menjual kayu jelek dan rapuh itu kepada saya.”
Yang Mulia Hakim: “benar juga yang
dikatakan penjual kayu” (memanggil pengawal) “Hai pengawal, bawa penjual kayu
kemari untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya!”
Penjual Kayu: “Yang Mulia Hakim,
apa kesalahan saya sehingga saya dipanggil ke persidangan ini?”
Yang Mulia Hakim: “Kesalahanmu
sangat besar, karena kamu telah menjual kayu yang jelek dan rapuh kepada tukang
kayu, seseorang harus kehilangan kuda, pedati, dan dagangannya akibat jembatan
yang roboh.
Penjual Kayu: “Kalau itu
permasalahannya, tidak seharusnya Yang Mulia menyalahkan saya. Yang salah
adalah pembantu saya. Dialah yang menyediakan beragam jenis kayu untuk dijual.
Dialah yang memberi kayu jelek dan rapuh kepada si tukang kayu itu.”
Yang Mulia Hakim: “Benar juga yang
dikatakan penjual kayu” (memanggil pengawal) “hai pengawal, bawa pembantu
penjual kayu ini kemari, dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.”
Pembantu Tinggi dan Besar: “Yang
Mulia Hakim, apa kesalahan saya sehingga saya dipanggil ke persidangan ini?”
Yang Mulia Hakim: “Kesalahanmu
sangat besar, karena kamu telah menyediakan kayu yang rapuh dan jelek untuk
dijual kepada tukang kayu yang kemudian digunakan untuk membuat jembatan.
Sekarang jembatan itu roboh dan menyebabkan seseorang kehilangan kuda, pedati,
dan dagangannya yang jatuh ke sungai.”
Pembantu Tinggi dan Besar: “Tapi
yang mulia..” (kehabisan kata-kata untuk mencari alasan)
Yang Mulia Hakim: “Hai pengawal,
penjarakan orang ini dan sita uangnya!”
Pengawal: “Ampun Yang Mulia, sangat
sulit memenjarakan pembantu penjual kayu itu. Badannya terlalu tinggi dan
besar, penjara yang kita punya terlalu sempit untuk orang ini. Dia juga tidak
punya uang untuk disita, Yang Mulia.”
Yang Mulia Hakim: “Kamu bego amat!
Gunakan dong akalmu, cari pembantu si penjual kayu yang pendek kurus dan punya
uang!”
Pembantu Pendek dan Kurus: “Yang
Mulia Hakim, apa kesalahan saya sehingga saya harus dipenjarakan?”
Yang Mulia Hakim: “Kesalahanmu
adalah pendek, kurus, dan punya uang!” (berpaling memandang seluruh masyarakat
dan bertanya) “Saudara-saudara, apakah hukuman penjara untuk pembantu pendek,
kurus, dan punya uang tadi adil?”
Masyarakat: “Sangat Adil, Yang
Mulia Hakim.”
Narasi Teks “Anekdot
Hukum Peradilan”
Seorang
kerabat si Tukang Pedati mengadukan seorang pembuat jembatan kepada Yang Mulia
Hakim karena jembatan yang dibuatnya runtuh dan menyebabkan si Tukang Pedati
terjatuh ke sungai dan kehilangan kuda, pedati beserta barang dagangannya. Si
Pembuat Jembatan disalahkan karena kayu untuk bahan jembatan itu tidak kuat dan
menyebabkan jembatan runtuh.
Si
Pembuat jembatan tidak terima atas tuduhan yang ditujukan kepadanya. Ia membela
diri dengan menimpakan kesalahannya kepada Tukang Kayu yang telah membawa kayu
yang jelek dan rapuh untuknya.
Si
Tukang Kayu dipanggil ke persidangan. Seperti halnya si Pembuat Jembatan,
Tukang Kayu pun tidak terima atas tuduhan yang ditujukan kepadanya. Dia
menimpakan kesalahannya pada Penjual Kayu yang telah menjual kayu rapuh dan
jelek itu pada dirinya.
Penjual
Kayu pun dipanggil ke persidangan. Dengan cepat penjual kayu menolak tuduhan
yang ditujukan padanya. Penjual kayu punya alasan, bahwa yang salah adalah
pembantunya yang menyediakan kayu rapuh dan jelek itu untuk dijual kepada
Tukang Kayu.
Yang
Mulia Hakim pun memanggil seorang pembantu si Penjual Kayu. Pembantu Penjual
Kayu tidak dapat memberikan alasan apapun, akhirnya hakim memutuskan untuk
menghukumnya dengan memenjarakan dan menyita semua uang yang dimiliki oleh si
Pembantu.
Berselang
beberapa menit, pengawal kembali menghadap Yang Mulia Hakim. Ternyata pengawal
itu ingin mengadukan kepada Yang Mulia Hakim bahwa mereka kesulitan memenjarakan
pembantu itu. Yang Mulia Hakim menanyakan kenapa pengawal tidak bisa
memenjarakan pembantu itu, para pengawal pun memberikan alasan. Badan pembantu
itu tinggi dan besar sementara penjaranya sangat sempit dan tidak cukup untuk
pembantu itu, selain itu tidak ada yang bisa disita dari pembantu itu karena ia
tidak punya uang sepeserpun.
Yang
Mulia Hakim marah besar, ia pun memerintahkan pengawal untuk mencari pembantu
penjual kayu yang pendek, kurus, dan punya uang. Para Pengawal pun beranjak
mencari pembantu penjual kayu yang pendek, kurus, dan punya uang. Sungguh
malang nasib pembantu kurus, pendek dan punya uang, ia harus dipenjarakan dan
semua uangnya disita oleh kerajaan.
Setelah
keputusan persidangan itu ditetapkan bahwa hukuman penjara dijatuhkan pada
pembantu penjual kayu yang kurus, pendek dan punya uang. Yang Mulia Hakim
menanyakan pada seluruh masyarakat yang hadir apakah keputusan yang telah
diambil itu adil, dan seluruh masyarakat sepakat bahwa keputusan itu sangat
adil.
By:
Anak Agung Sri Nandini
On 02.34
Monolog Rintih Hati Saraswati
Aku
benar-benar iba saudaraku. Kepada siapa lagi, kalau bukan padaku sendiri. Aku
marah, aku terluka pada siapa lagi? Pada takdirku sendiri, saudaraku. Aku tidak
marah padamu, dan engkau semua yang berbicara tanpa bisa kumengerti. Aku tidak
benci padamu dan engkau semua yang hidup dalam irama dan nada. Tapi aku harus
mengakui, aku iri. Ia aku iri padamu saudaraku, mengapa kau bisa mendengar apa
yang tidak kudengar? Mengapa kau bisa ungkapkan dengan cara yang aku tak bisa?
Tapi
ibu bilang, aku harus mensyukurinya saudaraku. Dalam isyaratnya ibu bilang, aku
beruntung, ibu bilang aku punya segalanya. Aku bahagia, ia aku bahagia. Aku
punya ayah, 2 kakak, 2 adik yang semuanya menyayangiku. Ia aku mensyukurinya, dan
aku bahagia. Aku bahagia sampai aku menyadari semua kebohongan itu. Ibu berbohong,
aku sendiri, aku sebatang kara.
Sejak
paman pulang ke rumah kamis sore, aku selalu ingin itu hanya mimpi dan berherap
akan segera bangun. Tapi iya.. aku tidak pernah tidur dan bermimpi akan hal
itu, memang demikian adanya. Aku tidak pernah mengerti apa yang dibicarakan
pamanku itu. Sementara aku benar-benar ingin tau kemana perginya ayah, ibu,
kakak, dan adikku. Aku menunggu paman bicara, dan memasang mata baik-baik. Raut
mukanya pucat pasi, tetapi nampak ia tidak sedang sakit. Lalu bibi yang selama
ini menemaniku di rumah duduk dekatku, air matanya tumpah ruah tak keruan, aku
menatapnya penuh heran. Paman datang bersama istrinya, merekapun merangkulku
mesra, tak biasanya kali ini seperti menjaga berlian yang rapuh. Paman lalu
memulai bicara setelah sekian lama bungkam. Mulutnya bergerak-gerak mantap,
tangannya terus mengisyaratkan kata-kata. Tetapi sama sekali aku tak pahami.
Lalu…
Sebuah potret kami
sekeluarga. Ayah menggendong adikku terkecil. Si kecil menangis. Ibu sedang
membujuknya untuk menghadap ke depan, kakakku tertua duduk di spatbor mobil
sambil mengacungkan kedua tangan, kakakku yang muda menjulurkan kepala dari
jendela mobil seraya melambai. Adikku tertua berpegangan dengan ibu, aku
berdiri di tengah ayah dan ibu seraya mengagumi kebahagiaan kami saat itu.
Peragaan
paman menerangkan kejadian…
Peragaan Saraswati menangis..
Kenyataannya,
kini aku merasa sebatang kara. Iya memang.. Saudaraku, jika semua yang indah
hanya dalam mimpi, aku selalu berharap tidur selamanya.
Ketika
paman membawaku ke Bandung, tinggal bersama keluarganya. Mereka punya dua
putra. Setelah kukenali merekalah Busra dan Bisri. Busra terlihat lebih pendiam
namun sesungguhnya ramah, sebaliknya Bisri adiknya lebih lincah dan jahil.
Bisri seumuran denganku. Hidupku semakin sunyi lagi, meskipun aku sesungguhnya
tak sebatang kara lagi di tempat baru ini. Kini keluargaku pun baru. Namun tak
merubah hidupku yang semakin hari semakin tersiksa. Aku terperangkap dalam
amarah yang tak bisa aku ungkapkan. Mengapa harus juga bisu. Setidaknya buatlah
aku bisa bicara, Tuhan…
Peragaan
adegan Busra membawakan kambing untuk Saraswati
Aku menerimanya. Tak
ada pilihan lain. Tiap kali aku membawa kambingku mencari rumput, aku sangat
tersiksa, aku bisa gila. Aku harus menahan diri, bersabar menghadapi tawa
anak-anak sekampung yang sepertinya mengataiku dengan segala sebutan. Tak
jarang melempari dengan kerikil-kerikil yang meskipun tak tajam menumbuk
permukaan kulitku. Tetapi cukup tajam untuk menyayat hati. Kau tau, saudaraku.
Aku tak tinggal seatap dengan mereka meski serumah. Mereka memberiku tempat di
kamar kecil di belakang rumah utama. Aku sendirian. Malam hari aku memikirkan
nasibku yang sungguh malang. Siapakah aku bagi mereka ini, begitu tega
menjadikan aku penggembala kambing, membiarkanku terhina setiap hari, merasa
terpuruk dan diasingkan di tempat tua belakang rumah. Apa yang mereka pikirkan.
Aku benar dalam amarah yang membara.
Harusnya aku tidak ikut
kemari. Harusnya aku tinggal di rumah bersama bibi di Jakarta. Aku ingin
pulang, sungguh. Aku lebih baik tidak punya saudara, tidak punya ayah, tidak
punya ibu ketimbang dirawat oleh orang-orang yang tidak menyayangiku. Aku lebih
baik mati dan membiarkan tubuhku membusuk ketimbang hidup dengan cara seperti
ini. Apa yang mereka inginkan dariku? Apakah mereka kira aku ini bodoh? Apakah
mereka kira gadis bisu tuli ini tidak punya perasaan? Mereka kira aku kebal
dicemooh dengan omongan. Aku memang tidak mendengar dengan telingaku, tapi
hatiku merasakannya. Seperti diiris-iris, dirobek-robek dan dihancurkan dengan
penuh gairah dengan cara yang membuat mereka senang.
Aku marah dan
benar-benar marah, apa-apaan semua ini? Sebut saja aku gila. Tapi bebaskan aku
dari semua hinaan ini. Sungguh aku tidak senang diperlakukan seperti ini.
Peragaan
adegan kemarahan Saraswati
Inilah hidupku
saudaraku.. begitu penuh dengan siksaan, kesengsaraan yang mendalam aku
rasakan. Maka aku selalu ingin menceritakan padamu semua tentang hidupku. Agar
setidaknya air mataku tak sendirian jatuh ke tanah.
Busra
menenangkan Saraswati
Setelah itu memang
benar, aku tak lagi menggembala kambing, kini aku menjadi gadis yang pingit.
Pekerjaanku meniup tungku di dapur, memanasi air, mengasapi daging. Ini baru sebagian
kecil dari hidupku yang penuh cobaan. Sampai keajaiban membuatku mampu
menceritakan semua padamu. Ketika aku mulai mendengar dengan telapak tangan dan
berbicara dengan isyarat juga huruf. Sebuah mula cubitan keras mengenalkanku
pada huruf A. dan cara-cara lain memperkenalkan pada huruf sisanya. Semua
seperti keajaiban.
By:
Anak Agung Sri Nandini
On 02.30
Sabtu, 30 Januari 2016
“Rindu, dan Sisa Bayang”
Suara genta memecah
keheningan, asap dupa menari-nari membumbung angkasa. Suasana amat khusuk sore
itu di pura. Seorang wanita tua duduk di barisan depan, di belakangnya para
pemudi duduk dengan membawa catatan kidung mereka. Tuniang Rai, begitu para
anak-anak dan remaja menyebut wanita itu. Ialah orang yang dituakan di desa,
atau juga disebut penglingsir desa.
Meskipun
Tuniang Rai sudah tua, keriput di wajahnya tak begitu kentara. Tubuhnya pun
masih tegap, kulitnya kencang. Selain itu ia masih sangat kuat, ia mampu
bersimpuh berjam-jam selama di pura, bahkan anak remaja saja tak mampu
melakukannya.
“Ida ratu...” seorang remaja putri mulai mengeluarkan suara
gemulainya membuka kidung untuk mengiringi suara genta, menambah suasana
khusuk. Remaja lainnya mulai mengikuti. Mungkin ini adalah pertama kalinya,
kidung dinyanyikan oleh para remaja. Biasanya kidung hanya dinyanyikan oleh
mereka yang sudah berpengalaman dalam Gita
Santi. Remaja-remaja ini rupanya telah berlatih setiap hari sabtu, dan
disepakati setiap rerahinan di pura,
mereka akan mekidung. Lain halnya
bila dalam upacara besar, barulah para penggelut Gita Santi yang mekidung
dengan tentunya dengan pengeras suara.
Suasana ini tidak
seperti biasanya, nyanyian kidung oleh remaja-remaja itu membuat bulu kuduk
merinding. Sesungguhnya bukan suara yang teramat merdu, namun niat yang tulus
dari para remaja putri itu. Nampak jelas di muka Tuniang Rai, haru yang amat
dalam, namun lebih dalam lagi, entah apa yang dirasakannya. Air matanya runtuh,
tangisnya sampai terisak. Memang mengharukan, para generasi muda ini melakukan
perubahan yang amat mengesankan, tapi lebih dalam dari itu Tuniang Rai
meluapkan tangis kerinduan. Hanya Tuniang Rai yang sampai menangis, mungkin
lainnya merasa heran, namun lebih dalam lagi semua mengerti.
Dalam hati Tuniang Rai
bicara “Jika aku bersujud, aku tinggalkan hasrat cintaku padamu, namun aku
sertakan doa selalu bersamamu. Kita berdampingan dalam sujud kita pada Tuhan,
dulu.. namun kini, jika bersujud yang kutinggalkan ialah rinduku padamu, lalu
aku sertakan doa agar kau dapat lebur dengan-Nya. Sujudku kini berdamping rindu
dan sisa bayangmu” Tuniang Rai begitu dalam rindunya, pada kekasih tercinta,
pujaan hatinya, suaminya. Betapa ia sangat merindukan, saat seorang laki-laki
duduk disampingnya, dengan destar
putih bersumpang kembang sepatu di kepalanya, penuh wibawa.
Air mata Tuniang Rai
berlinang, kidung dan suara genta dalam suasana yang khusuk itu mengingatkan ia
pada suaminya.
“Senangnya Gungkak mendengar
suara kalian..” Gungkak Rai menoleh kebelakang sambil tersenyum memuji para
remaja putri itu, cucunya-dalam khayalan Tuniang Rai-.
By:
Anak Agung Sri Nandini
On 07.28
Rindu Tak Bertuan
Hatinya terus saja cemas, dalam pikiran ia tak pernah
tenang. Bahkan bila pun senyumnya sumringah tiap bertemu pembeli yang
kebanyakan anak sekolah masih ABG. Sepulangnya dari jualan di kantin,
barangkali muka rindunya tak mampu lagi bersembunyi. Dalam bilik, semuanya
seolah bercerita. Baginya tak akan pernah ada ranjang yang lebih nyaman
dibanding ranjang berkasur kapuk miliknya itu. Atau selimut yang lebih hangat
dibanding selimut loreng tipis, sejak pernikahannya 10 tahun lalu.
Kecemadan dalam hatinya begitu kejam hingga tak pernah
membiarkan tuannya untuk tidur dan melepas lelah dengan tenang. Beranjak dari
ranjangnya, ia pergi ke halaman rumah menemui satu-satunya orang yang hidup
bersamanya, laki-laki yang ia cintai. "Apa yang kau lakukan?",
tanyanya. Gede masih saja dengan pekerjaannya, menata taman. Lagi-lagi Alit
menepuk pundak Gede dan bertanya dengan suara lebih keras "Apa yang kau
lalukan?". " Ah? aku sedang membuatkan pagar untuk taman ini",
sahut Gede dengan suara yang juga keras. Gede memang memiliki gangguan pada
pendengarannya, sebab itu Alit harus berbicara keras agar di dengar, sebaliknya
suara Gede juga keras. Meski dalam bicara mereka berdua bising, tak pernah
dalam rumah mereka merasa ramai. Mereka selalu kesepian.
***
"Ini cicipilah.."
"Lezat sekali"
"Hei aku juga mau"
"Ayolah kalian boleh ambil semua, makanlah yang banyak"
Kalimat-kalimat itu masih sangat jelas terekam dalam memori Alit.
"Aah, anak-anak manis" hatinya. "Sayur apa yang kau buat", suara
Gede memecah keheningan di tengah hari terik, "kangkung tumis, ayo
makanlah.. Aku juga siapkan telur ayam rebus untukmu". Sejenak ia keluar dari
bayangan masa lalu, memerhatikan suaminya tengah makan dengan lahap, ia kembali
teringat.
Anak-anak manis, dulu ketika mereka masih ABG, mereka amat
senang bermain di rumah mungil ini. Tempat yang amat menyenangkan bagi mereka,
juga nyaman untuk belajar kelompok. Sesekali mereka menginap.
"Bu Alit, apa tidak ada selimut lagi"
"Aah.. Kau pasti kedinginan, meski berdesakkan masih
dingin juga.. Gunakan kain ini"
"Hey aku juga mau, tidak ada lagi, bu Alit?"
"Tentu saja, ini gunakanlah. Ada yang mau lagi?"
"Aku..!"
Seperti melihat anak-anak itu penuh keceriaan, tapi itu
sudah terjadi, dan sudah bertahun-tahun berlalu. Alit hanya termangu, dari dapur
beranjak ke ruang tamu semakin sunyi bercerita. Meja, kursi, cermin, jam dinding,
vas bunga, seolah tak punya topik lain untuk dibicarakan. Mereka semua begitu
merindu. Alit tersenyum tipis, hidup dengan kerinduan, sungguh berat baginya.
Denting jam sangat jelas terdengar di telinganya, sedetik
pun amat terasa berat, hidup dalam bayang kebahagiaan. Iya.. Sungguh tak mampu
ia menyangkal, ia tak pernah merasakan bahagia yang sesungguhnya. Matanya
tertuju pada sebuah pintu kayu menuju bilik kecil. Tanpa ia sadari, tubuhnya
telah berdiri tepat di depan pintu itu, tangannya perlahan membuka pintu itu.
Bagai bermimpi. "Ah.. Rina, mengapa kau lari dari Ibu.." tak dapat
lagi dicegah, pipi Alit yang mulai mengeriput, basah oleh air mata.
"Aku tak pernah melahirkanmu, tapi tak bisakah kau
menjadi anakku?" tangis alit semakin terasa berat, air matanya terus
menetes. Ia tak pernah mampu untuk berhenti menyesali hidupnya, ia sungguh
merasa kesepian. "Sudah jangan menangis", Gede datang menerka air
mata Alit, istri tercintanya. "Kau tak perlu khawatir, Rina pasti akan
pulang kemari, mengertilah ia juga merindukkan ibu dan ayah kandungnya".
Setiap hari, Alit tak pernah lupa bahwa ia memang tidak bisa
memiliki anak, namun ia selalu rindu. Rindu itu tak bertuan, ia rindu anaknya,
tapi siapa anaknya? Entah apa yang mampu mengobati rindunya. Sekalipun bertemu
kembali dengan Rina, apalah artinya jika ia tak miliki?
"Katakan dia juga anak kita kan?" Gede bungkam.
By:
Anak Agung Sri Nandini
On 07.25
Langganan:
Postingan (Atom)






